Yuk, #DukungFCTC!

Reading time: 2 – 2 minutes

Terkadang, ketika suatu hal yang biasanya tidak lazim terlalu sering kita temui, tanpa kita sadari, kita belajar untuk memakluminya. Jalanan macet di kota besar, meeting yang terlambat dimulai, atau bahkan es teh yang dibubuhi gula pasir – dan bukannya gula cair – agar menjadi manis.

Di lingkungan saya, aktivitas merokok menjadi salah satu dari hal-hal yang terlalu sering dimaklumi tersebut. Saya merasa bahwa di sekitar saya, aktivitas merokok telah menjadi suatu hal yang sangat kasual. Di depan sekolah dasar, bisa saja ada warung yang menjual rokok. Di acara-acara untuk anak muda, ada sampling produk rokok dengan varian baru. Di mal, restoran pun mengedepankan “ada smoking area-nya, kok” sebagai suatu kualitas yang patut dibanggakan. Bisa dibilang, tidak ada hal yang membentengi masyarakat dari bahaya merokok, baik yang sifatnya aktif maupun pasif.

Ternyata, salah satu hal utama yang mengabadikan kekausalan ini adalah fakta bahwa Indonesia belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC merupakan sebuah upaya global dalam pemberantasan epidemi tembakau yang menegaskan pentingnya strategi pengurangan permintaan dan juga pasokan rokok/tembakau. Pada saat ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi kerangka ini. Padahal, apabila pasal-pasal di dalam FCTC ini dapat diimplementasikan di Indonesia, kita bisa “menikmati” banyak hal — harga rokok menjadi lebih mahal, adanya perlindungan terhadap paparan dari asap tembakau (yang selama masih sering ada di sekitar kita), regulasi soal kandungan, pengemasan, dan pelabelan rokok, sampai pengaturan soal iklan, promosi, dan sponsor tembakau yang selama ini membuat kita berada begitu dekat dengan bahaya asap rokok.

Menurut saya, ini sudah saatnya bagi kita untuk mendorong pemerintah agar segera meratifikasi FCTC; memberikan perlindungan yang lebih kuat terhadap masyarakat dari bahaya rokok, baik asap maupun pengaruh iklan-iklannya terhadap anak-anak dari generasi muda.

Sebagai bagian dari anak muda Indonesia, yuk tandatangani petisi yang meminta agar pemerintah segera meratifikasi FCTC. Kunjungi www.kompak.co/fctc/ dan klik dukung untuk menunjukkan dukunganmu agar pemerintah meratifikasi FCTC.


Pampering Myself at SAMPAR

Reading time: 2 – 2 minutes

A couple of weeks ago, I was invited by SAMPAR to try their facial treatment in their flagship store in Kota Kasablanka. SAMPAR is a skin care product from Paris, which is specifically formulated for women living in urban areas. I was hesitant at first. I definitely am not a fan of facial treatments because most of them usually hurt, but then the Therapist advised that SAMPAR’s kind of facial treatment would not hurt at all. So I gave it a try!

I have a quite acne prone skin, especially when my face is not thoroughly cleansed or when I am having a PMS. I was recommended to try the Pure Perfection facial treatment, which usually treats acne prone skin well. Other than this treatment, SAMPAR also provides treatment for ageing skin and normal skin.

3SAMPAR outlet in Kota Kasablanka

11Facial treatment area

During the treatment, SAMPAR products were applied to my face, from the cleansing products to moisturising products.  It felt awesome because not only my face was treated, but also my neck and feet which got massaged by the Therapist. It was truly such a relaxing experience. What a great way to sum my day up after a long day at work.

SAMPAR’s facial treatment lasts for around 45 to 60 minutes, with costs ranging around from IDR 350,000 to IDR 450,000 based on the type of facial treatment you are referring to. For more information, go to their Instagram @sampar_ind and they will be happy to answer your questions about the treatments and products!


