Across The Universe

Reading time: < 1 minute

  1. One of my favourite movie.
  2. Jim Sturgess is too hot to resist :p, so is Evan Rachel Wood.
  3. Great visualizations on the songs.
  4. The remake of the songs are even better.
  5. I skipped the “Mr. Kite” scene because it’s too freaky.
  6. Bono’s performance = (Y) until they entered the bus. The bus scene makes me dizzy.
  7. Cliche love story.
  8. Love the colours and blockings in the bowling alley.
  9. Liverpool scenery on the “Hold Me Tight” scene is romantic
  10. Too bad they didn’t sing “I Will”.
  11. I think it’s better if Jude and Lucy kiss at the end of the movie :(
  12. Very artsy, and cute.

Juno

Reading time: 1 – 2 minutes

I’ll start a new thing: writing reviews in short sentences Just to have fun with shorter things (regarding my body is really short too hahaha).

We’ll have Juno to be the first trial!

  1. Ellen Page isn’t gorgeous, she’s wonderful and stunning.
  2. Page and Cera performed better than Garner and Bateman.
  3. Love the “Tic-Tac” scene.
  4. Diablo Cody is a genius.
  5. Fun to be watched with mom and dad (they should react like Juno’s parents if you were pregnant :p).
  6. I think Juno-Bleeker should’ve seen their baby :(
  7. Catchy hamburger phone.
  8. I want to be as strong as Juno when she walked through the school corridor, pregnant, and her schoolmates starred at her.
  9. Watch this movie, ASAP.

Hantu Sensor

Reading time: 6 – 10 minutes

So, last night I received an e-mail from my friend, Idenk:

This some article I wrote for long time ago incidental with MFI’s demanding to eradicate censorship or LSF by pleading an appeal to Constitutional Court toward Film Law No 8/1992.  Actually, this article written in Bahasa and English one but I would submit it to you with Bahasa’s version easy to get understand for others. The subtance of whole article already agreed by Mira Lesmana and Riri Riza due to after accomplished it was corrected by them at Focus Group Discussion in Tempo’s magazine office.

Hopefully you can post it at your WordPress as part of our campaign against censorship.

As he wished, of course, I post this in my blog. Happy reading, guys! Comments and critics are appreciated, and will be forwarded to the writer.

Ketika Karl Marx mengumumkan Manifesto Komunis pada tahun 1848 serentak ketika itu pula masyarakat Eropa merasa tercengang oleh pergolakan-pergolakan ekonomi dan sosial yang sedang menghebohkan benua Eropa. Hantu komunis tengah bergentanyangan di Eropa dan membuktikan bahwa Manifesto Komunis adalah di antara warisan dunia yang termasyhur, yang memberi perangsang kepada gerakan yang dapat mengubah dunia secara radikal, yaitu gerakan pekerja revolusioner. Lain halnya di Indonesia dunia perfilman kini tengah mengalami ketakutan karena hantu sensor bergentayangan dalam bentuk pemotongan film dan pelarangan tayang ataupun edar. Sensor di Indonesia tidak dapat merubah apa apa kecuali menyebarkan pembodohan dan penipuan sejarah. Selama industri perfilman Indonesia masih dihegemoni oleh kekuasaan sensor jangan pernah berharap bahkan bermimpi bahwa ia akan maju. Justru sebaliknya kondisi perfilman akan mengalami stagnasi alias jalan ditempat.

Puluhan tahun sensor begitu dilembagakan sejak zaman kolonial hingga era reformasi sekarang. Apa yang terjadi kemudian adalah dukungan membabi buta oleh masyarakat terhadap sebuah lembaga bernama Lembaga Sensor Film. Upaya mengontrol film dilakukan Orde Baru dengan memberlakukan Undang Undang Film No 8/1992 untuk membentuk Lembaga Sensor Film. Sebagai sebuah lembaga yang merepresentasikan negara, Lembaga Sensor terlalu jauh mengurusi moral anak bangsa padahal dalam dirinya sendiri Lembaga Sensor adalah salah satu dari sekian lembaga pemerintah paling bobrok selain misalkan Depag ataupun PSSI. Yang menjadi fatal kemudian adalah bahwa ukuran pantas atau tidak layaknya sebuah film bagi Lembaga Sensor terletak pada adegan ciuman dan seks saja. Maka tidak heran kemudian apabila sekumpulan pembuat film progresif dalam hal ini MFI menolak kehadiran sebuah Lembaga Sensor dengan alasan MFI adalah tidak adanya kriteria dan standar yang jelas dalam mementukan sensor dan lebih baik LSF dibubarkan saja diganti dengan lembaga klasifikasi. Ide tersebut membuat orang lantas menuding mereka ingin membuat film porno. Bahkan seorang sastrawan terkemuka –yang seringkali menghujat Pramudya AT hingga akhir hayatnya –menuduh orang orang ini ingin membuat gerakan syahwat merdeka.

