#KetikaMenulis: Windy Ariestanty

Reading time: 4 – 7 minutes

Saya pertama kali bertemu dengan Windy Ariestanty pada tahun 2010, ketika GagasMedia mengajak saya untuk menulis di bawah naungannya. Kami berbincang soal ide-ide saya, dan akhirnya tercetus ide untuk menulis naskah yang dua tahun kemudian diterbitkan dengan judul DreamCatcher. Sejak saat itu, berdiskusi dengan Mbak Windy selalu menjadi kegiatan yang saya tunggu-tunggu, karena ia selalu mengajak saya untuk melangkah mundur dan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda–melihat segala sesuatunya dengan lebih “lengkap”. Begitu juga dengan tulisan-tulisannya, yang selalu membawa kita untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Anda telah menerbitkan sejumlah buku dan tulisan lepas. Karya mana yang menjadi favorit Anda sampai saat ini, dan mengapa?

ini pertanyaan yang sangat sulit untuk saya jawab. ibarat orangtua ditodong dengan pertanyaan anak mana yang paling disayanginya. jawaban saya tidak ada. saya menyukai semua proses menulis yang saya alami dalam melahirkan karya saya. setiap buku atau karya yang saya tulis mengajarkan hal yang berbeda-beda, tidak bisa dibandingkan. tema berbeda, kesulitan berbeda, proses pengendapan berbeda, bahkan proses editingnya pun berbeda.

tapi kalau ditanya buku mana yang memakan waktu paling lama saya kerjakan, maka jawabannya adalah memoar ibu robin lim, cnn hero 2011. saya menghabiskan waktu 2 tahun lebih untuk menyelesaikannya. ini kali kedua saya mengerjakan memoar dan tantangan pada buku memoar kedua saya ini, berbeda jauh dengan pada buku pertama yang bisa saya selesaikan dalam 3 bulan saja.

Boleh dibilang, Anda merupakan salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif, ditambah dengan pekerjaan sebagai editor. Kapan biasanya Anda menulis? Apakah Anda lebih senang menulis di pagi atau malam hari?
waktu favorit menulis saya adalah tengah malam dan pagi hari. tengah malam hingga pukul 3-4 pagi, lalu saya tidur, bangun, lari pagi, lalu melanjutkan menulis hingga pukul 8 atau 9 lalu berangkat ke kantor dan beraktivitas lainnya. namun, pada dasarnya saya bisa menulis kapan pun ketika dibutuhkan. bila sedang ‘on fire’, saya bisa menulis dua hari nonstop. berhenti hanya untuk mandi dan makan. lalu tidur sebentar, dan menulis lagi.

ini biasanya terjadi ketika dalam seminggu penuh saya kesulitan menemukan waktu untuk menulis karena kesibukan atau kelelahan atau kemalasan saya. maka pada sabtu-minggu saya akan masuk ke ‘dunia’ saya dan tinggal di sana selama 2 hari penuh. seolah menebus malam-malam sebelumnya yang tak digunakan untuk menulis.

kalau senin-jumat saya punya waktu menulis, maka sabtu-minggu adalah hari libur saya. saya akan bermain dan tak melakukan apa pun yang berkaitan dengan menulis.

Di mana Anda sering menulis?
di mana saja dan dalam kondisi apa saja. saya tak pernah punya tempat khusus untuk menulis. kalau sedang deadline–yang mana deadlinenya saya sendiri yang menentukan–saya bisa menulis di mana saja, tak peduli itu tempat ramai atau sepi.

kalau di tempat yang sangat ramai, saya biasanya menggunakan pelantang telinga (headset), tapi tidak dengan menyalakan musik. hanya untuk membangun jarak saja dan membuat fokus saja. kalau tempat sepi, biasanya tanpa pelantang telinga. kenapa tidak ada lagunya, karena pada dasarnya sambil menulis, telinga saya juga mencerap apa yang terjadi di sekitar. itu untuk melatih sensitivitas dan fokus saja.

bahkan, saya tidak punya meja kerja khusus di rumah ataupun di kantor karena saya lebih banyak berada di luar ruangan. meja kerja di kantor saya bersih tanpa ornamen atau pernak-pernik. hanya ada kalender yang berisi jadwal ini dan itu serta gelas minum. di rumah, saya hanya punya meja pangku untuk laptop. ini untuk memudahkan saya tidak terikat pada satu tempat yang saya anggap menyamankan saya untuk bekerja atau menulis.

Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis? Musik yang seperti apa?
kadang mendengar dan kadang tidak. kalau sedang di rumah, kadang saya mendengar. tapi kalau di tempat umum, pelantang telinga itu tidak mengeluarkan suara apa pun.

musik yang saya dengar sangat random. saya tidak punya musik khusus untuk menulis. saya bisa mendengarkan jazz, rock, grunge, sampai musikalisasi puisi. bahkan bisa sekadar mendengar rekaman suara alam saja.

tapi saya memang punya kecenderungan mendengarkan dan merespons lagu-lagu yang secara lirik kuat.

Bagaimana Anda biasanya menulis?
alat-alat yang saya gunakan antara lain laptop, losel, tablet, buku catatan, dan perekam suara. voice note bisa sangat membantu kalau ada ide muncul tapi nggak sempat nyatet atau nulisnya, tinggal rekam, nanti didengarin lagi dan dituliskan.

selain itu, saya menulis dengan kondisi bersih. bisa sudah mandi atau kalau tidak mandi, saya akan menggosok gigi saya berkali-kali (minimal 3 kali), mengganti pakaian saya, dan menulis. buat saya ini penting.

saya bisa juga terbangun dan langsung mencari laptop saya lalu menulis sampai saya merasa perlu berhenti. ketika berhenti ini, saya akan mandi atau menggosok gigi lebih dari sekali, mengganti baju, lalu lanjut menulis.

dari semua itu yang terpenting adalah menggosok gigi (minimal 3 kali dalam sekali pergi ke kamar mandi). begitu pun kalo lagi stuck, saya hanya perlu ke kamar mandi dan menggosok gigi lalu berdiam sebentar di wc. ;p

berkenaan dengan struktur kepenulisan, buat saya merumuskan premis itu penting. saya akan selalu berangkat dari premis, membuat outline, lalu mulai menulis.

buku yang saya buat tanpa menggunakan outline adalah kala-kali. itu bagian dari eksperimen proses menulis saya.


Our First Duet Trip to Singapore

Reading time: 2 – 4 minutes

Saya dan adik saya yang berusia 9 tahun, Fara, baru saja diundang untuk mengunjungi Hospital Land dan mengikuti kegiatan Doctor-for-a-Day di Mount Elizabeth Hospital Novena, Singapura. Ketika menerima undangan tersebut, tentu saja saya segera mengiyakan ajakan ini, mengingat saya belum pernah berkesempatan untuk mengajak adik saya jalan-jalan.

Di hari Minggu pagi, tepatnya tanggal 28 September, kami pun berkunjung ke Mount Elizabeth bersama sejumlah perwakilan media asal Indonesia. Sesampainya di sana, ruangan lobi rumah sakit sudah disulap menjadi Hospital Land, di mana anak-anak berusia 4 sampai 10 tahun bisa belajar tentang berbagai profesi yang mendukung kegiatan di rumah sakit. Ada permainan A-B-SEE di mana anak-anak bisa menjadi optometrist, Build A Body di mana peserta bisa belajar soal anatomi tubuh, section untuk menjadi pharmacist, maupun belajar soal radiologi. Permainan-permainan ini dilengkapi dengan alat-alat yang child-friendly dan penuh warna – seperti yang biasa kita lihat di KidZania (bahkan mungkin lebih seru, karena diselenggarakannya di rumah sakit betulan). Fara dan teman-teman seusianya pun begitu bersemangat untuk tahu lebih banyak soal profesi-profesi yang berhubungan soal medis.

DSC01182 copy

Setelah selesai “berkelana” di Hospital Land, kami pun diajak ke lantai dua di mana para peserta bisa mengikuti kegiatan Doctor-for-a-Day. Sebagai pengantar, saya hanya diperbolehkan untuk mengobservasi dari luar, tetapi para peserta bahkan diminta untuk mengenakan scrubs yang biasa dipakai para dokter ketika hendak mengoperasi pasien. Di kegiatan ini, Fara belajar banyak hal soal menjadi dokter, mulai dari bagaimana caranya menggendong bayi di nursing room, sampai mengobati luka bakar bagi orang yang habis menjadi korban kebakaran di emergency room (bayi dan korbannya sih tentunya bohong-bohongan, ya).

