Summer Holiday: NIVEA Sun Land!

Reading time: 4 – 6 minutes

What do you think of whenever you hear the phrase “summer holiday”? In my case, all I can think of would be: sun, friends, swimming, and – of course – the beach! Unfortunately, I have other things to do this summer. I am currently completing my internship commitment (of which I would share in details in my next posts), which makes my summer slightly different from what I can imagine.

For my ultimate summer holiday, it’s imperative for me to put sunscreen on! Sometimes, I don’t even bring my swimsuits, but I always bring my sunscreen with me whenever I spend my days outdoors (especially around the pool, beach, and anytime under the sun!). Here are a number of tips from this website about applying sunscreens:

  1. Reapply sunscreen in every two hours! This is something I did not know before. No wonder I got sunburn in Belitung – I did not reapply my sunscreen as often. The sunburn really hurt my skin – it’s far from some sexy tan! Good thing my traveling mate brought some after sun gel with aloe vera that soothed my skin directly.
  2. Sunscreen should be applied 1.5 hours before going out to the sun. Most people only apply sunscreen right before they spend their time outdoors. Apparently, if we put sunscreen earlier, it gives time for our skin to absorb the sunscreen and its ingredients.
  3. Makeup and moisturizers with sunscreens are never enough. We still need to apply a broad spectrum sunscreen if we are going under the sun for hours.

When we talk about under-the-sun skin treatments, we can never miss NIVEA. I remember how I used to apply NIVEA creams whenever I wanted to swim under the sun. I’ve been following @NIVEA_ID’s timeline and been envious about the NIVEA Sun Land event going on in Kuta Beach as we speak.

Anyone can come visit NIVEA Sun Land at Kuta Beach this weekend for free. There are several activities that would make us all yearn to be there and enjoy the ultimate summer holiday. There are longchairs that could be used by visitors for free, bouncy castle for kids, have massage in Massage Land (with a purchase of NIVEA Sun products), photo booth, volleyball arena, and cool lounge. There are also band and DJ performances. Moreover, visitors can win a BlackBerry Apollo by tweeting pictures of #NIVEASunLand and win MAP gift vouchers from on-the spot quizzes.

From the event reports also, I was curious to know more about NIVEA’s line of NIVEA Sun products. NIVEA Sun is the number 1 suncare brand worldwide.

Apparently, there are far more negative effects of sun rays other than getting burnt. The scariest one would of course be skin cancer and wrinkles, but in the short term, our skin might get really dull and dry. NIVEA Sun has a wide range of products that would help us protect our skin from the negative effects of sun rays. It includes Body Sun Protection with a variety of SPF amount. NIVEA Sun has those with SPF 20, 30, and 50. They also have Face Sun protection products, which are face creams with SPF 50. Moreover, NIVEA also has NIVEA Sun Moisturising After Sun Lotion (which I would really need if I ever get sunburn again).

I really can’t wait to have my (delayed version of) summer holiday! Perhaps this September. Can’t wait to get my hands on on the new range of NIVEA Sun too!

P.S.: NIVEA Sun Land at Kuta Beach is still on until tomorrow. Anyone of you is coming? :) 


Berdiri Di Kaki Sendiri

Reading time: 7 – 11 minutes

Disclaimer: Saya tidak tergabung dalam tim sukses maupun relawan Faisal-Biem. Tulisan (dan tweet-tweet saya melalui akun @AlandaKariza) murni merupakan ekspresi pribadi saya.

Saya sudah mengikuti akun Twitter @faisalbasri kira-kira sejak tahun 2010. Sudah cukup lama, memang. Saya kuliah di jurusan Bisnis Internasional dan beliau sering berbagi tweet mengenai bidang ekonomi. Baru dari sana saya mengenal Bang Faisal – bahwa beliau adalah ekonom yang juga dosen di sebuah PTN.

Suatu hari, tiba-tiba saya  membaca di linimasa bahwa Bang Faisal mencalonkan diri untuk menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta, diikuti dengan proses pengumpulan KTP dukungan dan donasi agar bisa menjadi calon gubernur (baca tentang proses pengumpulan KTP ini di blog Retha Dungga). Saya masih belum begitu mengikuti perkembangan Pilkada. Saya pikir, saya yang tinggal di Tangerang Selatan tidak akan bisa berperan karena tidak memiliki hak pilih di tanggal 11 Juli. Banyak juga yang bilang bahwa seorang calon independen akan menemukan banyak kesulitan dalam mengimplementasikan rencana-rencana programnya. Saat itu, saya lupa bahwa IYC juga merupakan suatu kegiatan yang diorganisir secara independen, tapi bisa tetap berjalan dengan baik selama tiga tahun ini. Singkatnya, saya belum menentukan ke mana dukungan saya akan memiliki tendensi.

