Berdiri Di Kaki Sendiri

Reading time: 7 – 11 minutes

Disclaimer: Saya tidak tergabung dalam tim sukses maupun relawan Faisal-Biem. Tulisan (dan tweet-tweet saya melalui akun @AlandaKariza) murni merupakan ekspresi pribadi saya.

Saya sudah mengikuti akun Twitter @faisalbasri kira-kira sejak tahun 2010. Sudah cukup lama, memang. Saya kuliah di jurusan Bisnis Internasional dan beliau sering berbagi tweet mengenai bidang ekonomi. Baru dari sana saya mengenal Bang Faisal – bahwa beliau adalah ekonom yang juga dosen di sebuah PTN.

Suatu hari, tiba-tiba saya  membaca di linimasa bahwa Bang Faisal mencalonkan diri untuk menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta, diikuti dengan proses pengumpulan KTP dukungan dan donasi agar bisa menjadi calon gubernur (baca tentang proses pengumpulan KTP ini di blog Retha Dungga). Saya masih belum begitu mengikuti perkembangan Pilkada. Saya pikir, saya yang tinggal di Tangerang Selatan tidak akan bisa berperan karena tidak memiliki hak pilih di tanggal 11 Juli. Banyak juga yang bilang bahwa seorang calon independen akan menemukan banyak kesulitan dalam mengimplementasikan rencana-rencana programnya. Saat itu, saya lupa bahwa IYC juga merupakan suatu kegiatan yang diorganisir secara independen, tapi bisa tetap berjalan dengan baik selama tiga tahun ini. Singkatnya, saya belum menentukan ke mana dukungan saya akan memiliki tendensi.

Lambat laun, saya pun mulai mencaritahu dan mencoba memahami program-program para pasangan cagub-cawagub. Saya menonton acara-acara debat cagub, membaca tulisan-tulisan mereka dan membaca opini orang lain mengenai mereka. Dari semua pasangan, seandainya saya bisa memilih di tanggal 11 Juli ini, saya merasa akan menjatuhkan pilihan kepada Faisal-Biem. Selain karena independensinya, juga karena rencana-rencana programnya yang realistis dan ajakannya untuk “berdaya bareng-bareng”. Di semua debat cagub, Bang Faisal tidak menjatuhkan kandidat yang lain, malah beberapa kali memuji inisiatif-inisiatif yang telah diimplementasikan Jokowi di Solo, misalnya. Faisal-Biem mengajak warganya untuk bekerja bersama mereka. Warga dilibatkan dalam proses pembangunan Jakarta, sesuai dengan keahlian masing-masing. Saya ingat, dulu Pandji pernah bilang, ketika kita memiliki rasa memiliki terhadap sesuatu, kita akan berusaha mati-matian untuk menjaganya walaupun mungkin itu bukan tugas kita. Faisal-Biem akan membakar kembali semangat dan rasa itu.

Meskipun begitu, pada saat itu saya masih belum menyuarakan dukungan saya tersebut. Aktivitas saya melalui Indonesian Youth Conference membuat saya merasa berkewajiban untuk menjaga netralitas dalam menyuarakan pendapat di bidang politik. Berkali-kali saya mendengar berbagai komunitas anak muda mengalami hambatan dalam berkembang karena orang lain berasumsi bahwa penggiatnya tergabung atau merupakan simpatisan dari partai politik tertentu. Jadi, setiap kali saya diminta untuk memberikan testimonial di iklan persembahan sebuah parpol atau diminta berbagi di acara underbow sebuah parpol, saya selalu menolak demi menjaga netralitas tersebut agar tidak ada dampak negatif terhadap IYC.

Tapi saya lalu ingat: Faisal-Biem tidak didukung oleh partai politik manapun. Sama seperti IYC, pasangan ini pun mengusung nilai independensi yang serupa. Saya pun sedikit-sedikit mulai membagi tulisan-tulisan Pandji Pragiwaksono tentang Faisal-Biem. Beberapa hari lalu, Mas Pandji juga ‘nitip’ tulisannya di blog ini agar orang bisa tetap membaca tulisannya ketika bandwidth blog Pandji sudah melewati batas. Saya ingin mendukung calon yang independen. Saya sudah pernah melihat keluarga saya menjadi korban dari berbagai kepentingan politik yang bertabrakan satu sama lain, dan saya tidak ingin itu terjadi lagi di masa depan.