Seru banget, deh, pokoknya! Kebetulan, Fara memang bercita-cita untuk menjadi dokter — walaupun sejauh ini keinginannya memang menjadi dokter hewan. Ia jadi tambah semangat, apalagi setelah sepulang dari acaranya, semua peserta dibekali dengan sertifikat dan berbagai badge yang menunjukkan bahwa mereka telah lulus menjadi “dokter” di Mount Elizabeth Hospital. Sekembalinya ke Jakarta, Fara pun bisa “mengalami ulang” perjalannya di Singapura dengan memainkan aplikasi Doctor-for-a-Day yang dirilis oleh Mount Elizabeth Hospital. Konon kabarnya, versi Bahasa Indonesia-nya akan diluncurkan akhir tahun ini.

It’s been a one-of-a-kind trip with my youngest sister! How about you? Pernah jalan-jalan ke mana dengan kakak atau adik kamu?


#KetikaMenulis: Ollie

Reading time: 5 – 8 minutes

Aulia Halimatussadiah, or Ollie, is one of the most prolific writers I know. She has published 27 books (!), while at the same time managing a number of online businesses she established, such as an online bookstore called Kutukutubuku.com and a self-publishing platform called NulisBuku.com. In this #KetikaMenulis edition, I tried to pick her brains to know how she manages doing everything — without neglecting herself as a woman (she always puts on fashionable clothes and pretty make up!).

You have written a number of best-selling books. What is your favourite work to date, and why?

It’s hard to pick a ‘favorite child’, but I have to say my new book The Power in You is one of my favorites. It was born out of my concern on how young people in Indonesia, an important factor for Indonesia’s success in the future, has slowly losing trust in themselves. That’s why I wrote #ThePowerinYou to help them discover the infinite power within them. Happy to share my experience, tips and also written practices in the book to help you becoming your better self.

Having a number of businesses, while at the same time, being a prolific writer… When do you usually write? Are you a morning or night person?

I’m an after-nap person. But because I rarely nap during the day, I find morning is the best time and energy for me to write.

Where do you write?

SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC

I can write anywhere. I have a home office overlooking the window to my garden view, so it’s my favorite place to write. It’s filled with the sun, and I put things I love in the desk. From picture of me and my nephew, the lovely and positive messages from friends saying how awesome I am, a trophy for my achievement, positive energy stones like green jade and a motivational affirming words ‘I make things’ – everything to set the productive, loving and positive mood to help me focus with my writing goals.

Nonetheless, a solitude in coffee shop before a meeting or in my car during traffic is how I finished my books.

How do you write?

I write outline/concept first with pen and paper, just to let my brain easily give me information. Then, I will do some research on the internet until the information start repeating itself, then I know it’s time to write. If I’m on the road, I write with my tablet and sync it to my laptop so I can continue writing it on my laptop when I’m at home or available to write longer. I write with purpose and deadlines.

Do you listen to music while you write? What do you listen to while you write?
Not at all. I can’t write with music, especially music that I know and I can sing along lol. If I have to, subtle music on the background will do. I prefer classical or jazzy music.

How does your “writing day” typically look like? 
I usually wake up at 5 am and start writing reflection on My Miracle Journal, where I record miracles that happen in my life daily. I use pen and my own notebook for that. Then, I start opening the last chapter of my book on my laptop, read it to get connected, then read other writers’ books that are similar to my genre to get the feelings and mood. It is followed by developing a concept on what I should write next with pen and paper, research and browse the internet, occassionally update social media telling them I’m writing at the moment…and finally write it all. I don’t stop before I reach 8 to 10 pages. After I am finished, I will celebrate by eating delicious food because I’m starving and watching videos on YouTube.

Could you please share the whole process for you in “conceiving” a novel/book? From the outlining process to the finishing touch?
Only 3 points for me.

First, I must figure out why I want to write this book. This will be my purpose and will hold my motivation to keep writing and finishing the book.

Second, I will define the title, premise and outline for this book from a to z. I must know how this book will start, how this will evolve and how this will end. Finally, I’ll set the exact date as a deadline and set my daily writing target. If I plan to finish 100 pages book in 30 days then I have to write at least 4 pages a day.