Sebenarnya kalau ditilik lebih jauh Lembaga Sensor Film itu mirip Majelis Ulama Indonesia dan BIN yang ketiga tiganya meminjam istilahnya Riri Riza lembaga super body. Super body berarti super korup dalam pengertian luas tidak saja melulu melakukan korupsi uang tetapi menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Lembaga lembaga ini mempunyai kesamaan kerja dan operasi. Yang pertama bertugas mendakwa, menilai film layak atau tidak sebuah film untuk ditonton. Sementara yang kedua hanya tau bagaimana menuduh seseorang sesat dengan argumentasi bahwa menyimpang dari ajaran yang sesungguhnya dalam hal ini ajaran Islam. Yang ketiga pun tak kalah mengerikannya adalah mencurigai, menangkap bahkan membunuh seseorang yang dianggap membahayakan integritas Negara dan keutuhan teritorial Indonesia, Munir adalah contoh dalam kasus ini. Ketiga lembaga tersebut telah melebihi kewenangan institusi Kepolisian bahkan Kejaksaan Agung sekalipun. Tak pelak kemudian ketika ada usulan bahwa sebaiknya Lembaga Sensor Film dibubarkan ketika itu pula tokoh agama yang mewakili MUI bereaksi keras dan jangan lupa juga bahwa LSF didukung habis habisan oleh preman berjubah alias Front Pembela Islam.

Membubarkan LSF ibarat Komnas HAM memanggil para purnawirawan Jendral TNI yang terlibat dalam sejumlah pelanggaran HAM yang tidak mau memenuhi panggilan padahal statusnya masih sebagai saksi bukan tersangka. Ironisnya seorang Menhan yang katanya ingin mereformasi TNI justru mendukung mereka untuk tidak perlu datang memenuhi panggilan Komnas HAM tersebut. Klasifikasi yang ditawarkan oleh MFI adalah sebuah bentuk kepedulian terhadap fenomena industri film masa kini yang menurut banyak orang semakin maju padahal adalah semu. Karena para pengusaha film sangat kooperatif dengan kinerja LSF yang sangat buruk dengan cara mencari aman dan ini pula didukung oleh mafia perfilman. Dan banyak yang tidak mengetahui bahwa apa yang terjadi dalam LSF adalah permainan bisnis segitiga antara LSF, pengusaha film dan mafia. Dan apa yang jelas terlihat dalam UU Film sangat fasis dan tidak mendidik sama sekali.

Contoh kasus adalah beberapa film Jakarta International Film Festival (Jiffest) diantaranya adalah Black Road yang menceritakan tentang keinginan besar rakyat Aceh untuk lepas dari NKRI yang diagung agungkan. Film ini disutradarai oleh jurnalis lepas asal Amerika Serikat yang sempat ditahan selama empat puluh hari dan juga dianggap sebagai mata mata GAM oleh pemerintah Indonesia. Apa yang terjadi kemudian dengan film ini adalah ditolak seutuhnya dengan alasan masyarakat Indonesia belum siap untuk menyaksikan film ini. Selain itu film Tales of Crocodiles dan Pasabe –yang kedua-duanya mengungkap kejahatan militer yang memback up para milisi untuk melakukan pembantaian terhadap mereka yang menolak bergabung dengan NKRI –juga bernasib sama harus berakhir diruang simpan film. Film film Jiffest tersebut adalah korban dari UU Film bentukan rezim totaliter Orde Baru yang mengatakan bahwa menolak film yang bertentangan dengan ketertiban umum dan rasa kesusilaan serta tidak menyinggung SARA. Hal inilah kemudian yang menjadi ukuran mereka dalam melakukan sensor tentunya sebagai kepanjangan tangan penguasa meminjam istilahnya Louis Althusser – ideological state apparatus – mereka tidak mau kekuasaan itu goyah hanya karena sebuah film. Sementara sinetron sinetron busuk tetap tayang ditelevisi dan film film sampah tetap terus masuk kedalam gedung gedung bioskop.

Penulis berpendapat bahwa ide Lembaga Klasifikasi yang ditawarkan oleh kawan kawan MFI adalah sesuatu yang masuk akal dan bukan karena film film yang mereka produksi sering mengalami pengguntingan dan penolakan untuk edar. Hal itu patut didukung oleh semua masyarakat yang mencintai film kalau memang film Indonesia ingin maju. Timbul dimasyarakat sikap reaksioner dan emosional menanggapi bahwa kawan kawan MFI sedang ingin merongrong moral bangsa adalah suatu bentuk sesat pikir karena logika yang ada dimasyarakat itu sudah terbalik bahwa ada lembaga sensor saja film film porno masih banyak ditemukan apalagi tidak. Logikanya adalah tidak sesederhana itu. Nah itulah yang kemudian menjadi tantangan kawan kawan MFI dan kita juga untuk melawan mainstream pemikiran seperti itu.

