Pemuda-pemudi Pembuat Perubahan

Reading time: 5 – 8 minutes

Hari itu, saya sedang menjalani pelatihan untuk menjadi fasilitator di acara Global Youth Summit (GYS) keempat, sebuah acara yang diselenggarakan oleh British Council. Saya, bersama delapan rekan Global Changemakers dari seluruh dunia, dilatih untuk memfasilitasi berbagai sesi di GYS sebagai peer facilitator, mendampingi John Martin yang menjadi fasilitator utama. Pelatihan diselenggarakan selama seminggu di Jerwood Space, Southwark, London, pada tanggal 10 sampai 14 November 2009.

Di acara pelatihan inilah, saya pertama kali bertemu dengan Mohammed Barry, seorang pemuda sepantaran saya yang berasal dari Gambia. Jujur, waktu itu adalah pertama kalinya saya mendengar sebuah negara bernama Gambia. Gambia adalah sebuah negara Muslim di Afrika.

Suatu sore, kami diminta untuk memberikan pitch selama 2 menit, di mana kami menjelaskan aktivisme kami: apa yang telah kami lakukan, dan apa yang ingin kami lakukan, untuk “mengubah dunia” sebagai Changemakers. Ketika tiba saatnya giliran Barry, Ia maju dan memulai pitch-nya.

“Selamat malam. Nama saya Mohammed Barry. Saya berasal dari Gambia. Saya adalah satu dari 40 juta penduduk dunia yang mengidap penyakit HIV/AIDS.”

Saya membeku ketika mendengar hal tersebut. Bukan karena takut, melainkan karena motivasi saya tiba-tiba naik sebesar entah berapa persen! Saya, bersama Barry dan fasilitator lainnya, telah menjalani hari-hari bersama di sebuah hostel di bilangan Rotherhithe, di dekat Canada Water. Kami pergi makan di Chinatown, berjalan-jalan di pinggir danau Surrey Water, dan bertukar informasi mengenai negara masing-masing di dalam tube maupun taksi. Saya menyimpulkan bahwa Barry sama seperti yang lainnya. Hal tersebut memancing konklusi lain, bahwa orang yang mengidap HIV/AIDS sama seperti orang lain, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk mendiskriminasi mereka maupun memperlakukan mereka dengan berbeda. HIV/AIDS tidak menular lewat kontak fisik maupun udara. HIV/AIDS hanya akan menular jika terjadi pertukaran cairan tubuh.

Fakta ini membuat saya menjadi jauh lebih mengidolakan Barry. Ia adalah sosok yang sangat inspiratif bagi saya dan teman-teman fasilitator lainnya. Saya bercerita padanya, “Barry, dulu saya punya kerabat yang mengidap penyakit yang sama. Tapi, ia tidak punya semangat hidup, dan ‘kalah’ hanya dalam waktu dua tahun. Saya pikir mungkin itu juga karena ia tidak rutin minum obat.” Barry menanggapi, “Saya sudah 11 tahun mengidap AIDS. Saya tidak pernah minum obat. Saya hanya mengandalkan semangat hidup dan dukungan dari keluarga saya.” Saya tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengarnya. Hanya bisa kagum.

Mohammed Barry mewakili negara Gambia di Africa Youth Summit 2009, yang diselenggarakan pada pertengahan tahun 2009 di Cape Town, Afrika Selatan. Di antara 84 orang yang juga berpartisipasi, Barry terpilih untuk mewakili Global Changemakers Afrika di World Economic Forum Afrika. Ia memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak yang kurang mampu, terutama yang mengidap berbagai penyakit, di rumah sakit. Ia juga memperjuangkan agar anak-anak di Gambia bisa mendapatkan pendidikan gratis dengan membangun sekolah komunitas yang tidak menarik uang iuran bagi murid-muridnya.

Selain Barry, masih ada Mousa Musa, seorang pemuda asal Baghdad, Irak. Mousa adalah Global Changemaker pertama yang harus menggunakan kursi roda dalam bermobilisasi. Pada awalnya, saya tidak berkesempatan untuk berinteraksi dalam waktu lama dengan Mousa, karena ia tidak berada di kelompok saya. Di hari terakhir GYS, terpilih 20 orang dari total 60 peserta yang akan diwawancara untuk mewakili Global Changemakers di berbagai high level events seperti World Economic Forum dan Global Humanitarian Forum. Mousa merupakan salah satu dari 20 orang tersebut. Dalam sesi wawancara, menurut semua staf British Council dan fasilitator yang hadir, Mousa adalah kandidat terbaik untuk mewakili Global Changemakers. Ia mendapatkan vote paling banyak dari tim penilai, dan mungkin juga dari rekan-rekannya di GYS. Mousa hendak memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak serta pemuda-pemudi yang cacat. Ia berhasil menyampaikan aspirasinya dengan lantang, padat, serta begitu persuasif. Lagi-lagi, saya merasa begitu terinspirasi.

Saya menulis ini bukan demi Barry maupun Mousa, tetapi demi anak-anak Indonesia—dan mungkin anak-anak di seluruh dunia. Salah satu isu terbesar yang dibahas di GYS keempat pada Bulan November 2009 adalah fakta bahwa anak-anak muda di dunia memiliki sifat apatis yang terlalu besar. Kita tidak pernah peduli, dan kita tidak pernah ingin membuat perubahan. Walaupun sebenarnya, kita bisa, dan kita mampu. Padahal, saat muda adalah saat yang paling tepat, di mana rasa idealisme kita masih berada pada puncaknya.

Bagi saya, Barry dan Mousa menjadi contoh bahwa tidak ada halangan bagi kita, anak muda, jika kita ingin membuat perubahan. Barry hidup dengan HIV/AIDS, sementara Mousa hidup dengan kursi rodanya. Rasa empati yang Barry miliki terhadap anak-anak di Gambia yang juga mengidap HIV/AIDS menumbuhkan semangatnya untuk memperbaiki keadaan itu. Rasa empati yang Mousa miliki terhadap anak-anak penyandang cacat di Irak pun memupuk semangat yang sama baginya untuk melakukan perubahan. Barry dan Mousa percaya bahwa tanpa pendidikan yang layak, masalah-masalah yang terjadi di negara dan benuanya sampai kapanpun tidak akan terselesaikan. Dengan sarana dan prasarana yang terbatas, mereka berusaha untuk memupuk semangat dan motivasi kepada anak-anak dan pemuda-pemudi Gambia dan Irak.

Barry tidak pernah mengeluh kedinginan, kelelahan, apalagi mengeluh bahwa ia sakit. Ia adalah pemuda yang cemerlang, dan berani mengatakan pada dunia bahwa ia mengidap HIV/AIDS. Menurut saya, pengakuan seperti itu membutuhkan keberanian yang luar biasa besar.

Mousa tidak pernah putus asa maupun merasa rendah diri hanya karena ia harus menggunakan kursi roda. Sebaliknya, setiap malam ia melakukan sit down comedy (karena tidak bisa stand up comedy!) di depan peserta GYS, membagi pandangannya terhadap masalah yang dihadapi oleh negara-negara di dunia, terutama Irak, dan apa yang menurutnya bisa dilakukan oleh pemuda-pemudi dunia untuk memperbaiki hal tersebut.

Bagaimana dengan kamu? Apa yang sudah kamu lakukan untuk membuat perubahan?