Pampering Myself at SAMPAR

Reading time: 2 – 2 minutes

A couple of weeks ago, I was invited by SAMPAR to try their facial treatment in their flagship store in Kota Kasablanka. SAMPAR is a skin care product from Paris, which is specifically formulated for women living in urban areas. I was hesitant at first. I definitely am not a fan of facial treatments because most of them usually hurt, but then the Therapist advised that SAMPAR’s kind of facial treatment would not hurt at all. So I gave it a try!

I have a quite acne prone skin, especially when my face is not thoroughly cleansed or when I am having a PMS. I was recommended to try the Pure Perfection facial treatment, which usually treats acne prone skin well. Other than this treatment, SAMPAR also provides treatment for ageing skin and normal skin.

3SAMPAR outlet in Kota Kasablanka

11Facial treatment area

During the treatment, SAMPAR products were applied to my face, from the cleansing products to moisturising products.  It felt awesome because not only my face was treated, but also my neck and feet which got massaged by the Therapist. It was truly such a relaxing experience. What a great way to sum my day up after a long day at work.

SAMPAR’s facial treatment lasts for around 45 to 60 minutes, with costs ranging around from IDR 350,000 to IDR 450,000 based on the type of facial treatment you are referring to. For more information, go to their Instagram @sampar_ind and they will be happy to answer your questions about the treatments and products!


Our First Duet Trip to Singapore

Reading time: 2 – 4 minutes

Saya dan adik saya yang berusia 9 tahun, Fara, baru saja diundang untuk mengunjungi Hospital Land dan mengikuti kegiatan Doctor-for-a-Day di Mount Elizabeth Hospital Novena, Singapura. Ketika menerima undangan tersebut, tentu saja saya segera mengiyakan ajakan ini, mengingat saya belum pernah berkesempatan untuk mengajak adik saya jalan-jalan.

Di hari Minggu pagi, tepatnya tanggal 28 September, kami pun berkunjung ke Mount Elizabeth bersama sejumlah perwakilan media asal Indonesia. Sesampainya di sana, ruangan lobi rumah sakit sudah disulap menjadi Hospital Land, di mana anak-anak berusia 4 sampai 10 tahun bisa belajar tentang berbagai profesi yang mendukung kegiatan di rumah sakit. Ada permainan A-B-SEE di mana anak-anak bisa menjadi optometrist, Build A Body di mana peserta bisa belajar soal anatomi tubuh, section untuk menjadi pharmacist, maupun belajar soal radiologi. Permainan-permainan ini dilengkapi dengan alat-alat yang child-friendly dan penuh warna – seperti yang biasa kita lihat di KidZania (bahkan mungkin lebih seru, karena diselenggarakannya di rumah sakit betulan). Fara dan teman-teman seusianya pun begitu bersemangat untuk tahu lebih banyak soal profesi-profesi yang berhubungan soal medis.

DSC01182 copy

Setelah selesai “berkelana” di Hospital Land, kami pun diajak ke lantai dua di mana para peserta bisa mengikuti kegiatan Doctor-for-a-Day. Sebagai pengantar, saya hanya diperbolehkan untuk mengobservasi dari luar, tetapi para peserta bahkan diminta untuk mengenakan scrubs yang biasa dipakai para dokter ketika hendak mengoperasi pasien. Di kegiatan ini, Fara belajar banyak hal soal menjadi dokter, mulai dari bagaimana caranya menggendong bayi di nursing room, sampai mengobati luka bakar bagi orang yang habis menjadi korban kebakaran di emergency room (bayi dan korbannya sih tentunya bohong-bohongan, ya).

Seru banget, deh, pokoknya! Kebetulan, Fara memang bercita-cita untuk menjadi dokter — walaupun sejauh ini keinginannya memang menjadi dokter hewan. Ia jadi tambah semangat, apalagi setelah sepulang dari acaranya, semua peserta dibekali dengan sertifikat dan berbagai badge yang menunjukkan bahwa mereka telah lulus menjadi “dokter” di Mount Elizabeth Hospital. Sekembalinya ke Jakarta, Fara pun bisa “mengalami ulang” perjalannya di Singapura dengan memainkan aplikasi Doctor-for-a-Day yang dirilis oleh Mount Elizabeth Hospital. Konon kabarnya, versi Bahasa Indonesia-nya akan diluncurkan akhir tahun ini.

It’s been a one-of-a-kind trip with my youngest sister! How about you? Pernah jalan-jalan ke mana dengan kakak atau adik kamu?


Ya, #AkhirnyaMilihJokowi!

Reading time: 5 – 8 minutes

Sejak awal, saya tahu bahwa saya tidak ingin bangsa ini dipimpin oleh pasangan Prabowo-Hatta dan orang-orang yang berada di belakang mereka. Namun, pada awalnya, saya juga belum yakin benar bahwa saya akan memilih Jokowi-JK. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memantapkan hati, hari ini saya berani bersuara bahwa saya #AkhirnyaMilihJokowi.

