B is for Bali :)

Reading time: 1 – 2 minutes

Yay yay yay! New layout!

Well, I’m bored people. That’s why I changed it to a brighter colour scheme. Sorry I haven’t got the time to write some reviews like Iron Man, The Incredible Hulk, Be Kind Rewind, Definitely Maybe, and so on, and so on.

Traditional Dancers in Bali (GettyImages)

Traditional Dancers in Bali (GettyImages)

I’m going to get my report book tomorrow and will depart to Bali due to a school trip by Monday! I’ll be staying there for 2 weeks until July 12th, 2008 How awesome and lovely. I’m happy!


Sweeney Todd: Demon Barber of Fleet Street

Reading time: 2 – 2 minutes

I just watched Sweeney Todd. Tim Burton – Johnny Depp, Oscar nominee, musical, thriller. Enough reason. I bought the DVD. It’s such a great movie. Well, great dengan “rasa” Tim Burton, seperti greatnya animasi The Nightmare Before Christmas di tengah arus Disney’s Classics, greatnya Edward Scissorhands.

Benjamin Barker (Depp) memiliki hidup yang sempurna, meskipun sederhana. Ia menikah dengan wanita cantik bernama Lucy (Laura Michelle Kelly), dan dikaruniai anak bernama Joanna (Jayne Wisener). Judge Turpin (Alan Rickman), yang ingin menikahi Lucy, mengirim Benjamin ke penjara selama 15 tahun. Sekembalinya dari penjara, rumahnya di Fleet Street telah menjadi toko kue Mrs. Lovett (Helena Bonham Carter). Lovett menceritakan bahwa Lucy telah meracuni dirinya sendiri, sementara Joanna diadopsi oleh Turpin. Benjamin pun tak segan-segan merencanakan balas dendam kepada Judge Turpin yang telah mengambil istrinya. He changed his name to be, as you know, “Sweeney Todd”.

There will be blood everywhere, since Todd kills everyone who comes to his barbershop using his barber knives. The film is dark, very dark, and beautiful at the same time. Musikal, sehingga kita dapat mendengar Helena Bonham Carter dan (terutama sekali) Johnny Depp menyanyikan lagu-lagu indah, seperti “Not While I’m Around”, “By The Sea” dan “No Place Like London”.

Tidak hanya lagunya, gambar yang disuguhkan Burton pun sangat indah. Bagian Kota London ditampilkan secara surreal dan cenderung horor, but it’s wonderful, really. The most disturbing thing is, blood, blood, blood. It’s okay though. The film comes up with a predictable should-have-been-a-twist-ending. I’ve known the twist much sooner. 4 stars out of 5, I guess


Fiksi

Reading time: 2 – 3 minutes

Saya sangat tertarik untuk menulis review film yang satu ini. Film garapan Mouly Surya ini menceritakan tentang Alisha (Ladya Cheryl), gadis kaya raya yang tidak bahagia karena selalu kesepian–orangtuanya sudah meninggal ketika Ia masih kanak-kanak. Suatu hari, Ia bertemu dengan Bari (Donny Alamsyah) dan (as we all have guessed) jatuh cinta padanya. Alisha pun penasaran (dan akhirnya menjadi obsessed) pada Bari, sampai-sampai Ia pindah ke rumah susun dan tinggal di sebelah kamar Bari, yang tinggal bersama Renta (Kinaryosih), kekasihnya.

Filmnya gloomy, tone yang dipersembahkan oleh Eros Eflin & Vida Sylfia pun gelap, seperti Cerita Jakarta di film Chants of Lotus. Bahkan, lebih gelap dan monoton lagi, sesuai dengan mood yang ingin diciptakan oleh Mouly. Ladya berakting dengan sangat baik, Ia memerankan perempuan yang obsesif dan posesif kepada satu-satunya laki-laki yang pernah Ia cintai, dan lama-kelamaan justru terlihat seperti psikopat. Padahal, Ia hanya ingin membuat Bari bahagia–dengan cara yang salah. Dialog-dialognya hampir brilian. Bagaimana tidak? Skenario Fiksi ditulis oleh, the one and only, Joko Anwar. Fiksi sejenis dengan Kala, meskipun dalam penggarapan masih sangat jauh dengan pendahulunya.

I’m interested with this movie karena melihat cap Official Selection Pusan International Film Festival di posternya. Good movie, tapi surreal. Nggak heran bioskopnya sepi. Orang Indonesia kan jarang mau nonton beginian, kayak Kala aja, hihi. Banyak scene yang bikin berdebar dan membuat kita inginnya membunuh Alisha. Well, it means, Ladya selalu sukses membawakan karakter apapun yang disodorkan padanya. Alia Ada Apa dengan Cinta, Neyna Biarkan Bintang Menari, dan Alisha Fiksi sama-sama pendiam, kurang ekspresif, dan pemimpi. Tapi, Ladya bisa membawakannya dengan berbeda, memberi mood dan kesan berbeda pula. Donny Alamsyah seperti biasa bermain dengan ekspresif, sementara Kinaryosih did well too.

I just don’t like this kind of movie, but it is a good one. Different with other summer movies, hahaha.


Summer Movies!

Reading time: 1 – 2 minutes

Yay, I’m back on track. I’m on holidays, not really stressed out anymore but still a bit lost, lol. I had watched a few movies, so I’ll be reviewing those movies in this blog. Hooray! I’ve gone to a massive dvd-buying too with my mom, so this holiday will be really fun. Ah yep, I’m going to a school trip on June 30, to Bali! Cmon, how awesome is that? A few of my long lost best friends are here too (Vanda has arrived since a couple of weeks ago from Singapore while Lena will be here on the 27th). I’ll be staying in Bali with loads of friends until July 12th. Fun, fun, fun! Can’t wait to take pictures and share my holiday stories, yippee!

So, I’ve watched Kung Fu Panda and The Incredible Hulk, of course. I’ve also watched Fiksi and St. Trinian’s. I’m gonna write the reviews after this post, but I think I’m going to write it in Indonesian since I wanna write in-depth reviews and I won’t do well in English (pardon me).

xoxo,

Alanda