The Number 23

Reading time: 2 – 4 minutes

Yay! Another Jim Carrey’s serious movie!
Karena pulang cepat, sambil menunggu dijemput, saya bertandang ke Plasa Senayan dan tergugah hatinya untuk mencoba Cinema XXI yang katanya “10 State of The Art Screens”. Entah jodoh atau apa, ketika sedang mencari ‘tebengan’ ke PS (mengingat supir saya masih menemani adik yang bersekolah), saya berpapasan dengan Deyogi dan Ayu dari kelas X5 yang juga berniat ke PS. To the point aja, gimana?

Film ini menceritakan tentang Walter Paul Sparrow (Jim Carrey) yang memiliki sebuah keluarga bahagia. Istrinya, Agatha (Virginia Madsen), adalah seorang wanita yang kreatif, memiliki banyak teman dan sangat ia cintai. Walter juga merupakan ayah yang sangat baik bagi Robin (Logan Lerman; check him out, he’s very cute ;p), bekerja sebagai dog-catcher. Jadi, meskipun terkesan boring dan kurang pandai bergaul, hidup Walter is almost perfect.

Pada suatu hari, ketika harus menangkap anjing bernama Ned (yang belakangan dia sebut “Nasty Evil Dog”), anjing tersebut menggigitnya dan membuatnya telat menjemput istrinya di toko buku. Istrinya pun membelikannya buku berjudul “The Number 23” sebagai hadiah ulangtahunnya. Belakangan, Walter menjadi sangat, sangat menyesal pernah datang terlambat.

Walter pun membaca buku tersebut dan bergidik ngeri setiap membuka halaman per halamannya. Tokoh di buku tersebut, Detektif Fingerling (diperankan oleh Jim Carrey dalam visualisasinya), memiliki latar belakang yang sama persis dengan dirinya. Fingerling memiliki kekasih bernama Fabrizia (Virginia Madsen) yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Dr. Miles (Danny Huston). Ketika sampai di bab itu, di kehidupan nyata, Agatha pergi dengan sahabatnya, Isaac (Danny Huston). Di buku tersebut, Fingerling membunuh Fabrizia. Walter berusaha agar ia tidak membunuh istrinya—yang sangat ia cintai.

Fingerling juga bertemu dengan Suicide Blonde (Lynn Collins), seorang gadis yang berniat bunuh diri karena dikejar-kejar oleh angka 23 di dalam hidupnya. Dari nama, warna kesukaan, tanggal-tanggal, dan halaman pada buku, semuanya berhubungan dengan angka 23. Lama kelamaan, Walter juga merasa selalu diikuti oleh angka tersebut ke manapun ia pergi, seperti fakta bahwa ia bertemu istrinya pada tanggal 14 bulan 9 yang dijumlah sama dengan 23, mereka berdua menikah pada tanggal 13 bulan 10, cat rumahnya, alamatnya, nomor-nomor blok dan plat mobil yang ia lihat dalam perjalanan, bahkan N + E + D = 23! Walter pun menjadi segila Fingerling, ia menghitung jumlah pasang sepatu yang dimiliki istrinya (seperti yang Anda bisa tebak, jumlahnya 23 pasang, begitu juga dengan jumlah pasang sepatu yang dimiliki Fabrizia), menanyakan hal ini kepada Isaac, yaitu meminta penjelasan ilmiah akan fenomena ini. Untuk itu, Walter pun berusaha mencari pengarang buku tersebut, yang memiliki nama pena “Topsy Kretts”.

Jim Carrey, lagi-lagi berperan dengan brilian, meskipun masih ada sepersekian detik dalam film ini yang menunjukkan kelucuannya dalam berakting. Ia memerankan Walter dengan baik, sekaligus memvisualisasikan karakter Fingerling yang tampilannya cukup berbeda dari Walter. Selain untuk Jim Carrey, kita patut menganugerahkan standing applause untuk penulis skenario film ini. Ayu bahkan mengatakan bahwa film ini mampu menandingi kecerdasan The Da Vinci Code, bahkan lebih! Saya pribadi menganggap film ini a must-see. Thriller yang mengesankan!


