A Global Warning

Reading time: 3 – 5 minutes

Today, Anggie Setia (senior advisor of The Cure For Tomorrow) and I went to Usmar Ismail Hall, Kuningan. Yesterday she contacted me: “Hey, I’ve got a good news for you. I have 2 tickets…” I wasn’t aware enough about the event, but then, I decided to go (though I had to miss the match between Indonesia and the Korea Republic) because it really sounded interesting.

So, I took off from school to Pasar Festival, our meeting point. And then, we walked to the venue. I was in a bit of doubt at first, because in the front of the venue there were no banners at all about the event. When we got inside, we were instantly welcomed by a few environmental-friendly corporations’ stands such as WWF, Equinox Publishing (the one who held this event), XS, Aksara Bookstore, etc. It was cool. The mineral water was even served in the old packaging (bottles made of glass). They exhibited solar energy technology and led lighting too. There were banners with earthy messages everywhere, like “Plant A Tree”, “Save Ink and Paper”, “Use Recycled Papers”… And I got:

climate-crisis.jpgdsc00100.jpg

  • Tas kain Aksara Goes Green (Rp10.000,-)
  • 1 rim of CyclusOffice recycled paper (Rp55.000,-)
  • WWF “Reuse, Refill, Reduce, Recycle” pins (for free)
  • WWF “Power Switch” keychain with facts about energy and global warming (for free)
  • Pictures!
  • A wonderful experience! Why?

If you have seen David Guggenheim‘s “An Inconvenient Truth“, this is not the movie screening. This is the live presentation! There was an expatriate who lives in Bali, named Emerald Starr. He was ordered by Al Gore himself to present about global warming phenomenon in South East Asia. He came all the way to Jakarta for this event.

Marvelous! Unfortunately, although the tickets were given for free (by the internet), the seats were not fully equipped. The presentation room looked like a cinema studio/hall, like in 21 Cineplex. So the venue was cozy enough.

The presentation was better than the one which was used by Al Gore in the movie, because WWF added more about Indonesia (especially the deforestation issue). One thing which was too bad: I was the only high school student who went there.

After the presentation from Emerald Starr for about one and half an hour, Mark Twain (the CEO of Equinox Publishing) told us some story about the reason why did his company became environmental friendly. One day, he watched “An Inconvenient Truth” and asked himself, “what can I do to stop global warming?”. So, he ordered recycled paper to Denmark, and since then, every single book which is published by Equinox Publishing will be printed on recycled papers. He said, “I am a businessman, but I sell my new books with the same price, although I used recycled papers which cost twice the price of regular photocopy papers. My profit became less because of that… but it’s okay.”

(We Don’t) Thank You For Smoking

Reading time: 3 – 5 minutes

Beberapa hari yang lalu, saya login lagi di Voices of Youth yg (to be honest) udah lama nggak saya buka, hehe. Terus, pas lagi lihat-lihat forum, saya langsung aja buka yg paling menarik dan paling saya concern about: SMOKING! Wow. Yap. I spent my JHS campaigning about ‘no smoking’ to my friends. Some of them quit, sisanya yaaaaah begitu-begitu aja.Semua yg ikut diskusi, terutama yg berasal dari Indonesia, sepakat bahwa masalahnya ada di pemerintah/undang-undang (berikut penerapannya). Kalo yg di Belanda, mereka cerita bahwa di sana ganja dijual bebas. Asal bisa ngasihliat KTP, ganja bisa dibeli di coffee shops. Kita juga membahas masalah seperti bahaya-bahaya rokok, dan peringatan pemerintah yg ga digubris masyarakat. Banyak yg berpendapat bahwa peringatan kayak gitu cuma kepentingan politik

doang –> supaya pemerintah dianggap sbg pemerintah yg baik, tapi ga melakukan apa-apa untuk menghentikan rokok krn pendapatan negara gede bgt dari rokok. Kalo emang memikirkan kesehatan (bukan kepentingan) rakyat, pasti mereka bakal ngusahain yg lain dong? Ngomongin apaan lagi ya?Di Spanyol (seperti di Jakarta), ada larangan merokok di tempat umum. Kalo keliatan nyalain rokok, harus bayar 30 Euro di tempat! Di Italia dan Irlandia juga dilarang. Seorang cewek di Missouri mengidap asma dan hampir semua orang di kotanya merokok. Jadi, dia ga bisa pergi ke restoran tanpa kena serangan asma.

