Rainy Sunday On A Highway

Standard

I cried today. And no, it’s not about relationshits.

Saya begitu bersemangat menghadapi “masa depan”, dalam hal ini, kuliah. Saya apply untuk full scholarship ke beberapa universitas di luar negeri, seperti Ritsumeikan APU dan Wesleyan. Saya juga ingin datang ke international education expos, meskipun belum kesampaian karena selalu bentrok dengan acara lain.

Hari ini Ibu bilang, bahwa kalaupun saya menerima beasiswa ke luar negeri, ia tidak akan mampu membiayai kehidupan saya di sana. Bahwa daripada berandai-andai, lebih baik tidak usah sama sekali. Bahwa ia tidak ingin mengecewakan saya.

Saya bilang, saya sudah tahu hal itu sejak lama. Tapi saya tetap coba apply untuk scholarship ini, tentu saja untuk kedua orangtua saya. Supaya mereka bangga.

Kalau orang lain percaya saya bisa, saya ingin orangtua saya tahu. Saya pun ingin tahu kualitas diri saya, apakah saya cukup baik untuk bisa terpilih menjadi kandidat penerima beasiswa. Apakah saya cukup kompeten? Saya hanya ingin tahu, dan tidak apa-apa jika saya tidak jadi sekolah di luar negeri. Yang penting, jangan bunuh mimpi saya. Yang penting, Ibu bisa bilang, “Eh, anak gue dapat beasiswa untuk sekolah di Jepang lho.” Itu adalah mimpi saya yang mutlak. Semenjak saya beranjak ke usia remaja, itu adalah mimpi yang selalu tersangkut di kepala. Saya ingin membuat Ibu dan Papa bangga. Mereka bukan tipe orangtua yang selalu mendampingi anaknya ikut lomba. Bukan pula yang menceritakan prestasi anaknya ke orang-orang lain. Tapi, mereka selalu ada di belakang saya, mendukung saya, meski mungkin hanya secara moril. Itu sudah lebih dari cukup.

Ibu bilang, hatinya teriris setiap kali beliau mendengar saya mau mengirim aplikasi beasiswa. Setiap kali saya ingin datang ke pameran pendidikan. Setiap kali saya membicarakan prestasi saya yang mungkin mendukung hal ini.

Saya akan berusaha sekuat tenaga, karena semua pasti ada jalan-Nya. Kalau saya diterima, siapa tahu saya bisa dapat scholarship yang mendapat “bonus” living cost. Saya bisa kerja di sana, atau menghasilkan uang dulu di Indonesia dari menulis. Yang penting niatnya, pasti Tuhan akan memberi kesempatan, bukan? Saya sangat percaya itu. Karena itulah, saya selalu berani bermimpi.

Saya bilang, “Bu, aku cuma mau mencoba. Siapa tahu bisa diterima. Kalaupun diterima tapi nggak diambil pun nggak apa-apa, yang penting Ibu bangga.”

Dan Ibu berkata, “Ibu akan sangat sedih kalau kamu bisa menerima beasiswa tapi Ibu nggak bisa memenuhi cita-cita kamu. Kamu mampu, tapi Ibu nggak mampu.”

Saya menjawab, “Ibu, kalau sampai aku bisa menerima beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Itu artinya, tanpa ke luar negeri pun, Ibu telah berhasil mendidik aku dengan baik dan benar. Ibu telah memberiku pendidikan yang layak.”

Saya menatap ke luar jendela. Mobil yang berlalu-lalang. Jalan tol yang rasanya tidak habis-habis. Dengan airmata yang menggumpal di sudut mata, lalu pecah dan jatuh ke pipi. Tanpa suara. Apapun yang selama ini saya lakukan, semata-mata saya lakukan untuk membuat Ibu bangga. Bukan buat saya, bukan untuk uang. Bukan supaya hati Ibu teriris.

$#!&

Standard

I was going to write a fun post today but I am pissed. I was so grateful Astrid left a comment about a competition which is held by The British Council. She said that I am qualified. I read on the description about the competition, I’ve downloaded the application form and very eager to do the video they asked for.

But, the due date was yesterday. That’s why. I feel terrible at the moment. I hate this. I hate this. Why hadn’t I know earlier?!

The candidates will attend a forum in Guildford, UK, on January. The elected candidate will become a representative at the World Economic Forum Annual Meeting in Davos, Switzerland. Dios. HELP.

Tell A Lie

Standard

Henry Hadlow‘s newest project is very impressive. It’s called Tell A Lie. This is what he wrote on his blog:

The most controversial lies told with photography today are those told by news photographers who manipulate their work photographs to tell a different story, for example, Liu Weiqiang‘s faked photograph of antelope and the rail link with Tibet.

Working with my friend Ed Cornish, we decided to flip this lie on its head and use a camera to mimic common Photoshop effects.