Then, I’ll write religiously. On the deadline date, I will stop writing whether it’s perfect or not. Then send it to my first readers and personal editor. They will give all their feedbacks and I will start the process of rewriting. Then my editors will read again, edit it, and time for final draft to be approved. Once it’s approved, now on to another fun part: cover and layout design + marketing plan

If I self-publish my own writing at NulisBuku.com, I usually create the cover first before I even write anything :))


#KetikaMenulis adalah serial tulisan yang berisi wawancara dengan penulis-penulis terkemuka di Indonesia, mengupas bagaimana mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah tulisan, termasuk kebiasaan-kebiasaan para penulis ketika menulis. #KetikaMenulis diterbitkan setiap hari Kamis di alandakariza.com.  Ada nama penulis kamu kagumi dan inginnya bisa kita wawancarai? Cantumkan di kolom Komentar di bawah ya.


#KetikaMenulis: Ika Natassa

Reading time: 4 – 6 minutes

Ika Natassa is a novelist. If you have read her books, you might notice some similarity in settings: banks! Most of her heroines work in banks, including Andrea of A Very Yuppy Wedding and Keana of Antologi Rasa. Ika Natassa, unsurprisingly, works in a bank too, which makes her even more inspiring as she’s able to juggle between being a (very) productive novelist while still being on top of her banking career. I interviewed her to crack her genius in doing both.

Ika Natassa also established a startup called LitBox, which is Indonesia’s first literary box subscription service. You could subscribe to the service and receive books of their recommended readings every month.

You have published a number of best-selling novels and “Twitter literature”. What is your favourite work to date, and why?

I guess Antologi Rasa. I worked my ass off when I wrote that one, writing from first POV from multiple characters is no walking in the park, but I’m very pleased with the result, and I also love that the readers seem to receive the book very well too.

Embedded image permalink
Antologi Rasa Character Details, made by Ika Natassa

Having a full time job, while at the same time, being a prolific writer… When do you usually write? Are you a morning or night person?

I write whenever I can and whenever I feel like it, so I don’t set a specific schedule to write. My publisher understands my work habit. Hence, they never set any deadlines for me. They basically just say: “well, if you finish the book before this date, we can publish on this date”. Things like that. Sometimes I write after dinner, sometimes I write on Saturday morning. I don’t really have a preference, I just write whenever I feel like it.

Where do you write?

Embedded image permalink

Everywhere, but probably around 90 percent of the time, I do it at home. However, I don’t have a particular workspace to write. Often times, I write in my bedroom, on my bed, actually.

How do you write? What are the gadgets that you use? Music? 

My gears are mostly Apple. My first laptop was the MacBook white, with which I produced Divortiare (my second book). Then, the Titanium MacBook (with which I produced Antologi Rasa), and lately I’ve been using MacBook Air. Sometimes when I got an idea while I was in the car, I would jot them down with iPad and send it via email to myself so I can incorporate it later with the draft in the laptop. I also use legal pad and pen to write whenever I don’t have my gadget with me.

Furthermore, I do listen to music when I write. I have a playlist for each novel.

How does your “writing day” typically look like?

When I write on weekdays: I went home from work, had dinner, then write from 8ish to probably 9.30ish. I prefer not to write too late because I work better when I’m not too tired.

On weekends: I wake up at 7 (I’m an early riser), watch some TV, have breakfast, take a bath, then write from around 8.30ish til lunch. I go out for lunch, catch a movie or something, then start writing again in the afternoon.

Could you please share the whole process for you in ‘conceiving’ a novel?

I write spontaneously. Let’s say, I suddenly have an idea in the form of a premise for a story, or I have an idea to write a scene. I just write the first scene just like that, maybe the first 1-2 pages, and then I continue the story whenever I have more ideas. I never use outlines of any kind. I’m the kind of person who gets bored easily when I have found out how the story will turn out. I’d like to surprise myself too when I’m writing, so I just write what I know at the moment. Often when I started writing a paragraph, I didn’t know yet what’s the next paragraph is going to be, and that’s the beauty of it. I let the story flows as it is. I don’t plan scenes, plots, and endings, I just let where the story takes me. That way I feel more liberated. Outlines imprisoned me.


#KetikaMenulis adalah serial tulisan yang berisi wawancara dengan penulis-penulis terkemuka di Indonesia, mengupas bagaimana mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah tulisan, termasuk kebiasaan-kebiasaan para penulis ketika menulis. #KetikaMenulis diterbitkan setiap hari Kamis di alandakariza.com.  Ada nama penulis kamu kagumi dan inginnya bisa kita wawancarai? Cantumkan di kolom Komentar di bawah ya.