#KetikaMenulis: Salman Aristo

Reading time: 3 – 5 minutes

Saya pertama kali mengenal Mas Aris, panggilan akrab Salman Aristo, ketika terlibat pada pembuatan film Queen Bee di tahun 2009. Saya pun segera mencari tahu apa saja karya-karya beliau, dan sejak berkenalan, saya selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan film yang Mas Aris garap. Sebenarnya, tidak banyak film Indonesia yang berhasil memiliki kesan di hati setelah saya menontonnya. Namun, film-film besutan Mas Aris, baik sebagai produser, sutradara, maupun tentunya penulis, seperti Catatan Akhir Sekolah, Garuda Di Dadaku, Hari Untuk Amanda, dan tentunya Jakarta Hati, selalu menjadi film yang berkesan pagi saya. Dan mungkin juga bagi kamu.

Saat ini, Salman Aristo sedang menulis skenario biopic Mohammad Hatta.

Kamu juga bisa belajar secara langsung dengan Salman Aristo tentang bagaimana cara menulis skenario film dengan mendaftarkan diri di workshop Skenario Dasar (Film) yang diselenggarakan oleh PlotPoint.

Dari begitu banyak film yang telah Mas Aris buat dan skenarionya Mas Aris tulis, mana film yang menjadi favorit?

Sebenarnya, masing-masing skenario punya efeknya sendiri buat gue. Jadi, rasanya semuanya penting. Tapi, mungkin Laskar Pelangi memberikan impact yang luar biasa di luar film, karena film itu mengingatkan gue betapa cerita memang punya kekuatan luar biasa. Berikutnya Hari Untuk Amanda, Garuda Di Dadaku, dan Catatan Akhir Sekolah. Asyik menulisnya dan hasilnya juga tembus ekspektasi gue.

Bagaimana Mas Aris biasa menulis? Apakah ada waktu dan tempat yang lebih disukai untuk menyelesaikan sebuah tulisan?

DSC_0420

Gue melatih diri gue untuk bisa menulis kapan dan dimana saja karena gue mengawali karier menulis sembari disambi kerja yang lain. Selain itu, karena gue pernah divonis hiperaktif, gue justru senang dengan tempat ramai. Tempat ramai ‘memaksa’ gue untuk bisa fokus. Kalau sepi, konsentrasi gue malah sering kemana-mana. Gue harus ditemani sesuatu. Bisa musik, gitar atau lainnya. Nah, karena terbiasa nulis di mana saja, gue nyaris nggak punya meja. Senang pindah-pindah. Tiap tempat bisa ngasih impulse kreatif ke gue. Intinya, gue perlu kedinamisan.

Apa saja alat yang Mas Aris gunakan untuk menulis?

Laptop. Moleskine. iPad mini.

Apakah Mas Aris biasa mendengarkan musik ketika menulis?

Seringnya begitu. Gue anak 90-an. Mentingin lirik. Seneng yang folky atau balada tapi ‘kenceng’ secara isi. REM, U2, Pearl Jam. Iwan Fals dan turunannya.

Bagaimana “hari menulis” Mas Aris biasanya berjalan?

Biasanya tergantung deadline project. Gue ngukur dari situ. Butuh berapa hari. Dan gue menulis di sela segala kegiatan yang lain. Tapi paling penting gue mengenali cara gue menghabiskan 24 jam gue. Gue atur menulis dengan deadline sebagai patokan. Tapi meski nggak matok waktu, paling sering itu pagi ke siang atau malam gue menulis.

Ketika menyelesaikan sebuah skenario atau tulisan, apa saja tahapan atau proses yang biasanya Mas Aris lalui?

Gue selalu percaya bahwa penulis itu harus menguasai tehnik atau formula yang dia percaya. Nah, gue punya itu. Dengan sedisiplin mungkin gue melakukan tiap tingkapnya. Bikin premis dulu. Alur. Sequence, dll.

Gue juga mengimani writing is rewriting. Jadi proses dan tahapan amat penting buat gue.


#KetikaMenulis adalah serial tulisan yang berisi wawancara dengan penulis-penulis terkemuka di Indonesia, mengupas bagaimana mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah tulisan, termasuk kebiasaan-kebiasaan para penulis ketika menulis. #KetikaMenulis diterbitkan setiap hari Kamis di alandakariza.com.  Ada nama penulis kamu kagumi dan inginnya bisa kita wawancarai? Cantumkan di kolom Komentar di bawah ya.