Our First Duet Trip to Singapore

Reading time: 2 – 4 minutes

Saya dan adik saya yang berusia 9 tahun, Fara, baru saja diundang untuk mengunjungi Hospital Land dan mengikuti kegiatan Doctor-for-a-Day di Mount Elizabeth Hospital Novena, Singapura. Ketika menerima undangan tersebut, tentu saja saya segera mengiyakan ajakan ini, mengingat saya belum pernah berkesempatan untuk mengajak adik saya jalan-jalan.

Di hari Minggu pagi, tepatnya tanggal 28 September, kami pun berkunjung ke Mount Elizabeth bersama sejumlah perwakilan media asal Indonesia. Sesampainya di sana, ruangan lobi rumah sakit sudah disulap menjadi Hospital Land, di mana anak-anak berusia 4 sampai 10 tahun bisa belajar tentang berbagai profesi yang mendukung kegiatan di rumah sakit. Ada permainan A-B-SEE di mana anak-anak bisa menjadi optometrist, Build A Body di mana peserta bisa belajar soal anatomi tubuh, section untuk menjadi pharmacist, maupun belajar soal radiologi. Permainan-permainan ini dilengkapi dengan alat-alat yang child-friendly dan penuh warna – seperti yang biasa kita lihat di KidZania (bahkan mungkin lebih seru, karena diselenggarakannya di rumah sakit betulan). Fara dan teman-teman seusianya pun begitu bersemangat untuk tahu lebih banyak soal profesi-profesi yang berhubungan soal medis.

DSC01182 copy

Setelah selesai “berkelana” di Hospital Land, kami pun diajak ke lantai dua di mana para peserta bisa mengikuti kegiatan Doctor-for-a-Day. Sebagai pengantar, saya hanya diperbolehkan untuk mengobservasi dari luar, tetapi para peserta bahkan diminta untuk mengenakan scrubs yang biasa dipakai para dokter ketika hendak mengoperasi pasien. Di kegiatan ini, Fara belajar banyak hal soal menjadi dokter, mulai dari bagaimana caranya menggendong bayi di nursing room, sampai mengobati luka bakar bagi orang yang habis menjadi korban kebakaran di emergency room (bayi dan korbannya sih tentunya bohong-bohongan, ya).

Seru banget, deh, pokoknya! Kebetulan, Fara memang bercita-cita untuk menjadi dokter — walaupun sejauh ini keinginannya memang menjadi dokter hewan. Ia jadi tambah semangat, apalagi setelah sepulang dari acaranya, semua peserta dibekali dengan sertifikat dan berbagai badge yang menunjukkan bahwa mereka telah lulus menjadi “dokter” di Mount Elizabeth Hospital. Sekembalinya ke Jakarta, Fara pun bisa “mengalami ulang” perjalannya di Singapura dengan memainkan aplikasi Doctor-for-a-Day yang dirilis oleh Mount Elizabeth Hospital. Konon kabarnya, versi Bahasa Indonesia-nya akan diluncurkan akhir tahun ini.

It’s been a one-of-a-kind trip with my youngest sister! How about you? Pernah jalan-jalan ke mana dengan kakak atau adik kamu?


Ya, #AkhirnyaMilihJokowi!

Reading time: 5 – 8 minutes

Sejak awal, saya tahu bahwa saya tidak ingin bangsa ini dipimpin oleh pasangan Prabowo-Hatta dan orang-orang yang berada di belakang mereka. Namun, pada awalnya, saya juga belum yakin benar bahwa saya akan memilih Jokowi-JK. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memantapkan hati, hari ini saya berani bersuara bahwa saya #AkhirnyaMilihJokowi.

Ada banyak cara bagi kita untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Semua hal yang ingin kita ketahui bisa dengan mudah kita peroleh, baik melalui media seperti televisi, misalnya, maupun informasi seruas ibu jari yang kita baca dari layar kecil ponsel.

