Dreamers Gathering 2014

Reading time: < 1 minute

Akhir tahun 2014 ini, saya (akhirnya) akan menerbitkan buku baru. Bukunya berupa sebuah memoar perjalanan yang berjudul “Travel Young”.

Kamu bisa menjadi salah satu pembaca pertama buku “Travel Young” ini dengan menghadiri acara Dreamers Gathering: Traveling Selagi Muda.

Acaranya akan diselenggarakan besok – hari Sabtu, 28 November 2014 di Promenade, Pejaten. Dengan biaya Rp75.000, kita bisa ngobrol-ngobrol soal melakukan perjalanan selagi muda, ditemani Mbak Windy Ariestanty juga. Selain itu, kamu juga akan mendapatkan buku “Travel Young” lebih dulu dibanding pembaca lainnya, dan mendapatkan merchandise “Travel Young”.

Segera daftarkan diri kamu ya!


Pampering Myself at SAMPAR

Reading time: 2 – 2 minutes

A couple of weeks ago, I was invited by SAMPAR to try their facial treatment in their flagship store in Kota Kasablanka. SAMPAR is a skin care product from Paris, which is specifically formulated for women living in urban areas. I was hesitant at first. I definitely am not a fan of facial treatments because most of them usually hurt, but then the Therapist advised that SAMPAR’s kind of facial treatment would not hurt at all. So I gave it a try!

I have a quite acne prone skin, especially when my face is not thoroughly cleansed or when I am having a PMS. I was recommended to try the Pure Perfection facial treatment, which usually treats acne prone skin well. Other than this treatment, SAMPAR also provides treatment for ageing skin and normal skin.

3SAMPAR outlet in Kota Kasablanka

11Facial treatment area

During the treatment, SAMPAR products were applied to my face, from the cleansing products to moisturising products.  It felt awesome because not only my face was treated, but also my neck and feet which got massaged by the Therapist. It was truly such a relaxing experience. What a great way to sum my day up after a long day at work.

SAMPAR’s facial treatment lasts for around 45 to 60 minutes, with costs ranging around from IDR 350,000 to IDR 450,000 based on the type of facial treatment you are referring to. For more information, go to their Instagram @sampar_ind and they will be happy to answer your questions about the treatments and products!


Berbagi Mimpi & Bersinergi

Reading time: 2 – 4 minutes

Apa yang hendak saya sampaikan di tulisan ini mungkin sudah pernah kamu dengar, tapi mungkin juga belum. Saya ingin bercerita soal suatu hari di bulan Januari 2009, di mana saya untuk pertama kalinya bercita-cita menyelenggarakan sebuah konferensi untuk anak muda Indonesia yang tidak dibatasi oleh topik, daerah, maupun cita-cita. Sebuah ajang di mana anak-anak muda dari Indonesia, apapun latar belakang dan impiannya, bisa berkumpul dan menyampaikan pendapat mereka, serta berkembang untuk membangun Indonesia agar bisa menjadi lebih baik. Saya pun mengajak sejumlah teman dekat untuk bekerjasama merancang konsep untuk kegiatan ini. Kami pun menamainya, Indonesian Youth Conference. 

Besok, tepatnya pada hari Sabtu, 8 November 2014, Indonesian Youth Conference akan diselenggarakan untuk kelima kalinya, dengan format yang masih sama dengan yang kami selenggarakan pertama kali di tahun 2010: Forum, di mana kami mengundang perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia untuk diberikan pelatihan tentang bagaimana membuat dan mengeksekusi sebuah proyek untuk menuntaskan masalah yang ada di komunitas mereka masing-masing; serta Festival, di mana kami menyajikan belasan forum diskusi dengan topik yang berbeda-beda di dalam satu hari, agar siapapun yang ingin membangun negeri ini bisa belajar dari pakarnya, tidak peduli apakah mereka tertarik pada bidang politik, seni, maupun kesehatan. Sebuah acara untuk semua.

