College?

Reading time: 4 – 6 minutes

Masih ada sisa satu semester sebelum menghadapi the damned Ujian Nasional. Beberapa bulan belakangan, setelah the best summer ever di Bali, saya dan teman-teman sering sekali mendiskusikan masalah kuliah. What would we do for a living? Which major and uni would we choose for college? Sebagian besar teman saya masih bingung dan belum memilih. Bahkan, dua sahabat terdekat saya tidak mau lagi membicarakan masalah kuliah.

Menjadi senior, menjadi anak berusia 17 tahun–menurut saya–adalah menjadi dewasa. Menjadi dewasa adalah mengetahui yang mana yang baik dan salah, yang mana yang harus ditempuh. Menjadi dewasa adalah belajar mengambil keputusan, mengambil resiko, menjadi seseorang yang hidup.

I am not going to write self-help paragraphs or something. I hate self-help books. When I go to bookstores and see such things, I always want to say, “Hey, I can help myself. This is my life. Your words DO NOTHING, and your words DO NOT HELP.

Dulu, saya adalah orang yang mementingkan perasaan orang lain. Apa yang orangtua saya mau, apa yang pacar saya mau, apa yang teman-teman saya mau. Apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka bilang. Dulu, saya adalah orang yang memikirkan terlalu banyak hal kecuali perasaan saya sendiri. Saya pernah berpikir, it’s okay to get hurt as long as my beloved ones are happy. For once in my life, saya merasa saya harus melakukan apa yang saya mau lakukan!

Going to college is the perfect time to make a choice, take honest decisions, so we’ll live well. Hal yang paling penting dalam memutuskan sesuatu, saya rasa, bukanlah mengambil the best decision, tetapi the most honest decision. Keputusan yang paling baik belum tentu yang paling jujur. Jurusan di kuliah nanti adalah sesuatu yang sangat penting bagi masa depan kita. It’s like choosing something you want to do for the rest of your life and that’s big!

Dua tahun lalu, saya terobsesi untuk kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di ITB atau UPH. Sedikit sekali orang yang mendukung saya ketika itu. Mereka bilang, saya sebaiknya memilih jurusan yang lebih serius seperti Kedokteran, Hukum, Teknik, dsb. Saya benci kata-kata tersebut. Mereka bilang, desain bisa lewat kursus! Apa sih beda menjadi copywriter dan akuntan? Apa bedanya menjadi sutradara iklan dan dokter? Profesi apapun adalah profesi yang baik and must be taken seriously. Saat itu, saya menyerah. Mereka minta saya jadi dokter, saya nurut. Saya berhenti menggambar, berhenti bermain dengan Photoshop, berhenti berharap akan ikut bimbingan belajar Villa Merah supaya bisa kuliah di Bandung. Saya tidak lagi membuka catatan saya yang berisi rincian program studi DKV di FSRD ITB.

One day, I discussed this with my (coolest uncle). He said, “Kamu mau jadi dokter dan ambil kursus desain? Berarti kamu akan menjalani dua-duanya setengah-setengah. What is your passion? Art? I have faith in you. You got the potential. You have everything you need. Writing skills, creativity… I will train you. You can be the best director in Indonesia.”

Itulah titik bangkit saya. Saat itu, saya mulai memikirkan apa yang saya inginkan, saya cita-citakan, saya sukai. Apa yang saya mau! Saya rasa, semua orang bisa sukses apabila mereka menjalani apa yang mereka mau. Pernah dengar quotation, Choose the job you love and you will never need to work for the rest of your life.?

Saya selalu bangga kepada teman-teman saya yang mengejar impian-impian mereka, meskipun mereka harus mengorbankan keinginan orang lain (orangtua, misalnya). Walaupun mereka harus melawan arus.

  • Anangga berhenti kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta untuk menjadi koki. Sekarang, ia sudah selesai menjalani Professional Cooking Course di Chezlely Culinary School, sudah mendapat beberapa job offers, yang ditolak karena masih mau ambil sekolah pastry.
  • Econ tidak menyelesaikan SMA karena berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA).
  • Naren tidak ikut ujian akhir semester untuk bertanding baseball di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008.
  • Debra tidak menyelesaikan SMA dan langsung kuliah di LaSalle College of Arts.
  • Sitta Karina lulus dari Teknik Industri Trisakti dan menjadi penulis best-selling.
  • Haqi batal meneruskan ke universitas karena diterima kerja di production house. He is writing a movie script at the moment.