#KetikaMenulis: Dee Lestari

Reading time: 4 – 7 minutes

Dewi Lestari, atau yang lebih populer dengan nama pena Dee di buku-buku karyanya, merupakan salah satu penulis Indonesia yang karyanya paling ditunggu-tunggu.  Karyanya yang bisa dibilang paling populer (dan masih belum usai hingga kini) adalah serial Supernova yang terdiri dari beberapa buku: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) – buku pertamanya yang diterbitkan, tahun 2001; Akar; Petir; dan yang akan terbit tanggal 17 Oktober ini: Gelombang. Selain itu, Dee juga menerbitkan novel Perahu Kertas, antologi tulisan Filosofi Kopi, Madre, dan Rectoverso.

Perahu Kertas dan Rectoverso sudah difilmkan, sementara film Supernova: KPBJ akan tayang bulan Desember 2014 mendatang. Filosofi Kopi juga akan diadaptasi menjadi sebuah film, dan sedang berada pada fase preproduksi saat tulisan ini dipublikasikan. Dee pernah menceritakan pengalamannya menyelesaikan novel Perahu Kertas dalam waktu 55 hari di sebuah blog. 

Dewi Lestari-profile

Dari semua tulisan yang telah Anda terbitkan, apakah Anda memiliki karya favorit?
Setiap karya memberikan yang pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda. Jujur, saya tidak punya karya favorit karena masing-masing buku rasanya tidak bisa dibandingkan. Saya rasa, itu menjadi privilese pembaca.

Biasanya, kapan Anda menyisihkan waktu untuk menulis?
Sebetulnya tergantung situasi dan kondisi. Saat ini, karena saya mengurus anak, suami, rumah, dan pekerjaan lainnya di luar menulis, saya sengaja menyisihkan waktu subuh-subuh sebelum orang-orang di rumah terbangun. Bagi saya, syarat utama menulis, terlepas pagi atau malam, adalah keheningan dan tidak diganggu. Jadi, sebetulnya kapan pun saya punya kualitas waktu yang seperti itu, saya manfaatkan untuk menulis.

Kalau begitu, di mana Anda sering menulis? Apakah Anda memiliki tempat khusus untuk menyelesaikan tulisan Anda?
Saya lebih senang di tempat sepi karena distraksinya rendah. Tapi, kalau terpaksa, di tempat ramai juga bisa-bisa saja. Yang penting, tidak diajak ngobrol dan tidak diinterupsi. Karena kalau sudah masuk dan mengalir di dalam proses kreatif, biasanya saya sudah tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Bagaimana Anda biasanya menulis?
Saya selalu menulis di laptop dan tidak di kertas. Saya membuat catatan di kertas kalau hanya untuk menampung ide sementara. Sebenarnya, saya punya meja kerja, tapi jauh lebih sering menulis di meja makan. Ini meja kerja saya:

Dewi Lestari-1

Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis?
Sekarang ini nggak lagi pakai musik. Dulu sempat suka, tapi memang tidak pernah jadi syarat utama. Pakai atau tidak oke-oke saja, asal musiknya instrumental, karena kalau berlirik bisa mendistraksi. Perkecualian hanya kalau saya menulis adegan yang memang membutuhkan semacam “soundtrack” dan saya sudah tahu lagu yang pas untuk itu yang mana. Tapi, kasus seperti itu jarang terjadi.

Bagaimana “hari menulis” Anda seringnya berjalan?
Bangun jam 4 pagi untuk menulis sampai jam 7 pagi, menyiapkan anak sekolah, dilanjutkan dengan power nap sekitar 15-30 menit. Sehabis itu, biasanya saya mengerjakan pekerjaan lain di luar menulis, termasuk membaca dan riset. Kalau ada waktu kosong di sisa hari, biasanya saya manfaatkan lagi untuk menulis. Tapi, seringkali saya sudah wrap-up pagi-pagi, untuk diteruskan lagi esok harinya.

Bisakah Anda menceritakan bagaimana proses yang biasanya Anda lalui ketika menerbitkan sebuah karya – mulai dari membuat kerangka tulisan sampai akhirnya tulisan tersebut diterbitkan?
Proses untuk menulis dan menerbitkan novel dan kumpulan cerita pendek bisa berbeda.

Untuk kumpulan cerpen, sifatnya insidental dan sporadis. Antologi saya biasanya kumpulan karya dalam rentang waktu 5 tahunan. Setelah saya rasa “tabungan” karyanya cukup, saya kompilasi, edit ulang berkali-kali, lalu saya kirim ke penerbit. Untuk cerpen, saya juga tidak membuat pemetaan cerita, biasanya spontan.