Indonesian Youth Conference berawal dari sebuah impian sederhana. Impian, yang dengan indahnya, berhasil kami bagi ke begitu banyak orang. Dari sekitar 30 orang panitia di tahun 2010, saat ini telah ada ratusan, bahkan mungkin ribuan relawan yang pernah terlibat. Tidak mudah membagi suatu impian yang lahir di kepala seseorang untuk dijadikan milik bersama. Ternyata, melalui Indonesian Youth Conference, saya belajar bahwa hal itu bisa dilakukan. Memiliki konsistensi untuk menyelenggarakan suatu proyek tidak pernah menjadi suatu hal yang mudah, untuk itu saya menyampaikan rasa salut, hormat, dan terima kasih yang begitu besar kepada teman-teman yang sudah mencintai dan berkarya melalui Indonesian Youth Conference, jauh lebih kuat dari yang saya bisa bayangkan.

Mimpi ini lahir ketika saya berusia 17 tahun. Hari ini, usia saya sudah 23 tahun, menuju ke 24 dalam waktu dekat. Dan di usia ini, ternyata saya masih punya kebanggaan yang sama, bahwa saya dan teman-teman menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk Indonesian Youth Conference setiap tahunnya, di mana kita bisa berjumpa dengan anak muda dari Sabang sampai Merauke. Kebanyakan dari mereka, memiliki visi yang sama: untuk bergerak dan bersinergi menuju Indonesia yang lebih baik.

Kami tidak pernah tahu apakah tahun depan Indonesian Youth Conference masih akan diselenggarakan. Inginnya iya, tapi mungkin juga tidak. Untuk itu, saya berharap kamu bisa menghadiri Festival Indonesian Youth Conference tahun ini. Sabtu, 8 November 2014 di Upper Room, Wisma Nusantara, Jakarta. Saya ingin berbagi impian ini dengan kamu. Saya harap, ini tidak akan menjadi kali terakhir.

Sampai ketemu, dan semoga kita bisa bersinergi.


#KetikaMenulis: Windy Ariestanty

Reading time: 4 – 7 minutes

Saya pertama kali bertemu dengan Windy Ariestanty pada tahun 2010, ketika GagasMedia mengajak saya untuk menulis di bawah naungannya. Kami berbincang soal ide-ide saya, dan akhirnya tercetus ide untuk menulis naskah yang dua tahun kemudian diterbitkan dengan judul DreamCatcher. Sejak saat itu, berdiskusi dengan Mbak Windy selalu menjadi kegiatan yang saya tunggu-tunggu, karena ia selalu mengajak saya untuk melangkah mundur dan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda–melihat segala sesuatunya dengan lebih “lengkap”. Begitu juga dengan tulisan-tulisannya, yang selalu membawa kita untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Anda telah menerbitkan sejumlah buku dan tulisan lepas. Karya mana yang menjadi favorit Anda sampai saat ini, dan mengapa?

ini pertanyaan yang sangat sulit untuk saya jawab. ibarat orangtua ditodong dengan pertanyaan anak mana yang paling disayanginya. jawaban saya tidak ada. saya menyukai semua proses menulis yang saya alami dalam melahirkan karya saya. setiap buku atau karya yang saya tulis mengajarkan hal yang berbeda-beda, tidak bisa dibandingkan. tema berbeda, kesulitan berbeda, proses pengendapan berbeda, bahkan proses editingnya pun berbeda.

tapi kalau ditanya buku mana yang memakan waktu paling lama saya kerjakan, maka jawabannya adalah memoar ibu robin lim, cnn hero 2011. saya menghabiskan waktu 2 tahun lebih untuk menyelesaikannya. ini kali kedua saya mengerjakan memoar dan tantangan pada buku memoar kedua saya ini, berbeda jauh dengan pada buku pertama yang bisa saya selesaikan dalam 3 bulan saja.