Saya pun berusaha untuk melakukan hal itu. Berdiskusi dengan orangtua, pacar, dan teman-teman dekat. Ada yang punya pandangan dan pengetahuan yang sama dengan saya, ada juga yang berbeda. Lambat laun, saya mengerti bahwa informasi yang dapat kita gali mengenai sepasang capres-cawapres beserta pihak-pihak yang mendukungnya tidak akan pernah habis. Beberapa di antaranya bahkan tidak dapat kita verifikasi kebenarannya. Belum lagi untuk hal-hal yang hanya dapat kita peroleh dari media – yang sayangnya, kadang bisa memihak dan mendukung kepentingan kelompok tertentu.

Ada begitu banyak informasi yang menumpuk di kepala saya. Begitu banyak opini dari orang-orang di sekitar. Begitu banyak rumor mengenai kandidat ini, kandidat itu. Begitu banyak kampanye baik yang sifatnya konvensional maupun modern. Begitu banyak tagar di media sosial, walaupun kandidat yang didukung sebenarnya hanya dua itu saja (termasuk yang saya gunakan di tulisan ini… #AkhirnyaMilihJokowi :p).

Tapi akhirnya, saya sadar bahwa memilih capres dan cawapres bisa jadi tidak melulu soal berapa banyaknya informasi yang kita peroleh. Terkadang, kita sudah mengetahui banyak hal tentang seseorang, tapi masih juga tidak cukup. ‘Fakta’ yang kita dengar, bisa jadi tidak bisa kita pastikan kebenarannya. Partai yang mengusung sepasang capres-cawapres, bisa jadi memiliki masalah internal sendiri, maupun kader-kader partai yang tidak jarang bermasalah. Informasi yang disampaikan kepada kita melalui media bisa jadi sudah dibelokkan sedemikian rupa agar artinya jadi berbeda.

Oleh karenanya, di pemilihan presiden kali ini, saya dengan naif berusaha untuk memilih individunya saja – dua individu untuk memimpin negara ini. Sedikit banyak berharap bahwa kepercayaan ini dapat mereka gunakan sebaik-baiknya untuk membuat Indonesia lebih baik dan lebih hebat, apapun yang partainya maupun koalisinya seru-serukan di belakang. Dua pribadi yang saya harapkan bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih aman, nyaman dan menyenangkan untuk ditinggali.

Memilih individu bisa menjadi suatu hal yang sifatnya sangat subyektif. Semakin hari, saya semakin yakin bahwa pada akhirnya, kita akan memilih pasangan capres dan cawapres yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang kita usung. Capres dan Cawapres yang dekat dengan kita, dekat dengan norma-norma yang kita percayai. Itulah mengapa saya memutuskan untuk memilih Jokowi.

Saya bertemu capres pilihan saya, Jokowi, untuk pertama kalinya di tahun 2011. Kami sama-sama menjadi pembicara di acara Indonesian Young Changemakers Summit yang digelar di Bandung. Kala itu, saya mengagumi pencapaian dan pengalaman beliau dalam membangun Kota Solo. Di panggung, dengan slides PowerPoint yang desainnya sederhana, Jokowi memaparkan cara-cara yang beliau gunakan untuk membuat Solo menjadi kota yang kita kenal saat ini.

Tanpa saya sangka-sangka, tiga tahun kemudian, sudah banyak hal yang berubah. Perubahan yang terjadi pada diri saya tidak signifikan: hanya berubah dari menjadi seorang mahasiswa, hingga menjadi pekerja kantoran seperti sekarang ini. Tapi, bagi Jokowi, tiga tahun ini bermakna besar – bahkan mungkin menjadi salah satu masa yang gemilang bagi beliau. Beliau sempat dipercaya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan sekarang dicalonkan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Suatu perubahan yang sangat signifikan, dan membuat saya jadi percaya banyak hal. Inilah alasan utama saya memilih Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019.

