Ayo Belajar!

Reading time: 4 – 6 minutes

Sejak tahun 2000 yang lalu, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) rutin menyelenggarakan tes Programme for International Student Assessment (PISA), untuk mengukur kemampuan siswa-siswi – dari seluruh dunia – di bidang Sains, Membaca dan Matematika. Setiap negara diwakili sekitar 1000 anak sebagai sampel. Pada tahun pertama, tes ini diikuti oleh 43 negara, dan berkurang menjadi 41 negara pada tahun 2003. Jumlah partisipan meningkat secara signifikan menjadi 57 negara pada tahun 2006, dan sampai saat ini sudah ada 62 negara yang mendaftar untuk tes PISA berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tahun 2009.

Berkat tes tersebut, pendidikan di Finlandia memancing rasa cemburu guru-guru di seluruh dunia, karena negara itu memperoleh peringkat pertama secara akademis serta unggul dalam pendidikan anak-anak pengidap down syndrome. Apakah rahasia yang dimiliki mereka? Siswa tidak dipaksa untuk belajar dengan menambah jam KBM, PR, menerapkan disiplin tentara, atau menyelenggarakan berbagai tes. Siswa di sana mulai bersekolah pada usia 7 tahun dan hanya belajar 30 jam perminggu. Sekolah-sekolah di Indonesia rata-rata mengalokasikan kurang-lebih 48 jam pelajaran perminggu untuk sekolah.

Ternyata, keberhasilan Finlandia terletak pada kualitas gurunya, yang boleh dibilang merupakan guru-guru dengan kualitas terbaik yang dilatih secara maksimal. Di sana, guru merupakan profesi yang respectable. Mungkin masyarakat langsung mengasumsikan bahwa gaji mereka jauh lebih tinggi dibandingkan gaji guru di negara lain. Jawabannya adalah tidak, gaji mereka tidak luar biasa. Lulusan SMA terbaik biasanya mendaftar untuk kuliah di sekolah pendidikan/guru. Lebih dari itu, rasio jumlah peserta tes masuk dan yang diterima adalah 7 banding 1! Jelas banget bahwa persaingannya jauh lebih ketat daripada tes masuk fakultas hukum atau bahkan medis/kedokteran.

Nggak salah jika kemudian Finlandia memiliki guru-guru dengan kualitas yang juga tinggi. Dengan kompetensi tersebut, mereka bebas menggunakan metode kelas apapun yang mereka sukai (kayak Jack Black di “School of Rock”? Di Finlandia itu bukan hal yang aneh!). Mereka merancang kurikulumnya sendiri, dan memilih sendiri buku teks yang digunakan sebagai referensi siswa. Negara lain boleh saja percaya dengan mitos bahwa ujian dan evaluasi siswa adalah bagian terpenting bagi kualitas pendidikan. Sebaliknya, Finlandia menganggap ujianlah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Seorang guru bahkan berpendapat bahwa terlalu banyak tes membuat mereka cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian. Padahal, banyak aspek yang tidak bisa diukur dengan ujian yang dimaksud.

Siswa diajarkan mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak duduk di kelompok bermain. “Hal ini membuat siswa belajar bertanggung jawab atas pekerjaan mereka, dengan begitu mereka akan bekerja lebih bebas sehingga guru tidak harus selalu mengontrol mereka,” kata Sundstrom, yang menjabat sebagai kepsek SD Poikkilaakso, Finlandia. Siswa juga didorong untuk bekerja sendiri. Tuomas Siltala, seorang siswa SMA, berpendapat bahwa ia belajar lebih banyak jika mencari sendiri informasi yang dibutuhkan. “Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menulis apa yang dikatakan oleh guru. Di sini, guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan,” ujarnya. Now, get the point?

Hal lain yang juga membuat Finlandia sukses adalah siswa yang lambat mendapatkan dukungan intensif. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia memiliki gap yang sangat kecil di antara siswa yang berprestasi baik dan buruk. Ini merupakan bagian terbaik menurut OECD. Bisa kita lihat, biasanya di kelas Si Pintar dengan Si Bodoh memiliki perbedaan nilai atau skor yang besar dalam ujian. Remedial juga tidak dianggap sebagai tanda kegagagalan, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Kalau ada PR, siswa bahkan tidak harus menjawab dengan benar, mereka hanya perlu berusaha. Jelas sekali bahwa sudut pandang mereka dan guru di Indonesia sangatlah berbeda.

Guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika mereka mengatakan “Kamu salah” pada siswa, hal tersebut akan membuat siswa malu, dan menghambat kegiatan belajar. Siswa-siswi hanya boleh membandingkan nilai mereka dengan nilai sebelumnya, tidak dengan siswa lainnya. Hal itu dilakukan agar semua siswa bisa memiliki rasa bangga dan percaya diri terhadap diri mereka masing-masing.

Gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi menjadi kunci sukses Finlandia. “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, itu berarti ada yang tidak beres dalam pengajaran saya!” kata seorang guru. Mereka begitu rendah diri dan menyadari kesalahan mereka, bukannya menyalahkan orang lain seperti yang berlaku di negara kita!

Di Indonesia, kita bisa melihat dengan jelas bahwa kualitas pendidikannya masih sangat jauh dari baik dan sempurna. Sekolah-sekolah yang dibiayai pemerintah memiliki sarana yang kurang memadai, sementara sekolah swasta mematok harga yang sangat mahal dan tidak terjangkau, sehingga banyak sekali anak-anak Indonesia yang tidak bersekolah. Siswa-siswi juga dipaksa menyerap berbagai pelajaran. Bisa jadi hal itulah yang kebanyakan sosialita Jakarta memilih home-schooling. Dengan begitu, mereka bisa memilih pelajaran mereka sendiri dan tidak terpenjara di dalam institusi bernama sekolah.

Kita bisa membandingkan hal tersebut dengan Singapura, di mana hanya ada 8 mata pelajaran untuk tingkat SMA, dengan 3 pelajaran wajib, sisanya berbentuk pilihan. Di sekolah di Indonesia, siswa masih dituntut untuk mengejar nilai, dan anak-anak yang ‘kurang’ tidak begitu diperhatikan.

Mungkin sulit bagi Indonesia untuk berubah, tetapi tidak ada hal yang tidak mungkin. Sebagai civitas academica, kita harus berusaha. Finlandia bukan negara hyperpower seperti Amerika—yang bahkan siswa-siswinya ingin berhenti sekolah karena luasnya lapangan pekerjaan. Tetapi mereka bisa menunjukkan eksistensi dan prestasi mereka di salah satu bidang terpenting dalam perkembangan suatu negara: pendidikan.

Sumber: Top of The Class, OECD