Menurut Mira Lesmana aturan klasifikasi itu justru membuat aturan perfilman lebih ketat sehingga orang akan berpikir dua kali dalam membuat film karena berdasarkan kriteria umur calon penonton. Dan ini juga memberikan tugas baru kepada bioskop untuk melarang calon penonton yang ingin menonton film yang tidak sesuai dengan kapasitas umurnya. Sehingga pemilik bioskop tidak melulu hanya mengeruk keuntungan tapi diajak untuk berpikir dan melakukan pendewasaan terhadap calon penonton. Sebenarnya apa yang ditawarkan oleh kawan kawan MFI adalah bentuk dari self regulalatory dalam industri perfilman Indonesia dengan aturan dan tata krama sehingga para pembuat film tidak seenaknya secara sembarangan membuat film yang tentunya juga memberikan tugas baru terhadap pembuat film untuk kalangan mana film itu dibuat. Syukur syukur pembuat film itu tidak membuat film film sampah dan norak.

Muhammad Idenk Rusni

Film Traffic Coordinator

Jakarta International Film Festival (Jiffest)


Seluas Langit Biru

Reading time: 3 – 5 minutes

I’d like to review a book. But in Indonesian I was reading on Sitta Karina’s mailing-list, the members wrote her reviews so I’d like to do so. Sitta Karina is a famous teen literature author, she gave blurbs about my book (you know :P) on 2005 and we still keep in touch until right now.

She asked me to give some comments for her newest book, Satu Hari Berani. You can read my name on the paperback, hehe.

I had just finished her (another) newest book, Seluas Langit Biru, which is published by my former publisher, Terrant Books. Here goes..

Seluas Langit Biru (SLB) menceritakan tentang Bianca Hanafiah, yang dijodohkan oleh Nenek dengan Sultan Syahrizki, seorang pengusaha muda. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses merger MataCakra pimpinan Sultan dengan Hanafiah Group. Terlebih lagi, Sultan adalah laki-laki yang tampan dan bermasa depan cerah, yang sayangnya terlalu serius dan kaku untuk bisa membuat Bianca jatuh cinta. Meski tomboy, Bianca ingin sekali memiliki kisah cinta yang indah, bukan perkawinan karena perjodohan semata.

Seperti cerita-cerita lain yang Sitta tulis, SLB pun diceritakan dari dua sudut pandang, di mana selalu ada sisi baik dan buruk dari segala hal. Hal ini adalah ciri khas Sitta, selain memiliki tokoh-tokoh dari berbagai macam karakter, kultur, strata sosial dan status ekonomi. Mengingat SLB adalah salah satu dari rangkaian saga Keluarga Hanafiah, Sitta tetap menonjolkan fakta bahwa di balik kehidupan sosialita yang serba mewah dan glamor, selalu ada maslaah, kepalsuan, intrik, dan tentunya: kesederhanaan. Di cerita-cerita sebelumnya, misalnya Lukisan Hujan, tentu saja ada Diaz dan Sisy yang sama-sama menikmati jadi “orang biasa saja”. Pesan dari Bintang mengangkat figur Niki, yang sebenarnya cukup kaya–mengingat kakaknya bersekolah di Australia dan Ia bisa kuliah di universitas borju, tapi diceritakan bahwa Niki adalah pribadi yang sangat, sangat sederhana dan begitu menghargai jerih payah seseorang untuk memperoleh kehidupan yang layak. SLB menggambarkan Bianca dan Aozora, dua sosok yang sama-sama tajir-setengah-mati, ternyata benci menjadi sosialita dan ingin memperoleh segala hal dengan keringat mereka sendiri, dengan susah payah.

Di novel ini juga, kita dapat melihat sisi protektif Reno lebih dalam, yang di cerita-cerita sebelumnya kurang diperlihatkan; Nenek Helena yang (diceritakan di sini) sedikit kecewa karena Inez justru memilih Niki (sementara di novel-novel sebelumnya, Nenek Helena diceritakan sebagai pribadi bijak dan ‘sempurna’); dan banyak hal lain (yang kalau ditulis di sini justru seperti spoiler).