Ada banyak cara bagi kita untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Semua hal yang ingin kita ketahui bisa dengan mudah kita peroleh, baik melalui media seperti televisi, misalnya, maupun informasi seruas ibu jari yang kita baca dari layar kecil ponsel.

Saya pun berusaha untuk melakukan hal itu. Berdiskusi dengan orangtua, pacar, dan teman-teman dekat. Ada yang punya pandangan dan pengetahuan yang sama dengan saya, ada juga yang berbeda. Lambat laun, saya mengerti bahwa informasi yang dapat kita gali mengenai sepasang capres-cawapres beserta pihak-pihak yang mendukungnya tidak akan pernah habis. Beberapa di antaranya bahkan tidak dapat kita verifikasi kebenarannya. Belum lagi untuk hal-hal yang hanya dapat kita peroleh dari media – yang sayangnya, kadang bisa memihak dan mendukung kepentingan kelompok tertentu.

Ada begitu banyak informasi yang menumpuk di kepala saya. Begitu banyak opini dari orang-orang di sekitar. Begitu banyak rumor mengenai kandidat ini, kandidat itu. Begitu banyak kampanye baik yang sifatnya konvensional maupun modern. Begitu banyak tagar di media sosial, walaupun kandidat yang didukung sebenarnya hanya dua itu saja (termasuk yang saya gunakan di tulisan ini… #AkhirnyaMilihJokowi :p).

Tapi akhirnya, saya sadar bahwa memilih capres dan cawapres bisa jadi tidak melulu soal berapa banyaknya informasi yang kita peroleh. Terkadang, kita sudah mengetahui banyak hal tentang seseorang, tapi masih juga tidak cukup. ‘Fakta’ yang kita dengar, bisa jadi tidak bisa kita pastikan kebenarannya. Partai yang mengusung sepasang capres-cawapres, bisa jadi memiliki masalah internal sendiri, maupun kader-kader partai yang tidak jarang bermasalah. Informasi yang disampaikan kepada kita melalui media bisa jadi sudah dibelokkan sedemikian rupa agar artinya jadi berbeda.

Oleh karenanya, di pemilihan presiden kali ini, saya dengan naif berusaha untuk memilih individunya saja – dua individu untuk memimpin negara ini. Sedikit banyak berharap bahwa kepercayaan ini dapat mereka gunakan sebaik-baiknya untuk membuat Indonesia lebih baik dan lebih hebat, apapun yang partainya maupun koalisinya seru-serukan di belakang. Dua pribadi yang saya harapkan bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih aman, nyaman dan menyenangkan untuk ditinggali.

Memilih individu bisa menjadi suatu hal yang sifatnya sangat subyektif. Semakin hari, saya semakin yakin bahwa pada akhirnya, kita akan memilih pasangan capres dan cawapres yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang kita usung. Capres dan Cawapres yang dekat dengan kita, dekat dengan norma-norma yang kita percayai. Itulah mengapa saya memutuskan untuk memilih Jokowi.

Saya bertemu capres pilihan saya, Jokowi, untuk pertama kalinya di tahun 2011. Kami sama-sama menjadi pembicara di acara Indonesian Young Changemakers Summit yang digelar di Bandung. Kala itu, saya mengagumi pencapaian dan pengalaman beliau dalam membangun Kota Solo. Di panggung, dengan slides PowerPoint yang desainnya sederhana, Jokowi memaparkan cara-cara yang beliau gunakan untuk membuat Solo menjadi kota yang kita kenal saat ini.

Tanpa saya sangka-sangka, tiga tahun kemudian, sudah banyak hal yang berubah. Perubahan yang terjadi pada diri saya tidak signifikan: hanya berubah dari menjadi seorang mahasiswa, hingga menjadi pekerja kantoran seperti sekarang ini. Tapi, bagi Jokowi, tiga tahun ini bermakna besar – bahkan mungkin menjadi salah satu masa yang gemilang bagi beliau. Beliau sempat dipercaya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan sekarang dicalonkan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Suatu perubahan yang sangat signifikan, dan membuat saya jadi percaya banyak hal. Inilah alasan utama saya memilih Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019.

Selama lima tahun ke belakang, saya selalu punya kepercayaan bahwa siapapun kita, jika kita melakukan hal-hal yang kita suka lakukan, selama sifatnya positif, kita bisa memberikan kontribusi yang positif pula terhadap Bangsa Indonesia. Awalnya, saya pikir, paham ini mungkin tidak bisa kita aplikasikan ke dalam dunia pemerintahan dan politik, yang kadang penuh hambatan tak kasat mata seperti sistem politik maupun birokrasi.

Jokowi, dengan apa yang berhasil beliau raih, mengingatkan saya pada kepercayaan saya tersebut. Melihat Jokowi dan jutaan orang yang mendukungnya, saya jadi semakin percaya, bahwa siapapun kita, apapun latar belakang yang kita miliki, kita punya kesempatan yang sama besarnya untuk memiliki kontribusi positif terhadap Indonesia.

