C’est La Vie

C’est la vie, Naren bilang semalam. Aku tidak tahu artinya. Ia berkata, that’s life. Aku tidak mengerti maksudnya.
Aku benci menjadi gadis yang lemah, karena tidak seharusnya begitu. Sungguh, aku telah menghapus garis di antara menjadi baik, dan menjadi lemah. Menurutku, apa yang kulakukan ini baik. Menurut orang lain, aku lemah.

Aku berjalan di bawah malam. Berjalan bersama angin dan bersama dingin. Terus mencoba bertanya pada Tuhan, apa yang salah dariku? Mengapa orang justru menyalahkan ketika aku sudah melakukan sesuatu yang benar? Mengapa orang lain betah menjadi orang-orang munafik? Mengapa kita semua dilahirkan untuk menjadi hipokrit? Mengapa malam ini begitu sepi? Padahal aku sungguh butuh keramaian.

Ada kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang selalu kuingat,

“Di mana-mana aku selalu dengar: yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar, benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

Ah, sekarang aku teringat lagi akan kalimat itu. Mungkin aku memang harus memperjuangkan apa yang menurutku benar sendirian.

C’est la vie, aku bilang malam ini. Sebab, aku sudah mulai belajar untuk mengerti maksudnya.

Stasiun

Stasiun adalah tempat yang kacau. Lebih kacau dari apapun yang pernah kukunjungi dalam hidup ini. Terlalu banyak orang yang berlalu-lalang. Ada yang panik, ada yang berang. Ada yang memimpikan suasana yang tenang. Sama seperti aku, yang tidak pernah menyukai tempat ramai; suara bising tanpa kalimat-kalimat pandai.Namun, tidak dengan hari ini. Saat ini, aku begitu menikmati ramai dan berisik. Sepi, tukas hatiku berbisik. Tak apa, sanggahku. Sepi yang begini jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan sepi karena orang lain tidak bersedia menerima dirimu apa adanya. Lebih baik daripada kau merasa kesepian di antara teman-temanmu sendiri. Di sini, orang-orang yang ada, tak satupun dari mereka yang kaukenal. Merasa kesepian adalah wajar.

Selalu ada titik jenuh dalam hidup semua orang. Titik di mana kau hanya ingin berhenti sesaat. Ingin lari sejenak. Lari dari tanggung jawabmu, lari dari kepribadianmu yang seharusnya membuat orang lain merasa senang berada di dekatmu. Di mana kaubenci dengan segala macam rutinitas yang monoton, yang kaujalani berulang-ulang selama berbulan-bulan. Di mana kau sudah lelah beradaptasi agar diterima oleh mereka yang di sekelilingmu, yang sayangnya tak pernah bisa menyajikan hati yang tulus buatmu. Di mana kau ingin sekali membunuh orang-orang itu: mereka yang telah menyakitimu. Sayangnya, hal itu hanya bisa kaulakukan di dalam mimpimu saja.

Di stasiun, aku bisa memperhatikan sekitar dengan seksama, selambat apapun yang aku mau. Aku bisa memandang penuh amarah maupun suka cita tanpa ada yang melarang. Aku bisa mengubur isak tangisku dengan bising suara kereta yang berangkat atau baru sampai. Pilar-pilar ini pun menerimaku apa adanya dengan sepenuh hati.

Dalam hidup ini, terlalu banyak hipokrit yang akan kautemui. Terlalu sedikit loyalitas. Terlalu minim solidaritas. Sampai-sampai kau bermimpi ada satu dunia paralel yang jauh lebih indah dan menyenangkan dibandingkan dunia yang kaukenal ini–yang penuh peperangan, benci, diskriminasi. Sebab itu, aku benci sekolah. Bagiku, sekolah adalah neraka. Ini sudah minggu kesekian di mana aku memutuskan untuk tidak bicara jika tidak diminta. Di mana aku memilih untuk makan di kantin sendirian, menulis hal-hal dan menggambar hal-hal tidak penting sepanjang “jam kosong”, menghabiskan waktu luangku sepenuhnya tanpa teman.

Aku mulai tidak apa-apa dengan hal itu.

Aku melangkah masuk ke salah satu gerbong kereta. Masih saja sendiri. “If You Fall” milik Azure Ray mengalun di kepala… Aku tidak pernah butuh iPod untuk melakukannya.

Kereta berangkat.
Tak ada seorangpun yang perlu kupamiti. Aku pergi.