Sabtu lalu, sepulang dari menyelenggarakan acara IYC yang ketiga, saya menerima link dari Angga Sasongko berupa video di mana Bang Faisal menyebutkan Indonesian Youth Conference (salah ketik – diketik menjadi “Indonesia Youth Conference”) sebagai salah satu gerakan anak muda yang akan beliau dan Bang Biem bantu pengorganisasiannya (ada di program nomor 5 untuk anak muda, bersanding dengan Jiffest, Pameran Produk Inovasi, dan konser musik). Terus terang, saya dan teman-teman di IYC kaget. Antara senang karena kegiatan kami di-acknowledge oleh beliau, tapi juga heran bahwa IYC bisa sampai ke telinga beliau. Akhirnya, saya menghubungi Angga pada tanggal 8 Juli lalu dan menanyakan apakah IYC bisa bertemu dengan Bang Faisal dan Bang Biem atau tidak. Keesokan harinya, kami pun bertemu dengan Bang Faisal.

Sebagai anak muda, kami datang dengan banyak pertanyaan. Mulai dari seberapa jauh Bang Faisal telah berdiskusi dengan komunitas anak muda, apa saja program-program yang hendak diimplementasikan, bagaimana caranya agar bisa diimplementasikan dengan efektif, dan apa saja hambatan-hambatan yang akan menyertai. Salah satu dari kami menanyakan tentang kemungkinan bagi Bang Faisal untuk “berdaya bareng-bareng” dengan pasangan cagub-cawagub lain seandainya menang, dan apa yang akan beliau lakukan seandainya tidak berhasil memenangkan Pilkada besok. Semua pertanyaan itu dijawab dengan sangat lancar, baik, dan dengan solusi yang realistis – solusi yang kami percaya dapat diimplementasikan tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh warganya.

Yang saya sukai dari rencana-rencana program Faisal-Biem adalah bahwa mereka memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi tidak berlebihan. Mereka tidak mengusung janji-janji palsu untuk sekedar berkampanye sehingga masyarakat jadi berangan-angan. Mereka hanya membuat janji yang bisa ditepati. Program-program Faisal-Biem diunggah ke situsweb YouTube agar bisa “terekam” dan bisa warga “tagih” ketika mereka menjabat. Mereka telah membangun jejaring yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan rencana-rencana tersebut seandainya mereka terpilih. Mereka hendak memanfaatkan dan merevitalisasi infrastruktur yang sudah ada agar bisa digunakan dengan lebih efektif dan efisien. Mulai dari memanfaatkan gelanggang olahraga, museum, dan galeri; bekerjasama dengan PT KAI untuk mengoptimalkan jalur-jalur kereta api yang sudah ada – termasuk dengan menambah frekuensi trip; mengintegrasikan moda-moda transportasi yang sudah ada; dan banyak program yang hendak dilaksanakan bersama dengan Bank DKI. Faisal-Biem tidak punya janji muluk untuk membangun MRT, monorail, railbus, subway, atau apapun itu. Ia tahu bahwa untuk bisa membangun moda transportasi baru, moda transportasi yang sudah ada harus terlebih dulu direvitalisasi agar ada short-term solution. Bukankah melakukan pembangunan sistem baru ketika sistem yang sudah ada belum dibenahi justru akan menimbulkan kemacetan yang lebih parah?