Boleh dibilang, Anda merupakan salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif, ditambah dengan pekerjaan sebagai editor. Kapan biasanya Anda menulis? Apakah Anda lebih senang menulis di pagi atau malam hari?
waktu favorit menulis saya adalah tengah malam dan pagi hari. tengah malam hingga pukul 3-4 pagi, lalu saya tidur, bangun, lari pagi, lalu melanjutkan menulis hingga pukul 8 atau 9 lalu berangkat ke kantor dan beraktivitas lainnya. namun, pada dasarnya saya bisa menulis kapan pun ketika dibutuhkan. bila sedang ‘on fire’, saya bisa menulis dua hari nonstop. berhenti hanya untuk mandi dan makan. lalu tidur sebentar, dan menulis lagi.

ini biasanya terjadi ketika dalam seminggu penuh saya kesulitan menemukan waktu untuk menulis karena kesibukan atau kelelahan atau kemalasan saya. maka pada sabtu-minggu saya akan masuk ke ‘dunia’ saya dan tinggal di sana selama 2 hari penuh. seolah menebus malam-malam sebelumnya yang tak digunakan untuk menulis.

kalau senin-jumat saya punya waktu menulis, maka sabtu-minggu adalah hari libur saya. saya akan bermain dan tak melakukan apa pun yang berkaitan dengan menulis.

Di mana Anda sering menulis?
di mana saja dan dalam kondisi apa saja. saya tak pernah punya tempat khusus untuk menulis. kalau sedang deadline–yang mana deadlinenya saya sendiri yang menentukan–saya bisa menulis di mana saja, tak peduli itu tempat ramai atau sepi.

kalau di tempat yang sangat ramai, saya biasanya menggunakan pelantang telinga (headset), tapi tidak dengan menyalakan musik. hanya untuk membangun jarak saja dan membuat fokus saja. kalau tempat sepi, biasanya tanpa pelantang telinga. kenapa tidak ada lagunya, karena pada dasarnya sambil menulis, telinga saya juga mencerap apa yang terjadi di sekitar. itu untuk melatih sensitivitas dan fokus saja.

bahkan, saya tidak punya meja kerja khusus di rumah ataupun di kantor karena saya lebih banyak berada di luar ruangan. meja kerja di kantor saya bersih tanpa ornamen atau pernak-pernik. hanya ada kalender yang berisi jadwal ini dan itu serta gelas minum. di rumah, saya hanya punya meja pangku untuk laptop. ini untuk memudahkan saya tidak terikat pada satu tempat yang saya anggap menyamankan saya untuk bekerja atau menulis.

Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis? Musik yang seperti apa?
kadang mendengar dan kadang tidak. kalau sedang di rumah, kadang saya mendengar. tapi kalau di tempat umum, pelantang telinga itu tidak mengeluarkan suara apa pun.

musik yang saya dengar sangat random. saya tidak punya musik khusus untuk menulis. saya bisa mendengarkan jazz, rock, grunge, sampai musikalisasi puisi. bahkan bisa sekadar mendengar rekaman suara alam saja.

tapi saya memang punya kecenderungan mendengarkan dan merespons lagu-lagu yang secara lirik kuat.

Bagaimana Anda biasanya menulis?
alat-alat yang saya gunakan antara lain laptop, losel, tablet, buku catatan, dan perekam suara. voice note bisa sangat membantu kalau ada ide muncul tapi nggak sempat nyatet atau nulisnya, tinggal rekam, nanti didengarin lagi dan dituliskan.

selain itu, saya menulis dengan kondisi bersih. bisa sudah mandi atau kalau tidak mandi, saya akan menggosok gigi saya berkali-kali (minimal 3 kali), mengganti pakaian saya, dan menulis. buat saya ini penting.

saya bisa juga terbangun dan langsung mencari laptop saya lalu menulis sampai saya merasa perlu berhenti. ketika berhenti ini, saya akan mandi atau menggosok gigi lebih dari sekali, mengganti baju, lalu lanjut menulis.

dari semua itu yang terpenting adalah menggosok gigi (minimal 3 kali dalam sekali pergi ke kamar mandi). begitu pun kalo lagi stuck, saya hanya perlu ke kamar mandi dan menggosok gigi lalu berdiam sebentar di wc. ;p

berkenaan dengan struktur kepenulisan, buat saya merumuskan premis itu penting. saya akan selalu berangkat dari premis, membuat outline, lalu mulai menulis.

buku yang saya buat tanpa menggunakan outline adalah kala-kali. itu bagian dari eksperimen proses menulis saya.