Di Rusia, anak-anak berumur 10 tahun sudah merokok, regularly.

Di Afrika Selatan, ada larangan yang sama, tapi anak-anak berumur 8 tahun sudah mulai merokok. Para perokok mengaku mereka tahu bahaya merokok tetapi merokok adalah ADDICTION, jadi kata-kata kaya SMOKING KILLS ga berarti apa-apa buat mereka.

Oh iya. Ini nih yang paling penting! Ada seorang cewek bercerita, namanya Angelica, dia berumur 19 tahun dan tinggal di Vietnam. Ceritanya seperti ini…

My dad has been smoking since I was small. I’ve become the person who breathe that smoke since then… Time passed by, in Vietnam, most of men smoke, they think that it’s their prerogative and no need to ask any others, and I naturally become the victim. Right now, I know that I’m talented, I study well, I have beautiful dreams that to help the children in the world, and thousands of intentions… But I got the kind of cancer. And 19 is not a large number for the age, will I die of this? It’s not my fault. But I had become the indirect smoker since I was born!!!

Hayo, smokers, what do you think? Kalian membunuh seorang cewek muda yang memiliki bakat, minat, kecerdasan dan keinginan sejuta.. Cuma supaya dianggap ‘keren’, ‘gaul’, apalah. Cuma buat ngilangin stres, bosen, laper, ngantuk…(itu alesan yang pacar saya ‘ajukan’ setiap kali saya bertanya mengapa dia merokok)? Bukankah itu namanya egois? Ini baru 1 cewek yang bercerita, padahal di dunia ini ada 3 miliar penduduknya.

Kedua kakek saya, meninggal akibat merokok. Sakit paru-parulah akhirnya. Semua oom saya merokok, sepupu-sepupu gue minoritas merokok (sisanya masih punya cukup akal sehat bahwa rokok itu emang mahal dan buang-buang duit). Sementara sekarang, hukum rokok masih aja diperdebatkan. Untuk ustadz-ustadz yang merokok, mereka bilang rokok itu makruh. Untuk yang enggak, mereka bilang rokok itu haram. Ya wajar lah, dibilang haram, karena di Alquran dicantumkan bahwa yang haram itu adalah yg lebih banyak penyakit daripada khasiatnya, yang buang-buang uang, mengganggu orang lain, termasuk di kriteria rokok kan?

Satu hal yang saya suka dari rokok… Kalo bikin iklan bagus-bagus yah? Ya iyalah, duitnya juga banyak gitu. Untungnya di Indonesia produsen rokok masih mau nebus dosa, dengan mengadakan kegiatan sosial, kayak pemberian beasiswa oleh Sampoerna Foundation, misalnya.

Jadi.. tertarik to quit smoking? Ditunggu loh Indonesia bersih dari asep. Hihi.