Dana kampanye Faisal-Biem adalah sebesar 4,1 miliar. Bagi kita mungkin ini angka yang besar, tapi angka ini jauh di bawah dana kampanye pasangan lain seperti Hidayat-Didik (21,5 miliar) Alex-Nono (24,6 miliar), Jokowi-Ahok (27,5 miliar) dan Foke-Nara (62,6 miliar). 70 persen dari dana kampanye ini dirogoh dari kocek Faisal-Biem sendiri (termasuk dari menjual rumah). 30 persen dikumpulkan dari dukungan warga. Faisal-Biem tahu bahwa kita tidak perlu menghamburkan uang untuk bisa membuat perubahan positif. Oleh Faisal-Biem, dana sebesar 16 sampai 58 miliar yang dibutuhkan pasangan lain untuk membeli “seragam” kampanye, membagi-bagikan uang kepada warga, memasang TVC di bioskop, memasang billboard “Dirgahayu Kota Jakarta”, dan lain-lain, dapat dialokasikan untuk hal-hal lain yang Jakarta lebih butuhkan dibandingkan spanduk dan poster, misalnya pembangunan sarana yang lebih memadai untuk warga Jakarta di berbagai sektor.

Sepulang dari pertemuan itu, saya punya cita-cita baru. Saya ingin Faisal-Biem menang. Orang lain bilang, “Pilih Faisal-Biem, pasangan cagub-cawagub yang berhutang pada warganya”. Saya tidak memilih beliau karena itu. Saya sendiri yakin, siapapun yang membantu Faisal-Biem, tidak ada yang menganggap bahwa Faisal-Biem berhutang. Saya memilih beliau karena beliau percaya pada kekuatan warga, pada kekuatan masyarakat, pada kekuatan kita semua. Beliau percaya bahwa masyarakat memiliki kekuatan untuk bisa menentang orang-orang yang sebelumnya (merasa/dianggap) “berkuasa” di Jakarta. Jakarta tidak hanya milik orang kaya, tidak juga hanya milik ormas. Jakarta milik kita semua yang tinggal dan/atau beraktivitas di dalamnya. Dan Faisal-Biem, percaya pada kekuatan kita – kita yang selama ini jarang berkesempatan untuk berbicara. Faisal-Biem berada di garis depan karena mereka yakin masih ada warga Jakarta yang cukup waras untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah; bahwa masih ada warga Jakarta yang peduli dan akan membantu serta mendukung mereka membuat Jakarta menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali dibanding Jakarta yang kita punya hari ini. Untuk itu, sebagai warga yang beraktivitas di Jakarta, saya pun percaya kepada Faisal-Biem.

Faisal-Biem bersedia mengemban tanggungjawab demi warganya. Mereka tidak menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan warga. Mereka juga tidak menempatkan kepentingan materil di atas kepentingan warga. Mereka memiliki integritas dan kejujuran yang belum tentu dimiliki kandidat yang lain. Mereka tidak dilaporkan ke KPK atas dugaan kasus korupsi, maupun mengklaim karya orang lain untuk dijadikan bahan kampanye. Faisal-Biem, berdiri di kaki mereka sendiri, dan tetap menjunjung tinggi integritas itu. Mereka tidak mengorbankannya demi memiliki dana kampanye yang lebih banyak. Justru, mereka telah mengorbankan berbagai kepentingan pribadi mereka demi kepentingan umum. Demi masa depan yang lebih cerah untuk Jakarta.

Saya tidak berkesempatan untuk memilih di Pilkada besok. Tapi, sama seperti Faisal-Biem, saya percaya bahwa masih ada warga Jakarta yang akan memilih pemimpin yang berani jujur, berani menentang yang “berkuasa” demi membela yang lemah – demi mengembalikan kota ini ke tangan yang seharusnya memilikinya.

May the one who deserves it wins. The ones who dare to make a change, despite plenty of difficulties and obstacles. Those who keep struggling regardless of overwhelming storms. Those who have faith in us. Money might buy us power, but not integrity. Lies might buy us fame, but not honesty. But, integrity, honesty, modesty, and vision, for sure create great leaders. I would want to be led by those kinds of leaders. Those who, altruistically, are willing to serve the public instead of being served.

#Gimme5, Jakartans!


Stand-up comedy: A trip to Indonesian middle class lives

Reading time: 8 – 14 minutes

It was the 13th of July 2011 when Ryan Adriandhy first brought me to an “open-mic” in Comedy Cafe, Kemang, Jakarta. I had no idea what an open-mic was. Apparently, it is a live show where people who are present in the venue could perform at the microphone. However, in regards to the stand-up comedy world, it is the place for stand-up comedians, or comics, to practice and test their new materials (commonly known as “comedy bits”), to an audience prior to performing in a bigger crowd.