Selain itu, chemistry antara Bianca dan Sora dibangun dengan sangat baik sehingga hampir menyamai chemistry yang tercipta antara Diaz-Sisy. Cara yang ditempuh Sitta pun sama, menulis sejujur-jujurnya, bagaimana Bianca dan Sora melewati hari-hari mereka (bertengkar, bertengkar, bertengkar…) sampai akhirnya satu tidak lengkap tanpa ada yang lain.

Sayangnya, “durasi” cerita kurang panjang, yang membuahkan kekurangan lainnya. Seperti fakta bahwa banyak hal yang missed (tidak biasa-biasanya Sitta seperti ini), seperti alasan mengapa Bianca harus menikahi Sultan. Demi keluarga. Namun, tidak dijelaskan secara spesifik. Apakah Hanafiah Group diambang kehancuran sampai-sampai harus merger? Apakah Sultan tidak bisa diajak negosiasi dengan perusahaan sekaliber Hanafiah Group? Nenek kecewa karena Inez menikahi orang yang biasa saja. Tapi, pendapat ini tidak muncul dari mulut siapapun, melainkan buah pikiran Bianca saja. Sisi baik Sultan juga kurang digali, Ia berdiri di halaman-halaman buku sebagai figur workaholic, kaku dan menyebalkan. Penyelesaian dengan Sultan juga hanya begitu saja, padahal sifatnya krusial. Mungkin perpisahan juga menjadi pilihannya, sayangnya seharusnya Bianca dan Sultan sedikit-banyak berdiskusi tentang masalah ini dengan kepala dingin, tidak dengan Bianca langsung “pindah lagi” ke Sora.

Deadline, oh, deadline

But after all, it is a good book though, I enjoy reading it. It got a third-place in my heart after Lukisan Hujan and Pesan dari Bintang. Saya hanya menyayangkan cerita ini terlalu cepat, padahal sebenarnya banyak hal yang bisa digali lebih dalam, sehingga seharusnya bisa sesukses LH dan PDB. Still many thumbs up for mon ami, Sitta Karina Rachmidihardja. Semoga bayi lahir dengan selamat dan ibunya juga ya


The Fall

Reading time: 2 – 2 minutes

New layout! LOL I’m bored, but I got many things to do and decided to write on my blog because I’m really, really bored and tired. Anyways, a few weeks ago I watched The Fall (finally!) with my bf in Blitz Megaplex.

Click here for the trailer.

The Fall was directed by Tarsem Singh, the one who directed J.Lo’s The Cell in the 2000s. This movie is his “comeback” after his absence for years since the release of his previous movie. It plots Roy (Lee Pace), a hopeless stuntman who was injured and had to stay in a hospital for weeks. He was very upset and broken-hearted and really wanted to commit a suicide. Then, he met Alexandria (Catinca Untaru), an innocent girl who loves to daydream and loves bedtime stories. Too bad, Roy told her stories and manipulated them so she will help him taking a bottle of morphine to kill himself.

The story may be very usual, or boring. But, Tarsem visualized Alexandria’s imagination! The movie was shot in more than 15 countries, including Italy, France, USA, India, Cambodia, China, and also Indonesia! You will eventually see the characters welcomed by Kecak Dance, and also the Bali atmosphere.

You should see for yourself. Stunning.

Well, the best thing is, the movie hasn’t been released in the United States. It will be released next month while it was produced in 2000 and had been screened in Jakarta International Film Festival 2007 and Screamfestindo.

Screwed

Reading time: 2 – 2 minutes

Hey guys, sorry for the *silence* for the last two weeks. I got 10 tiring days since my 17th birthday, and I’m quite awful right now. The birthday bash was so great.

  • I got about 180 greetings on that day (calls, SMS, Friendster and all kinds of “socializing sites”, IMs, direct speech, etc).
  • I got surprise from my bestfriend Suryo (who’ll be at the front row of Incubus’ concert tomorrow night) by the midnight, and a home-made birthday cake from my junior HS peeps.
  • I got a Darth Maul action figure from my cousin, a set of painting tools from my beloved B, a pencil case from my friend, a DVD from Suryo, uhmmm…

Oh well, on Feb 25th my friends got mad at me about some thing. When I told my BF, he didn’t say a thing. When they told my BF later, he was mad at me too. We fought for three days straight, loud shouting on nights, which were very terrible

I was the committee of Malam Kesenian (MAKES) 2009: Pacific Paradise, an annual event of my school. I was the project secretary but still very busy on the D-day. The venue was at the poolside of grandkemang Hotel and you could see RAN and Richard and The Gillis if you came. The event was perfect till the midnight, but then, our seniors were very mad and tried to crash the “party” :| I was very upset, most of my friends cried that night.

Last Saturday, B and I had a fight again. I cried so hard. I still got many school assignments to do on Sunday, which tended to be very tiring.

I’m restless.
Screwed.

Sorry for the gloomy post.