Transformers

Reading time: 4 – 6 minutes

Meskipun baru diputar di Indonesia, saya sudah hampir 10 kali mendengar orang berkata bahwa film “Transformers” bagus dalam 2 hari. Apalagi, film ini memenangkan award “Best Summer Movie You Haven’t Seen Yet” di MTV Movie Awards 2007. Awalnya saya tidak begitu bersemangat menonton film ini, karena saya tidak membaca komiknya maupun menonton filmnya. Resensi tentang film ini di majalah juga tidak banyak. Pemain yang dipasang pun tidak begitu terkenal di dunia perfilman. Ketika saya membaca resensinya di koran, begitu saya melihat nama Michael Bay di kursi sutradara, saya langsung tertarik dan mati-matian membujuk teman saya untuk menonton film ini.
“Transformers” diangkat dari komik berjudul sama (honestly, saya tidak tahu siapa pengarangnya dan siapa penerbitnya I’m a moviegoer, not a bookworm, hehehe). Menceritakan tentang Samuel Witwicky (Shia LaBeouf) yang – well, as usual – geek dan tidak dikenal di sekolahnya. Ayahnya berjanji untuk membelikannya mobil, asalkan ia berhasil mengumpulkan uang sebanyak $2000 dan 3 nilai A. ia pun melelang barang-barang milik mendiang kakeknya, Professor Archibald Witwicky, seorang ilmuwan yang akhirnya dimasukkan ke RSJ karena dianggap gila. Akhirnya, ayahnya membelikannya mobil Chevrolet Camaro Classic.
Sementara itu, pasukan tentara di Iran diserang oleh sebuah helikopter tak dikenal yang bisa bertransformasi menjadi sebuah robot besar. Tokoh yang menjadi sentra cerita di adegan ini adalah Captain Lennox (Josh Duhamel) dan Epps (Tyrese Gibson) Di Air Force One juga terdapat sebuah radio yang bertransformasi menjadi robot kecil nan pintar dan menyebalkan. Akhirnya, pasukan pun dikerahkan secara rahasia untuk menangani kasus ini. NSA pun mempekerjakan beberapa krunya di Pentagon untuk menangani masalah device tak dikenal yang me-hack data-data rahasia Amerika Serikat.
Samuel Witwicky bergembira-ria dengan mobil barunya. Ketika ia sedang hendak mengantar pujaan hatinya, Mikaela (Megan Fox), pulang ke rumah, mobilnya itu mulai bermasalah. Pertama mesinnya rusak, lalu radionya juga ikut-ikutan rusak. Tiba-tiba, mobil itu kabur dari pekarangan rumahnya! Dan ternyata, mobil itu bisa bertransformasi menjadi robot bernama Bumble Bee!
Bukan hanya Bumble Bee yang ada di bumi. Bumi pun kejatuhan beberapa meteor yang ternyata masing-masing “mengangkut” satu robot. Empat robot lainnya adalah rekan-rekan Bumble Bee yang tergabung dalam Autobots. Mereka adalah Optimus Prime (pemimpin Autobots), Ironhide, Ratchet dan Jazz. Kedatangan mereka ke bumi adalah untuk mencari Allspark, sebuah kubus yang memiliki berbagai kekuatan yang akan disalahgunakan oleh kelompok Decepticons, robot-robot jahat asal Planet Cybertron (yang juga merupakan planet asal Autobots). Pimpinan Decepticons, Megatron, juga terperangkap di bumi. Jasadnya ditemukan 72 tahun yang lalu oleh Professor Witwicky dan koordinasi letak Allspark terukir di kacamatanya yang dilelang oleh Sam di eBay. Karena itulah, Sam menjadi incaran Starscreamer dan anak buah Megatron lainnya.
Selama 144 menit (baca: 2,5 jam!), film ini memanjakan mata kita dengan efek yang super keren! Robot-robotnya terlihat begitu nyata, apalagi pada adegan di mana dua kubu robot bertempur dan dibantu oleh tentara AS, yang berlatar di pusat Mission CIty = bagus banget! Kita seolah-olah berpikiran bahwa The Transformers memang real!
Akting Shia LaBeouf (yang tenar karena serial “Even Stevens”) patut diacungi jempol, meskipun ia baru saja mulai berkiprah di dunia perfilman. Ia mampu menginterpretasikan hubungannya dengan Autobots sebagai teman, bukan antara manusia dan robot. Padahal, ketika pengambilan gambar tentunya robot itu tidak ada, karena The Transformers murni digambar dengan komputer. Kita jadi merasa bahwa Autobots adalah manusia dalam wujud yang mirip dengan megazord milik Power Rangers. Megan Fox juga bermain dengan cukup baik. Awalnya saya kira dia cuma cewek seksi yang menambah panas suasana, dan sekedar numpang lewat, ternyata ia memiliki andil yang cukup besar untuk membantu Sam dan Autobots menyelamatkan bumi.
Selain berkat Michael Bay (yang dulu membuat “Armageddon”), film ini juga memukau karena ada nama Steven Spielberg di belakangnya! Formula efek dalam “Transformers” serupa dengan “War of The Worlds”, tapi dialog dan skenarionya disajikan dengan penuh humor yang diperuntukkan untuk remaja. Meskipun begitu, film ini rasanya cocok untuk dikonsumsi oleh seluruh keluarga. Tidak membuat stres seperti “War of The Worlds”, punya efek yang lebih keren dibandingkan Spiderman (menurut saya), meskipun bintang-bintang yang ‘turun’ tidak segemerlap “Ocean’s Thirteen” dan “Shrek The Third”. This is my favourite summer movie so far…
Untuk yang nggak tertarik sama “robot-robotan”, science fiction maupun action movies, coba deh tonton “Transformers”. Film ini jauh lebih seperti film keluarga yang penuh petualangan, dan didukung oleh spesial efek yang canggih! Teman nonton saya, Vanda, pada awalnya tidak berminat menonton “Transformers” karena ia tidak suka temanya. Kelar nonton, ia bahkan memberi nilai 5 from 5 stars! Outstanding!