Although Comedy Cafe routinely holds open mic sessions, the one on the 13th of July seems like a game-changing one. A few days back, Ryan told me he was going to do an audition to be one of the finalists of “Stand Up Comedy Indonesia” (SUCI), a show that has a similar model to NBC’s “Last Comic Standing” produced by Kompas TV. In the audition, he met Ernest Prakasa, another contestant aspiring to be a comic, just like Ryan. Both of them initiated to attend the open mic, inviting friends like Isman H. Suryaman, Pandji Pragiwaksono and eventually, one of Indonesia’s most successful comedy writers, Raditya Dika. The community of Indonesian stand-up comedians, under the name of StandUpIndo, was born that night.

Now, less than one year after that historical day, almost everything has developed into more fantastic terms. Ryan has attained the title of “the first professional stand-up comedian in Indonesia” given by Kompas TV after having championed the competition, Ernest is going on his endeavor by holding the first stand-up comedy tour in Indonesia with the name of “Merem Melek Tour”, Isman. has just secured a place to be one of SUCI’s second season’s finalists, Pandji has held the first stand-up comedy special in Indonesia “Bhinneka Tunggal Tawa”, while Raditya Dika is going to be one of SUCI’s second season’s judges.

Ryan Adriandhy rehearsing for “Koper”

A few weeks ago, Ryan brought me to another stand-up comedy performance, called “Koper”. It was actually a combination of stand-up comedy and theatrical play. That evening, I witnessed something that opened my eyes about the Indonesian stand-up comedy scene.

“Koper” featured 8 comics, all with different backgrounds and distinctive personalities. The line-ups are Sam D. Putra, Ernest Prakasa, Boris T. Manullang, Miund, Ryan Adriandhy, Soleh Solihun, Sakdiyah, and Insan Nur Akbar. I have seen their performances in different off-air and on-air shows, but not until that day have I noticed the characteristic that most Indonesian comics share in common. Almost every issue discussed on stage depicts the life and the concerns of Indonesian middle class society. A performance with diversified comics like “Koper” could give a preview of how Indonesian middle class perceive its nation and its surroundings.

To the international society, the nation is often branded as the “third largest democracy in the world” with such a big number of Muslims living in the country. I have heard so many times of how some people brag about Indonesia’s (supposedly) democratic system, especially by pointing out that we once had a female president and by restating that usually, democracy and Muslim citizens do not usually live side by side.

The concept was continually countered by many comedy bits. Such as the one addressed by Sam that Indonesians believe there is a joke consists of three letters: S, B, and Y; and how the government has made it difficult for poor Indonesians to claim that they are living under the poverty line. It is interesting to hear so many people laugh about the three-letters-joke, especially as soon as we remember that those three letters are also the initials of the president that more than 60% Indonesian voters voted for back in 2009.

Sam depicted his character as a successful person from the upper middle class society. Just like most middle class Indonesians, he has achieved so many things in his career. Yet, he was still unsatisfied and unhappy with his life and his wife. Sam’s bits are consistently featured with political concerns and sex, two things that most of middle class society also frequently discusses about. Similar matters are also brought up by Insan Nur Akbar, the runner up of SUCI’s first season, which was discussed in a slightly different point of view. By comparing the way Sam and Akbar discuss the issues faced in daily life, including the political issues, we can learn how 134 millions people who belong to the middle class category might face the same issues seen and solved in different ways.

As every comic must have a persona and style on stage, if we have frequently seen these comics performing, it would not be very difficult to guess what things they would discuss about, nor the perspective used to address these matters. Although every comic has different roles in the play and different bits, most of them still address ideas under a similar theme, which are the ones they know most and feel concerned most about. By only reading the line-up, I already knew that the show will include these issues: stereotypes given to Chinese, Bataknese, and Muslims; political issues; sex and relationship; also social media. Apparently, it was all true. Despite this, all comics pulled it off and did not fail to amaze the crowd, as no matter how generic or usual the personal themes might be, some comics still could offer slightly fresher bits.