I have made my decisions. So what are yours? Remember the best quote from the movie Dead Poets Society?

Carpe, carpe diem. Seize the day, boys. Make your lives extraordinary.


Laskar Pelangi

Reading time: 2 – 3 minutes

Laskar Pelangi, diangkat dari novel best-seller karya Andrea Hirata, akhirnya dirilis pada tanggal 25 September 2008. Film ini memiliki pesona yang sama seperti film-film Miles Films sebelumnya, Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta?. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah penonton yang membludak seperti yang terjadi pada rilis kedua film tersebut. Saya sampai tidak berhasil nonton di hari pertama karena kehabisan tiket, dan akhirnya menonton di hari kedua.

Riri Riza, yang duduk di bangku sutradara, berhasil merangkum satu buku ke dalam bentuk film. Saya rasa, pengemar novel Laskar Pelangi tidak akan kecewa ketika menonton filmnya. Sebab, Riri mencantumkan seluruh bagian penting (dan detil) dari novel. Dari pertemuan Lintang dengan buaya, pertemuan-pertemuan Ikal dengan (tangan) A Ling. Keindahan Belitong pun disuguhkan dengan sinematografi yang baik. Belum lagi screenplay by Salman Aristo yang sanggup membuat kita tersenyum, tertawa, dan menangis bersama sepuluh anggota Laskar Pelangi.

Untuk masalah akting, tentu saja kita tidak akan meragukan kualitas aktor dan aktris kawakan yang mendukung film ini. Cut Mini dan Ikranegara bermain dengan luar biasa. Kita sudah mengenal akting Cut Mini lewat film-filmnya terdahulu. Saya belum pernah menonton film Ikranegara, tetapi pernah melihat penampilannya membacakan puisi, yang memang luar biasa. Begitu pula dengan pemain-pemain lainnya yang juga sudah senior seperti Rieke Diah Pitaloka, Mathias Muchus, Jajang C. Noer, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Ario Bayu, Slamet Rahardjo, Rifnu T. Wikana, Robby Tumewu dan Alex Komang. Akting newcomers asli Belitong pun patut diacungi jempol. Pemeran Ikal (Zulfanny), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Verrys Yamarno) yang on spotlight berakting baik, dan membuktikan bahwa mereka pantas bermain dalam film ini.

[Read more…]


Hitchcock’s Classics

Reading time: 2 – 2 minutes

These are some advertisements from The 2008 Hollywood Portfolio by Vanity Fair.

Rebecca, 1940
Keira Knightley and Jennifer Jason Leigh. Photograph by Julian Broad.

Strangers on a Train, 1951
Emile Hirsch and James McAvoy. Photograph by Art Streiber.

To Catch a Thief, 1955
Gwyneth Paltrow and Robert Downey Jr. Photograph by Norman Jean Roy.

The Birds, 1963
Jodie Foster. Photograph by Norman Jean Roy.

Psycho, 1960
Marion Cotillard. Photograph by Mark Seliger.

Click here for the original article.


BDM 2008 + Everybody Loves Irene

Reading time: 2 – 2 minutes

Reading Harus Bisa! by Dr. Dino Patti Djalal
Listening to
It’s My Turn by Diana Ross
Random Dream List
27) Visit Serengeti, Africa

Hello. I’ve been out of internet connection, pardon me for lack of updates and late replies. I’ve told you on my last post about my contribution on the Bunuh Diri Massal series by Fajar Nugros. From now on, you can listen to Everybody Loves Irene‘s song, The Big Bang Prophecy, while reading the whole series on http://bdm2008.everybodylovesirene.com.

bdm

I’m very happy when Fajar texted me, really. 1.632 people hit the site on September 10, 2008. This is somehow something big for me. Especially when I read the description on the site and read how they wrote about me. Thank you very much, Fajar & ELI, and everyone who have read the series for the support.

I hope I can become better and better in writing. Amien.

Let’s make a world of utopia
Where there will be no hysteria