Sebaliknya, kalau untuk novel, proses risetnya panjang dan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Proses menulisnya sendiri berkisar antara 2-9 bulan. Sebelum menulis, saya biasanya membuat pemetaan cerita terlebih dahulu. Peta itu saya gunakan sebagai panduan yang sifatnya terbuka, artinya masih bisa saya revisi dan tambahkan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Setelah proses menulis draf pertama selesai, saya print, dan biasanya manuskrip tersebut saya “fermentasi” — didiamkan dan tidak dibaca-baca lagi — antara 2 minggu sampai 1 bulan. Setelah itu, baru proses penyuntingan dimulai. Setiap selesai penyuntingan, saya fermentasi lagi sebelum ke proses penyuntingan berikut. Siklus itu bisa berulang 3-4 kali, tergantung waktu yang saya miliki. Hasil akhir itu yang kemudian menjadi draf final.

Draf final dikirim ke penerbit dan disunting oleh editor. Mereka akan mempelajari, bertanya, memberi masukan, diskusi, dan seterusnya, sampai jadilah naskah akhir yang akan dikerjakan setting-nya. Setelah setting selesai, saya melakukan pengecekan final. Kalau semua sudah oke, maka proses cetak dimulai. Dari percetakan, buku akan didistribusi ke seluruh toko buku di Indonesia, dan waktu yang dibutuhkan untuk distribusi kira-kira dua minggu lamanya.


#KetikaMenulis adalah serial tulisan yang berisi wawancara dengan penulis-penulis terkemuka di Indonesia, mengupas bagaimana mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah tulisan, termasuk kebiasaan-kebiasaan para penulis ketika menulis. #KetikaMenulis diterbitkan setiap hari Kamis di alandakariza.com.  Ada nama penulis kamu kagumi dan inginnya bisa kita wawancarai? Cantumkan di kolom Komentar di bawah ya.


Belajar dari #KetikaMenulis Setiap Kamis

Reading time: 2 – 3 minutes

JK-rowling

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sejak memutuskan untuk bekerja penuh-waktu di sebuah perusahaan swasta setahun yang lalu, saya cukup kelimpungan mencari waktu, energi, dan cara untuk bisa menulis secara rutin. Saya melakukan banyak “percobaan”: mulai dari menulis sebelum berangkat ngantor, sepulang dari kantor, di jam makan siang, sampai membeli sebuah gadget yang mungkin bisa membantu saya menulis dalam perjalanan di dalam bus yang kerap saya tumpangi pulang.

Mungkin ada banyak orang yang mengalami permasalahan yang sama. Menghabiskan waktu untuk mencaritahu: Kapan sebaiknya saya menulis? Di mana tempat yang inspiratif untuk menulis? Alat-alat apa saja yang bisa saya gunakan untuk menulis? Tentunya, jawaban kita semua bisa jadi berbeda. Tapi, apa salahnya mencari inspirasi lebih dari pengalaman orang lain?

Saya sering menghabiskan waktu dengan berselancar di Internet, membaca artikel untuk mencaritahu proses kreatif seorang penulis, jurnalis, atau seniman. Sebab, proses kreatif setiap orang sudah tentu berbeda. Oleh karenanya, proses kreatif orang lain, bagi saya, selalu menarik untuk dipelajari.

Terinspirasi dari kolom How I Work di situs Lifehacker dan kolom How I Write di DailyBeast (dua kolom yang rutin saya baca di Internet), saya tertarik untuk mewawancarai sejumlah penulis yang saya kagumi. Dengan harapan, mereka berkenan untuk membagi “rahasia” menulis yang mereka punya dengan menceritakan proses kreatif yang mereka lalui setiap hari. Apa yang mereka lakukan, di mana mereka melakukannya, apa saja tantangan yang mereka hadapi #KetikaMenulis.

Bagi J. K. Rowling, misalnya, #KetikaMenulis berarti menulis di sebuah notebook, pada kunjungannya ke sebuah kafe. Namun, apakah setiap penulis harus menulis di kafe untuk bisa menjadi seproduktif J. K. Rowling? Sepertinya tidak.

Temukan berbagai pengalaman #KetikaMenulis para penulis Indonesia, yang akan saya bagi di blog ini setiap hari Kamis. Rencananya, penulis yang ceritanya akan saya muat di kolom #KetikaMenulis minggu ini adalah seorang novelis Indonesia yang akan menerbitkan sebuah buku baru (yang sudah ditunggu begitu banyak khalayak ramai!) pada tanggal 17 Oktober mendatang.


Working Weekdays vs. Writing Weekends

Reading time: 5 – 8 minutes

Hello there!