Ernest, for example, was given the role as a cleaning service staff in the station. He still discussed mostly about the perks and drawbacks of being a Chinese living in Indonesia, now in the eyes of a cleaning service staff. Such as the stereotype of many Indonesians that “Indonesian Chinese must be rich” and how, as a Chinese, he has grown immune to anyone making remarks about his slanted eyes. Along came Boris, acting as a Bataknese pickpocket. Embedded with a noticeable Bataknese accent, he addressed all the characteristics that fall into the stereotype of other Indonesians to Bataknese. From being closely associated with pickpockets and public transportation drivers, having a very sturdy physical appearance as well as way of communication, to Bataknese food and how its supposed to be enjoyed. From these two performances alone, we could see that although Indonesia has the “Bhinneka Tunggal Ika” slogan, the diversified culture and ethnicities living side by side will always generate stereotypes, yet most of them consist of common misconceptions. At the same time, even with this happening, there are still plenty of Indonesians with so many differences among each other can live together harmoniously. It has been proven in all stand-up comedy shows held here by having so much diversity in one show.

Ryan and Miund, coming up as a pair in the play, shared the perspectives that most younger generation of the middle class society have in common. Much about love life, fashion, lifestyle, and of course, something you cannot miss from Indonesian middle class society: social media and its impact in our lives. Both of them ranted on how bad mobile telecommunications connections are in Indonesia, the expenses of being in a relationship and being a middle class having to afford some certain lifestyle, and how women and men can never seem to understand each other. Sounds familiar? The absurd relationship of men and women is always a sexy field for comedy bits to be created upon, as these issues are faced by everyone and anyone could understand it thoroughly.

Nonetheless, there is no single bit crafted without a message behind it. Ryan’s complaints about the absurdities of life he finds every time, for instance, has been a tool for him to remind the audience on how we often overlook the little things in life. We share the pie of being a part of middle class society in Indonesia. Even so, most comics see the things in lives discretely. How could the words on shampoo packaging remind us to appreciate the little things – if not addressed by these comics?

Soleh Solihun then performed on stage. Despite discussing mostly about Indonesian politics, Soleh, as usual, included a lot of remarks related to Islamic values, and once rebutted what Sam shared about Christianity. Similarly, Sakdiyah discussed about herself becoming a Muslim living in Indonesia, commenting about other Muslims not wearing helmets because they have worn kopiah and how the practice of taaruf should have more benefits than most people are aware of.

Sam, Soleh, and Sakdiyah shared their deeply personal values, which are related to their religious beliefs. Although in countries like the U.S. and the U.K. religious beliefs are often specifically addressed as well, the way of addressing this matter in Indonesian stand-up comedy scene is quite different. It might be quite difficult to perform something as controversial and as sensitive as George Carlin’s bit “Religion is bullshit”. However, in regards to religions, most comics who discuss it take it from the perspective of the ridiculousness of religious practice in Indonesia. Such as how Indonesians with Arabic ancestry are always perceived as “religious” people or how some “religious” people sometimes claim to have the privilege to do things that other people cannot do (such as, riding on a motorcycle without wearing a helmet).

The fact that so many people from different religious beliefs are living side by side in Indonesia is one of the essences of living in this country. I am wowed by how these comics, coming from a variety of backgrounds, are able to discuss these important and sometimes overlooked matters in fresh, funny ways. Comedy is about telling the truth, it is about getting your point across. With these issues brought up almost every day on open mics and stand-up comedy shows, I have no doubt that stand-up comedy is going to be one of the most effective tools to open people’s minds.

When other people might only say that Indonesia is a successful democracy, then pointing out the amount of Muslim population, and how we are able to live harmoniously with no problem, Indonesian stand-up comedians share what we all experience. That to reach the state of democracy, we are still learning on a long journey. That to live harmoniously with different ethnicity, culture, race, and religious beliefs, some misconceptions, stereotypes, and negative remarks might still be there and should not prevent ourselves from making peace with one another. That being successful is not only about money, but also the relationship with other things, other people, and things within ourselves. That one day we would be able to reach the state of “success” and “happiness” if we let our eyes and minds open to change, which might be sensitive and controversial, but necessary.