Pirates of The Caribbean 3: At World’s End

Reading time: 3 – 4 minutes

Menurut movie reviews, film ini adalah puncak dari trilogy Pirates of The Caribbean (PoTC) – ya iyalah, berhubung ini adalah film terakhir, harus klimaks kan? Seluruh casts and crews ada di sini. Gore Verbinski masih duduk di kursi sutradara dan Jerry Bruckheimer (memang sudah seharusnya) menjabat sebagai produser.Film ini diangkat dari sebuah wahana di Disneyland, menceritakan tentang “3 serangkai” (ingat, bukan “3 sekawan”): Jack Sparrow (Johnny Depp), Will Turner (Orlando Bloom) dan Elizabeth Swann (Keira Knightley). Sekedar mengingatkan, Will Turner adalah seorang pemuda miskin (namun menawan), Elizabeth Swann adalah putri gubernur di Inggris, semenata Jack Sparrow adalah seorang pelaut sinting yang terobsesi pada kapal The Black Pearl milik Kapten Barbossa.

Setelah berhasil merebut The Black Pearl dari Barbossa (dan tentunya mendeklarasikan dirinya sebagai kapten), di film kedua Jack Sparrow pun bertarung dengan Davy Jones (Bill Nighy) beserta awak kapal hantu The Flying Dutchman. Di akhir film, diperlihatkan Jack Sparrow tertelan monster! Will Turner, Elizabeth Swann dan kawan-kawan pun mengunjungi Tia Dalma (Naomi Harris) dan bertemu Kapten Barbossa. Film ditutup tanpa konklusi.

Di At World’s End, mereka semua pergi ke tanah Asia untuk bertemu dengan Kapten Sao Feng (Chow Yun Fat), yang bermukim di Singapura, untuk mencuri peta navigasi ke ‘ujung dunia’. Masing-masing punya tujuan sendiri. Swann sebenarnya hanya ingin bersama Turner, Barbossa ingin mengabulkan permintaan Dewi Calypso yang terkurung di tubuh manusia dan membebaskannya lewat konferensi The Brethern Court, di mana sembilan raja perompak bermusyawarah.

Sao Feng tentunya tidak mau menolong perompak selain dirinya. Turner bersedia membantunya, karena ia memang hanya berniat menemukan The Flying Dutchman untuk menyelamatkan ayahnya yang harus mengabdi di kapal tersebut. Sementara itu, Lord Cutler Beckett (Tom Hollander) juga masih mengejar-ngejar the gang.

Berangkatlah Barbossa, Dalma, Turner dan Swann, beserta awak kapal Sao Feng, untuk mencari Jack Sparrow yang katanya dikurung di ‘locker’ milik Davy Jones. Setelah menemukan Sparrow, mereka pun beraksi untuk menemukan The Flying Dutchman dan siap-siap berperang dengan koloni Inggris. Terjadilah banyak aliansi. Antara Barbossa – Dalma, Turner – Sao Feng, Sparrow – Beckett, dan Swann sendirian.

Di sekuel ini, resep cerita, aksi dan kemegahannya masih sama dengan film-film sebelumnya. Ada adegan duel pedang yang akrobatis, tingkah konyol dan bodoh Jack Sparrow yang seringnya menyelamatkan semua awak kapal, perseteruan antara Barbossa dan Sparrow yang tak kunjung selesai, dan tentunya perang antar kapal dengan tembakan meriam bertubi-tubi. Mata kita dimanjakan dengan efek-efek memukau, kapal yang terbolak-balik namun tetap terlihat realistis. Too much drama? Nggak juga. Percintaan Swann dan Turner dibuat hanya sebagai bumbu romansa yang ‘numpang lewat’ menurut saya.

Tapi, entah mengapa, film ketiga ini kurang klimaks. Masih lebih bagus yang kedua :s Meskipun begitu, bagi pecinta komedi, epik, Johnny Depp (!) dan Walt Disney, 3 jam berubah menjadi entertainment yang cukup mengasyikkan untuk dinikmati, apalagi di bioskop with a bigger screen. Untuk masalah komedi, bagi saya pribadi memang masih lebih lucu di “Dead Man’s Chest”. Namun lagi-lagi, film ini tidak boleh sampai dilewatkan dari jajaran summer movies yang mau Anda tonton. A lot of surprises, lol.

“We must fight, to run away!” – Jack Sparrow