Lambat laun, saya pun mulai mencaritahu dan mencoba memahami program-program para pasangan cagub-cawagub. Saya menonton acara-acara debat cagub, membaca tulisan-tulisan mereka dan membaca opini orang lain mengenai mereka. Dari semua pasangan, seandainya saya bisa memilih di tanggal 11 Juli ini, saya merasa akan menjatuhkan pilihan kepada Faisal-Biem. Selain karena independensinya, juga karena rencana-rencana programnya yang realistis dan ajakannya untuk “berdaya bareng-bareng”. Di semua debat cagub, Bang Faisal tidak menjatuhkan kandidat yang lain, malah beberapa kali memuji inisiatif-inisiatif yang telah diimplementasikan Jokowi di Solo, misalnya. Faisal-Biem mengajak warganya untuk bekerja bersama mereka. Warga dilibatkan dalam proses pembangunan Jakarta, sesuai dengan keahlian masing-masing. Saya ingat, dulu Pandji pernah bilang, ketika kita memiliki rasa memiliki terhadap sesuatu, kita akan berusaha mati-matian untuk menjaganya walaupun mungkin itu bukan tugas kita. Faisal-Biem akan membakar kembali semangat dan rasa itu.

Meskipun begitu, pada saat itu saya masih belum menyuarakan dukungan saya tersebut. Aktivitas saya melalui Indonesian Youth Conference membuat saya merasa berkewajiban untuk menjaga netralitas dalam menyuarakan pendapat di bidang politik. Berkali-kali saya mendengar berbagai komunitas anak muda mengalami hambatan dalam berkembang karena orang lain berasumsi bahwa penggiatnya tergabung atau merupakan simpatisan dari partai politik tertentu. Jadi, setiap kali saya diminta untuk memberikan testimonial di iklan persembahan sebuah parpol atau diminta berbagi di acara underbow sebuah parpol, saya selalu menolak demi menjaga netralitas tersebut agar tidak ada dampak negatif terhadap IYC.

Tapi saya lalu ingat: Faisal-Biem tidak didukung oleh partai politik manapun. Sama seperti IYC, pasangan ini pun mengusung nilai independensi yang serupa. Saya pun sedikit-sedikit mulai membagi tulisan-tulisan Pandji Pragiwaksono tentang Faisal-Biem. Beberapa hari lalu, Mas Pandji juga ‘nitip’ tulisannya di blog ini agar orang bisa tetap membaca tulisannya ketika bandwidth blog Pandji sudah melewati batas. Saya ingin mendukung calon yang independen. Saya sudah pernah melihat keluarga saya menjadi korban dari berbagai kepentingan politik yang bertabrakan satu sama lain, dan saya tidak ingin itu terjadi lagi di masa depan.

Sabtu lalu, sepulang dari menyelenggarakan acara IYC yang ketiga, saya menerima link dari Angga Sasongko berupa video di mana Bang Faisal menyebutkan Indonesian Youth Conference (salah ketik – diketik menjadi “Indonesia Youth Conference”) sebagai salah satu gerakan anak muda yang akan beliau dan Bang Biem bantu pengorganisasiannya (ada di program nomor 5 untuk anak muda, bersanding dengan Jiffest, Pameran Produk Inovasi, dan konser musik). Terus terang, saya dan teman-teman di IYC kaget. Antara senang karena kegiatan kami di-acknowledge oleh beliau, tapi juga heran bahwa IYC bisa sampai ke telinga beliau. Akhirnya, saya menghubungi Angga pada tanggal 8 Juli lalu dan menanyakan apakah IYC bisa bertemu dengan Bang Faisal dan Bang Biem atau tidak. Keesokan harinya, kami pun bertemu dengan Bang Faisal.

Sebagai anak muda, kami datang dengan banyak pertanyaan. Mulai dari seberapa jauh Bang Faisal telah berdiskusi dengan komunitas anak muda, apa saja program-program yang hendak diimplementasikan, bagaimana caranya agar bisa diimplementasikan dengan efektif, dan apa saja hambatan-hambatan yang akan menyertai. Salah satu dari kami menanyakan tentang kemungkinan bagi Bang Faisal untuk “berdaya bareng-bareng” dengan pasangan cagub-cawagub lain seandainya menang, dan apa yang akan beliau lakukan seandainya tidak berhasil memenangkan Pilkada besok. Semua pertanyaan itu dijawab dengan sangat lancar, baik, dan dengan solusi yang realistis – solusi yang kami percaya dapat diimplementasikan tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh warganya.