Mencari Sponsor & Rekanan Kerjasama

Reading time: 6 – 10 minutes

Hari ini, saya berbagi pengalaman saya dan teman-teman di Indonesian Youth Conference ketika kami harus mencari sponsor untuk menyelenggarakan IYC 2010 dan 2011 melalui Twitter. Di post ini, saya akan membagi versi lebih lengkapnya (pengembangan dari serial twit tersebut). Semoga dalam waktu dekat bisa ada versi lebih komprehensifnya di situs IYC.
Di IYC 2010, saya belajar banyak dari Bernhard Soebiakto (Ben), Veronica Colondam (Vera), dan Fajar Anugerah. Mereka bertiga saya anggap sebagai “mentor” saya, dan membagi banyak hal. Ben aktif di industri kreatif. Beliau adalah pendiri dan CEO Octovate Group, yang membawahi berbagai business units terkenal, termasuk OMG Creative Consulting. Ben juga merupakan seorang produser film dan memimpin FIMELA.com. Vera memiliki begitu banyak pengalaman di bidang sosial. Beliau mendirikan dan memimpin Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) selama kurang lebih satu dekade. Fajar yang bekerja di British Council memiliki pengalaman di bidang social entrepreneurship dan project management.
Ada satu pesan/tips dari Ben yang saya ingat: Ketika kita mencari target sponsor, kita bisa membuka majalah yang target market-nya sama dengan event atau proyek kita. Brand apa saja yang memasang iklan di sana?
Selain itu, ada banyak panitia acara anak muda yang melakukan “marketing call”, sebuah istilah yang entah diciptakan oleh siapa yang artinya menghubungi divisi marketing di berbagai perusahaan untuk diberikan proposal. IYC juga pernah melakukan hal tersebut. Kami menghubungi ratusan perusahaan dan mengirimkan proposal. Tidak ada satupun proposal yang tembus. Dari situ, kami belajar. Mencari sponsor harus didukung dengan rencana strategis. Ada pertanyaan yang harus dijawab: Mengapa sebuah brand harus mensponsori acara kita? Ini harus kita pikirkan baik-baik. Kalau perlu, kita pun bisa membuat customised proposal untuk masing-masing target sponsor. Ribet memang, tapi diperlukan!
Kita harus mengetahui betul apa kelebihan event kita. Dulu, IYC mencari “massa” melalui media sosial. Hal ini kami lakukan bukan karena hanya ingin menyampaikan informasi mengenai IYC ke orang banyak, tetapi juga kami memiliki sesuatu yang bisa disampaikan dan “ditawarkan” ke calon sponsor.
Selain itu, penting sekali bagi kita untuk membangun “relationship” dengan calon sponsor. Jangan cuma datang untuk minta uang saja. Kita harus memberi dukungan kepada mereka juga. Mungkin, sama seperti kita berteman dengan seseorang. Jangan cuma datang ketika “butuh” mereka saja, tetapi kita juga sebaiknya ada ketika mereka membutuhkan kita. Sebagai contoh, sekarang saya “dekat” dengan teman-teman yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang pernah mensponsori IYC, dan akhirnya justru bisa banyak belajar dari mereka. Teman-teman saya di IYC bahkan ada yang berkesempatan untuk magang di kantor mereka.
30 hari sebelum IYC 2010 digelar, kami masih tidak memiliki uang sama sekali! Waktu itu, sempat terpikirkan, “Apakah sebaiknya kita batalkan saja ya acaranya?” Sekarang, saya dan teman-teman tidak bisa membayangkan apabila waktu itu kami benar-benar menyerah. Semuanya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang.  :)
Yang harus kita pikirkan baik-baik selain sponsorship packages adalah budget. Tidak akan ada pihak yang mau mensponsori kita apabila budget yang kita presentasikan tidak masuk di akal. Ibu Vera “mengajarkan” saya untuk menghitung cost per head. Kata Ibu Vera, sponsor akan menghitung cost per head, yang berarti kira-kira seperti ini:
Misalnya, kita membutuhkan dana 100 juta untuk program yang impact-nya hanya untuk 100 orang, berarti cost per head: 100 juta : 100 orang = 1 juta per orang. Mahal sekali, kan? Berarti, kalau kita mau memiliki budget besar, impact-nya juga harus besar. Di IYC 2010, ketika kami mau membuat Forum, budget-nya sekitar 150 juta Rupiah hanya untuk 33 orang. CPH-nya berarti 4 juta per orang. Mahal sekali bukan? Akhirnya, kami harus merombak lagi acaranya.
Menurut saya, yang penting dan pertama kali harus dilakukan adalah mengetahui betul-betul apa kelebihan proyek yang kita rencanakan. Lalu, kita bisa membuat proposal yang menarik, menyusun budget yang masuk akal, dan mencari target sponsor. Contoh target sponsor, misalnya: Brand sportswear untuk acara cup sekolah, telco untuk pentas seni, perusahaan IT untuk acara yang berhubungan dengan teknologi. Setelah itu, kita bisa mencaritahu siapa yang bisa kita temui di sana. Misalnya, caritahu alamat e-mailnya, tweet ke akun Twitternya, atau datang ke acara-acara perusahaan tersebut.
IYC pernah hampir disponsori oleh sebuah maskapai penerbangan swasta setelah panitia twit ke Direktur Pemasarannya. Sayangnya, maskapai penerbangan tersebut hanya beroperasi di beberapa kota di Indonesia, sehingga beliau menolak mensponsori IYC karena menurut beliau kurang efektif.
Setelah bertemu dan berdiskusi, kita bisa mengirimkan proposal, via e-mail juga tidak masalah. Jika dalam 2 minggu belum ada respon, kita bisa mencoba untuk follow up melalui e-mail, SMS, atau telepon. Tapi, jangan demanding juga. Divisi Marketing itu pasti memiliki begitu banyak kesibukan lain selain membaca berbagai proposal yang masuk, lho!
Mengenai sponsorship packages, menurut saya penting bagi kita untuk tidak hanya fokus ke masalah pemasangan logo dan umbul-umbul. Tidak semua perusahaan mau memasang umbul-umbul saja, apalagi jika investasinya di proyek kita relatif besar. IYC dan rekanan kerjasamanya pernah menyelenggarakan kompetisi blogging, menulis, tweeting. Sponsor IYC juga ada yang menyediakan pembicara untuk Festival IYC. Ketika IYC disponsori perusahaan IT, kami “meminjam” komputer workstation senilai sekitar 30 juta rupiah yang sangat berguna bagi kami untuk membuat video teaser, poster, dan collaterals lainnya.
So, in my opinion, it’s not all about the money. Kerjasama dengan sponsor bisa bermacam-macam, tergantung dengan format kegiatan yang kita miliki. Sponsor memiliki begitu banyak aset yang mungkin bagi kita akan jauh lebih berharga dari uang, termasuk pengalaman. :)
Ketika bertemu dengan sponsor dan pitch ide kita, kita harus bisa menjustifikasi apa yang kita sampaikan. Contoh: Kenapa kita yakin peserta yang akan datang 1000 orang? Selain itu, kita juga harus fleksibel. Nggak ada satupun sponsor IYC yang setuju dengan sponsorship packages yang kami tawarkan. Pasti ditambah dan dikurangi di sana-sini.
Nah, setelah calon sponsor setuju untuk mendanai acara kita (dan kita setuju dengan kompensasi yang mereka minta), saatnya untuk membuat Memorandum of Understanding (MoU)/Surat Perjanjian Kerjasama (SPK). Poin-poin di dalam MoU penting sekali untuk kita susun baik-baik. Misalnya, sekian persen dana sponsorship harus diberikan pada H-14 via transfer bank dan sisanya H+14. Jangan lupa, ketika ada penandatanganan MoU, harus menggunakan materai (biasanya yang nilainya Rp6000,-).