Selama lima tahun ke belakang, saya selalu punya kepercayaan bahwa siapapun kita, jika kita melakukan hal-hal yang kita suka lakukan, selama sifatnya positif, kita bisa memberikan kontribusi yang positif pula terhadap Bangsa Indonesia. Awalnya, saya pikir, paham ini mungkin tidak bisa kita aplikasikan ke dalam dunia pemerintahan dan politik, yang kadang penuh hambatan tak kasat mata seperti sistem politik maupun birokrasi.

Jokowi, dengan apa yang berhasil beliau raih, mengingatkan saya pada kepercayaan saya tersebut. Melihat Jokowi dan jutaan orang yang mendukungnya, saya jadi semakin percaya, bahwa siapapun kita, apapun latar belakang yang kita miliki, kita punya kesempatan yang sama besarnya untuk memiliki kontribusi positif terhadap Indonesia.

Bagi saya, Jokowi adalah simbol Impian Indonesia. Siapa yang pernah mengira bahwa seseorang yang memulai kariernya dengan mendirikan usaha mebel bisa dicalonkan (dan didukung) oleh begitu banyak orang untuk menjadi Presiden Republik Indonesia? Membaca profil Jokowi, mendengar Jokowi berbicara, selalu membuat saya merasa bahwa dia biasa-biasa saja. Tapi, justru karena dia yang “biasa-biasa saja” itu bisa mencapai begitu banyak hal dan dipercaya oleh begitu banyak orang, saya jadi punya harapan bahwa mungkin kita – yang selama ini hanya bisa mendukung Jokowi – mungkin saja memiliki kesempatan serupa suatu hari nanti.

Memilih dan memastikan kemenangan Jokowi, bagi saya, berarti menumbuhkan harapan. Kita, tidak peduli asalnya dari mana dan pendidikannya apa, punya kesempatan untuk memimpin Indonesia dengan cara kita sendiri. Seperti Jokowi.

Berapa banyak dari kita yang dulu percaya bahwa untuk jadi Presiden Indonesia, harus punya uang banyak karena berkampanye itu mahal? Berapa banyak dari kita yang dulu percaya bahwa untuk jadi Presiden Indonesia, mungkin harus punya sanak saudara yang pernah berkuasa, atau justru harus datang dari kalangan militer?

Memilih dan memastikan kemenangan Jokowi, bagi saya, berarti menumbuhkan harapan. Bahwa, siapapun punya kesempatan untuk memimpin bangsa ini. Tidak harus sekolah di luar negeri bertahun-tahun. Tidak harus punya uang banyak maupun harta yang melimpah. Tidak harus mendirikan partai sendiri. Tidak harus bergabung di militer dan jadi jenderal. Tidak harus punya kerabat atau keluarga yang sudah terlebih dulu memiliki posisi kunci di dunia politik.

Jokowi mencontohkan bahwa untuk bisa dipercayai untuk memimpin Indonesia, terkadang yang harus kita punyai hanyalah kemauan untuk bekerja keras, dan keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Beliau membuat saya percaya bahwa dua modal itu bisa jadi lebih dari cukup.

Jokowi menumbuhkan harapan itu: bahwa anak muda bisa punya kesempatan untuk memimpin Indonesia, sama seperti kesempatan yang ia punya saat ini.

Semoga kita semua yang berada di belakangnya mampu untuk memastikan ia punya kesempatan untuk memberi kita kesempatan yang sama di masa depan.

Salam 2 Jari.

Terima kasih, Adit, atas diskusi-diskusinya yang membuat pikiran dan pengetahuan saya soal politik jadi kaya.
 
Disclaimer: Saya tidak tergabung dalam tim sukses maupun relawan Jokowi-JK. Tulisan (dan tweet-tweet saya melalui akun @AlandaKariza) murni merupakan ekspresi pribadi saya dan tidak merefleksikan/mewakilkan pandangan tempat saya bekerja maupun organisasi di mana saya bernaung.