Sampah!

Reading time: 3 – 4 minutes

Dimuat di Majalah Bukuné # Mei 2007
Menurut Bapedalda, volume sampah tahun 2000 di Jakarta (aja) 170 kalinya Candi Borobudur! Kata WALHI, 60-70% sampah yang dihasilkan adalah sampah basah, yang bisa diolah jadi kompos. Sehingga pengumpulan sampah yang tersentralisasi kurang baik, sampah jadi sulit terurai. Ujung-ujungnya kita butuh pemerintah, inseminator, tempat pembuangan akhir (yang biasanya end up diprotes massa), uang, semangat, keinginan, gotong royong dan rasa kekeluargaan yang kuat (yang kayaknya lagi sulit di masa sekarang).

Kita gak bisa bergantung sama pemerintah melulu. Kerjaan pemerintah udah banyak! Ngurusin sisa bencana, korupsi, kriminalitas, krismon, pengikisan moral, dan semua sisa-sisa yang meskipun ‘sisa’ tapi jumlahnya nggak sedikit. Sampai kapan kita mau bergantung dengan orang lain? Sampai kapan kita mau menyalahkan pemerintah? Gak selalu harus ada yang disalahkan, bukan?

Kenapa kita nggak memulai dari hal-hal yang kecil, seperti ‘membuang sampah pada tempatnya’? Sulit memang untuk mendengarkan orang lain. Butuh jiwa yang besar untuk bilang “Oke, ada cewek gak dikenal nyuruh gue buang sampah pada tempatnya dan gue akan melakukannya. Toh, gak dosa, gak susah!” But well, apa salahnya?

Di Indonesia, umumnya sampah dibagi 3: organik (terurai alami), anorganik (tidak dapat terurai) dan sampah berbahaya. Baru segini aja, rasanya semua orang kesulitan membuang sampah pada tempatnya, dan yang memilih untuk melakukan hal ‘benar’ malah jadi public enemy. Gue juga bukannya gak pernah dicela-cela. Gue cuma jawab, “Gue mau bikin dunia ini lebih baik daripada sebelumnya.” Impian yang susah dicapai, tapi bukannya gak mungkin.

Malu banget deh sama eks-penjajah. Di Jepang, sampah terbagi menjadi 7 kategori yang sulit dipahami. Dari burnable waste, bulky waste, wood waste, landfill waste, dsb. Setiap sampah harus dibuang sesuai kategori dan tata cara masing-masing. Untuk sampah dapur misalnya, airnya harus dihilangkan dan sampah dimasukkan ke dalam plastik semi transparan. Untuk sampah elektronik harus melapor ke pemerintah dan membayar 1000 Yen. Setiap kategori sampah punya jadwal angkut masing-masing, misalnya hari Jumat minggu kedua jam 9 pagi, hari Senin minggu keempat jam 5 sore, dsb.

Di pedalaman Afrika, di pemukimannya jarang sekali terlihat sampah berserakan di jalan. Meskipun belum modern, misalnya dari cara berpakaian, mereka selalu membuang sampah pada tempatnya, bahkan membagi ke 2 kategori, organik dan anorganik.

Kita belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya, sementara anak TK di negara-negara maju dan berkembang sudah mengerti jenis-jenis sampah dan ke mana mereka harus membuangnya. Di Singapura, didenda 1000 Dolar Singapura jika ada yang membuang sampah sembarangan. Di Jepang, peraturan pemerintah kota menyebutkan siapapun yang membuang sampah sembarangan secara liar, dapat dikenai pasal environmental crime dan dapat dijebloskan ke penjara hingga 5 tahun serta denda 10 juta Yen (sekitar 750-850 juta rupiah).

Pernah mikir kenapa kita mendapat begitu banyak bencana? Bisa jadi itu teguran atas gak mencintai apa yang kita punya. Cintai Indonesia! Mulai sekarang, berjanjilah pada diri kamu sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya!

Jangan menyalahkan jumlah tong sampah yang kurang. Simpan dulu sampah di kantong lalu dibuang di rumah. Untuk yang punya mobil pribadi, sediakan tempat sampah kecil. Berjanjilah gak bakal buang sampah ke jalanan lagi. Jika hanya membeli 1 komik di toko buku, jangan diplastikin, tenteng aja sendiri, gak berat kan? Gunakan piring/gelas di kantin, bukan sterofoam/plastik. Kita harus meminimalisir sampah.

Kertas bekas draft skripsi atau makalah yang ditolak dosen, bagian belakangnya masih bisa dijadikan coretan. Jangan terlalu banyak protes kalo kertas majalah tipis, secara gak langsung mereka meminimalisir sampah & jumlah pohon yang harus ditebang demi kepentingan manusia!

Banyak yang bisa kamu lakukan demi negara kita. Hal kecil, yang dilakukan jutaan orang yang konsisten, bisa membuahkan hasil yang luar biasa.

Alanda Kariza, on behalf of The Cure For Tomorrow