Yang saya sukai dari rencana-rencana program Faisal-Biem adalah bahwa mereka memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi tidak berlebihan. Mereka tidak mengusung janji-janji palsu untuk sekedar berkampanye sehingga masyarakat jadi berangan-angan. Mereka hanya membuat janji yang bisa ditepati. Program-program Faisal-Biem diunggah ke situsweb YouTube agar bisa “terekam” dan bisa warga “tagih” ketika mereka menjabat. Mereka telah membangun jejaring yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan rencana-rencana tersebut seandainya mereka terpilih. Mereka hendak memanfaatkan dan merevitalisasi infrastruktur yang sudah ada agar bisa digunakan dengan lebih efektif dan efisien. Mulai dari memanfaatkan gelanggang olahraga, museum, dan galeri; bekerjasama dengan PT KAI untuk mengoptimalkan jalur-jalur kereta api yang sudah ada – termasuk dengan menambah frekuensi trip; mengintegrasikan moda-moda transportasi yang sudah ada; dan banyak program yang hendak dilaksanakan bersama dengan Bank DKI. Faisal-Biem tidak punya janji muluk untuk membangun MRT, monorail, railbus, subway, atau apapun itu. Ia tahu bahwa untuk bisa membangun moda transportasi baru, moda transportasi yang sudah ada harus terlebih dulu direvitalisasi agar ada short-term solution. Bukankah melakukan pembangunan sistem baru ketika sistem yang sudah ada belum dibenahi justru akan menimbulkan kemacetan yang lebih parah?

Dana kampanye Faisal-Biem adalah sebesar 4,1 miliar. Bagi kita mungkin ini angka yang besar, tapi angka ini jauh di bawah dana kampanye pasangan lain seperti Hidayat-Didik (21,5 miliar) Alex-Nono (24,6 miliar), Jokowi-Ahok (27,5 miliar) dan Foke-Nara (62,6 miliar). 70 persen dari dana kampanye ini dirogoh dari kocek Faisal-Biem sendiri (termasuk dari menjual rumah). 30 persen dikumpulkan dari dukungan warga. Faisal-Biem tahu bahwa kita tidak perlu menghamburkan uang untuk bisa membuat perubahan positif. Oleh Faisal-Biem, dana sebesar 16 sampai 58 miliar yang dibutuhkan pasangan lain untuk membeli “seragam” kampanye, membagi-bagikan uang kepada warga, memasang TVC di bioskop, memasang billboard “Dirgahayu Kota Jakarta”, dan lain-lain, dapat dialokasikan untuk hal-hal lain yang Jakarta lebih butuhkan dibandingkan spanduk dan poster, misalnya pembangunan sarana yang lebih memadai untuk warga Jakarta di berbagai sektor.

Sepulang dari pertemuan itu, saya punya cita-cita baru. Saya ingin Faisal-Biem menang. Orang lain bilang, “Pilih Faisal-Biem, pasangan cagub-cawagub yang berhutang pada warganya”. Saya tidak memilih beliau karena itu. Saya sendiri yakin, siapapun yang membantu Faisal-Biem, tidak ada yang menganggap bahwa Faisal-Biem berhutang. Saya memilih beliau karena beliau percaya pada kekuatan warga, pada kekuatan masyarakat, pada kekuatan kita semua. Beliau percaya bahwa masyarakat memiliki kekuatan untuk bisa menentang orang-orang yang sebelumnya (merasa/dianggap) “berkuasa” di Jakarta. Jakarta tidak hanya milik orang kaya, tidak juga hanya milik ormas. Jakarta milik kita semua yang tinggal dan/atau beraktivitas di dalamnya. Dan Faisal-Biem, percaya pada kekuatan kita – kita yang selama ini jarang berkesempatan untuk berbicara. Faisal-Biem berada di garis depan karena mereka yakin masih ada warga Jakarta yang cukup waras untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah; bahwa masih ada warga Jakarta yang peduli dan akan membantu serta mendukung mereka membuat Jakarta menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali dibanding Jakarta yang kita punya hari ini. Untuk itu, sebagai warga yang beraktivitas di Jakarta, saya pun percaya kepada Faisal-Biem.

Faisal-Biem bersedia mengemban tanggungjawab demi warganya. Mereka tidak menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan warga. Mereka juga tidak menempatkan kepentingan materil di atas kepentingan warga. Mereka memiliki integritas dan kejujuran yang belum tentu dimiliki kandidat yang lain. Mereka tidak dilaporkan ke KPK atas dugaan kasus korupsi, maupun mengklaim karya orang lain untuk dijadikan bahan kampanye. Faisal-Biem, berdiri di kaki mereka sendiri, dan tetap menjunjung tinggi integritas itu. Mereka tidak mengorbankannya demi memiliki dana kampanye yang lebih banyak. Justru, mereka telah mengorbankan berbagai kepentingan pribadi mereka demi kepentingan umum. Demi masa depan yang lebih cerah untuk Jakarta.

Saya tidak berkesempatan untuk memilih di Pilkada besok. Tapi, sama seperti Faisal-Biem, saya percaya bahwa masih ada warga Jakarta yang akan memilih pemimpin yang berani jujur, berani menentang yang “berkuasa” demi membela yang lemah – demi mengembalikan kota ini ke tangan yang seharusnya memilikinya.

May the one who deserves it wins. The ones who dare to make a change, despite plenty of difficulties and obstacles. Those who keep struggling regardless of overwhelming storms. Those who have faith in us. Money might buy us power, but not integrity. Lies might buy us fame, but not honesty. But, integrity, honesty, modesty, and vision, for sure create great leaders. I would want to be led by those kinds of leaders. Those who, altruistically, are willing to serve the public instead of being served.

#Gimme5, Jakartans!