It’s been a (long) while since the last time I blogged. I know there should be no excuse for taking a hiatus this long, but I’ve been occupied with so many exciting things that require much of my attention, including: graduating from university, running a culinary business with my best friends, and having a full-time job… So many things to share! But, most of all, I had been writing a new book.

With all of my activities, writing has required a constant, substantial struggle. It had been knackering for me to juggle a full-time job and an aspiration to become a writer. I joined a multinational company that sells fast-moving consumer goods, which naturally makes our ways of working fast-paced, dynamic, and particularly challenging. The dynamics at work usually leave no time for me to write in the middle of the week. But, for a writer who had been used to writing every single day, it could be difficult for me to “restart the creative engine” to a certain extent whenever I have to take a one-day break (or even worse, longer breaks) from writing.

My typical day goes like this: wake up at 6 am – catch a train that leaves at 8 am – arrive work at 9 am – leaves the office at 7:30 pm – catch the 8 pm bus – arrive home at 10 pm.  I tried my best to plug myself away to write before bed, but it has always brought complications to my job (waking up late, being unproductive, losing focus at work, etc.). In short, with a full-time job like this, squeezing an hour or two to write before I go to bed could be back-breaking.

Nevertheless, after months and months of being sleep deprived, having a reduced portion of social life as well as exceptionally endless PMS symptoms, I finally got my hands on my new book’s final manuscript. It’s currently being illustrated and designed, but I’ll be sure to share some sneak peek photos once I have them!

I have been having a full-time job for one year now. Because of the experience, I have realised that I might not be the only person stretching themselves to work in a job that requires full, 5 days x 9 hours (minimum!) of commitment per week; while at the same time, still protect their dreams and find ways to reach them. In terms of managing these activities, I am still very far from Ika Natassa – one of the writers that I adore because of her capability to climb the corporate leader until now she becomes a senior manager in Bank Mandiri, yet at the same time fulfils her ambitions to be a prolific author. However, it might be helpful for me to share my writing gears that have supported me in the past two years to (finally) deliver a new book after “Dream Catcher“.

writing gears

MacBook Pro 13″
If fashion designers and photographers often have other people as their muse, I believe my Mac is my muse! I bought my first MacBook when I was in high school. After an incident that involved coffee-spilling-onto-the-screen, I had to replace it with a new one. I have been owning my current laptop for three years now and it has been my writing best friend. MacBooks could be quite expensive, I know. I chose MacBook because of its durability and resistance against “mainstream viruses”, but I only bought one after I had my own income. My writing life before MacBook was a Pentium II-powered computer with Windows 98 OS. I also spent much of my time in warnet. So yeah, it’s just a medium for you to write, and it does not have to be “fancy”, actually.

iPad Mini
I used to own an iPad and sold it right away because I thought it was kind of useless as I still spent way more time with my laptop. A few months ago, I ended up buying an iPad mini because I have an office computer that needs to be carried everywhere during weekdays. I obviously is not allowed to work on my manuscript using my office laptop – but carrying two laptops would not be wise either. So then, I bought this gadget – solely to work on my creative writing work whenever I can’t bring my MacBook along with me.

Apps
Here are the apps that I had been using to work on my manuscript:

  • Scrivener – an app that allows me to work on different chapters simultaneously. When I am finished, it compiles all my work into one file that could be exported to a .doc. It also tells me how far I am from reaching my daily word count target. I use it to write my whole manuscript.
  • Evernote – I swear by this app. Sometimes, when ideas come into my mind, I only have my phone or tablet in my hands. I just directly type my ideas in my Evernote, which then is automatically synced to the one in my laptop.
  • Pocket – writing books require an extensive research. I save the pages that I would like to read later using this app.

Writing, writing, writing
Although I mentioned quite a lot of gadgets above, I also spend much of my time writing on paper. Sketching, drawing, taking notes in an “analog” way allows me to ponder and wonder, which at times could give a packed bucket full of inspirations. If you see me on a daily basis, you will be surprised on how many Post-It Notes I could use to structure my writing, remind me of things-to-do and deadlines, rewrite scenes, and map my mind. I usually pair them with Sharpie markers, which are very comfortable to be used and give bold fonts (tremendously important benefit because I use it to remind myself of manuscript submission due dates!). I also have a Moleskine weekly planner that I carry everywhere (Star Wars-themed planner, obviously), and I swear by Uniball Jetstream pens (I have all 0.5, 0.7, and 1.0). 

How about you? Are you stretching yourself to have “different kinds of jobs” in weekdays and weekends? How do you manage your time? How do you manage both? I’m interested to read your experience.