Apabila sponsor belum melunasi “janji”-nya di hari yg ditentukan, kita berhak bawel. Bagaimanapun juga, itu adalah hak kita, sudah ada perjanjiannya, dan harus dilunasi. Tapi, jangan lupa untuk menuntaskan semua kewajiban kita juga. Misalnya, kita sudah berjanji mau mention akun sponsor di Twitter, jangan sampai kelupaan.

Banyak yang tidak mau berada di Divisi Sponsorship karena katanya “berat”. Padahal, ada begitu banyak ilmu yang bisa didapat, seperti network & negotiation skills. Selain itu, pas Hari H, Sponsorship adalah divisi yang paling nggak sibuk! Pas Hari H, tugas kita di Divisi Sponsorhip adalah menjaga perlengkapan sponsor (seperti banner, umbul-umbul, booth) supaya nggak rusak. Kita juga harus menemani perwakilan sponsor yang menghadiri acara kita.

But… What happens when we still don’t have any sponsor at all one month before the event? What should we do?

Di #IYC 2010, akhirnya SEMUA panitia mencari sponsor! Kami pernah menyelenggarakan garage sale, tapi hanya berhasil mendapatkan dana sebesar 0.007% yg dibutuhkan. Semua divisi juga berusaha untuk memotong pengeluaran. Jika kita kreatif, kita pasti bisa membuat acara yang keren tanpa budget besar. Waktu itu, pitching juga dititikberatkan pada in-kind sponsorship (karena relatif lebih mudah untuk didapatkan). In-kind artinya sponsorshipnya bukan dalam bentuk uang.

Untuk tempat pre-event (press conference, IYCPitstop), IYC tidak pernah mengeluarkan biaya. Kita bisa melakukan hal itu karena mendapatkan in kind sponsorship dari venue. Pemilik venuenya juga pasti senang kok kalau kita bisa membuat banyak orang datang ke sana melalui acara kita.

Nah, setelah acara selesai diselenggarakan, kita harus segera membuat LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) bersama panitia yang lain untuk dikirimkan ke sponsor, termasuk foto-foto acara kita. Jika sponsor puas dengan profesionalisme kita dan acara kita tersebut, sangat mungkin tahun depan acara kita akan disponsori oleh mereka lagi.

Semoga apa yang saya bagi ini berguna ya. Selamat mencari sponsor!


Favourite beauty products

Reading time: 3 – 4 minutes

No, I don’t define “beauty” only as how someone looks from the outside; and no, I don’t think we should splurge on cosmetics. However, I  believe some “beauty” products are there to keep our skin healthy, also, they really help when we need to meet some important people but we have just cried overnight, pulled an all-nighter, or been sick and might look pale. Well, you know.

Therefore, I think it won’t be a sin to share what are the products I love the most, and sometimes “can’t live without”.

Ristra Trustee Sulfur Soap Plus and Anti Acne Cream. I have a ‘combination face’ and a lot of acne/blemish problems. These two products really help me to conquer those problems. My mother used to be a loyal patient of dr. Retno Tranggono (the founder of Ristra), and my first facial experience was at House of Ristra. It’s pretty difficult to find the Sulfur Soap Plus now though.

Maybelline Volum Express Waterproof Mascara Hypercurl and Clear Smooth Minerals BB Cream. I technically don’t have eyelashes, so this hypercurl really helps my eyes to look “lively”. The BB cream is something really revolutionary, for me. Usually, heavy foundation brings acne breakouts to my face, but this cream covers my skin problems pretty well without causing more acne to come, moisturizes, and protects using SPF 26. Oh, and I also use Eye Studio Brown Gel Eyeliner. The last one is not available in Indonesia.

Hot by Benetton. First came out in 1997, this eau de toilette has been used by many. I was looking for a fresh – not romantic, nor sensual – perfume. Of course – who would not love to have YSL Parisienne that smells like Barbie’s hair? But, it was just too costly for me. So, Syarafina Alfiansyah recommended me this perfume, and I loved it. At C&F it only costs Rp120.000,-. Saviour!

Pourvous. I discovered this brand a few weeks ago while I was browsing through Female Daily. It’s 100% Indonesian – some call them “the Indonesian version of The Body Shop”. The headquarters are in Surabaya, but it provides free shipping to anywhere in Indonesia. All Pourvous products are paraben free, lanolin free, PABA free, color free, methanol fragrance free, and halal. They were not tested on animals either. Products can be purchased on mypourvous.com or on their Multiply page. My favourite product now is the cooling foot spray! Really helps my feet to relax after a long day full of driving.

What’s your favourite beauty products? Happy holiday!