Bagi saya, Jokowi adalah simbol Impian Indonesia. Siapa yang pernah mengira bahwa seseorang yang memulai kariernya dengan mendirikan usaha mebel bisa dicalonkan (dan didukung) oleh begitu banyak orang untuk menjadi Presiden Republik Indonesia? Membaca profil Jokowi, mendengar Jokowi berbicara, selalu membuat saya merasa bahwa dia biasa-biasa saja. Tapi, justru karena dia yang “biasa-biasa saja” itu bisa mencapai begitu banyak hal dan dipercaya oleh begitu banyak orang, saya jadi punya harapan bahwa mungkin kita – yang selama ini hanya bisa mendukung Jokowi – mungkin saja memiliki kesempatan serupa suatu hari nanti.

Memilih dan memastikan kemenangan Jokowi, bagi saya, berarti menumbuhkan harapan. Kita, tidak peduli asalnya dari mana dan pendidikannya apa, punya kesempatan untuk memimpin Indonesia dengan cara kita sendiri. Seperti Jokowi.

Berapa banyak dari kita yang dulu percaya bahwa untuk jadi Presiden Indonesia, harus punya uang banyak karena berkampanye itu mahal? Berapa banyak dari kita yang dulu percaya bahwa untuk jadi Presiden Indonesia, mungkin harus punya sanak saudara yang pernah berkuasa, atau justru harus datang dari kalangan militer?

Memilih dan memastikan kemenangan Jokowi, bagi saya, berarti menumbuhkan harapan. Bahwa, siapapun punya kesempatan untuk memimpin bangsa ini. Tidak harus sekolah di luar negeri bertahun-tahun. Tidak harus punya uang banyak maupun harta yang melimpah. Tidak harus mendirikan partai sendiri. Tidak harus bergabung di militer dan jadi jenderal. Tidak harus punya kerabat atau keluarga yang sudah terlebih dulu memiliki posisi kunci di dunia politik.

Jokowi mencontohkan bahwa untuk bisa dipercayai untuk memimpin Indonesia, terkadang yang harus kita punyai hanyalah kemauan untuk bekerja keras, dan keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Beliau membuat saya percaya bahwa dua modal itu bisa jadi lebih dari cukup.

Jokowi menumbuhkan harapan itu: bahwa anak muda bisa punya kesempatan untuk memimpin Indonesia, sama seperti kesempatan yang ia punya saat ini.

Semoga kita semua yang berada di belakangnya mampu untuk memastikan ia punya kesempatan untuk memberi kita kesempatan yang sama di masa depan.

Salam 2 Jari.

Terima kasih, Adit, atas diskusi-diskusinya yang membuat pikiran dan pengetahuan saya soal politik jadi kaya.
 
Disclaimer: Saya tidak tergabung dalam tim sukses maupun relawan Jokowi-JK. Tulisan (dan tweet-tweet saya melalui akun @AlandaKariza) murni merupakan ekspresi pribadi saya dan tidak merefleksikan/mewakilkan pandangan tempat saya bekerja maupun organisasi di mana saya bernaung.
 

Berdiri Di Kaki Sendiri

Reading time: 7 – 11 minutes

Disclaimer: Saya tidak tergabung dalam tim sukses maupun relawan Faisal-Biem. Tulisan (dan tweet-tweet saya melalui akun @AlandaKariza) murni merupakan ekspresi pribadi saya.

Saya sudah mengikuti akun Twitter @faisalbasri kira-kira sejak tahun 2010. Sudah cukup lama, memang. Saya kuliah di jurusan Bisnis Internasional dan beliau sering berbagi tweet mengenai bidang ekonomi. Baru dari sana saya mengenal Bang Faisal – bahwa beliau adalah ekonom yang juga dosen di sebuah PTN.

Suatu hari, tiba-tiba saya  membaca di linimasa bahwa Bang Faisal mencalonkan diri untuk menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta, diikuti dengan proses pengumpulan KTP dukungan dan donasi agar bisa menjadi calon gubernur (baca tentang proses pengumpulan KTP ini di blog Retha Dungga). Saya masih belum begitu mengikuti perkembangan Pilkada. Saya pikir, saya yang tinggal di Tangerang Selatan tidak akan bisa berperan karena tidak memiliki hak pilih di tanggal 11 Juli. Banyak juga yang bilang bahwa seorang calon independen akan menemukan banyak kesulitan dalam mengimplementasikan rencana-rencana programnya. Saat itu, saya lupa bahwa IYC juga merupakan suatu kegiatan yang diorganisir secara independen, tapi bisa tetap berjalan dengan baik selama tiga tahun ini. Singkatnya, saya belum menentukan ke mana dukungan saya akan memiliki tendensi.

Lambat laun, saya pun mulai mencaritahu dan mencoba memahami program-program para pasangan cagub-cawagub. Saya menonton acara-acara debat cagub, membaca tulisan-tulisan mereka dan membaca opini orang lain mengenai mereka. Dari semua pasangan, seandainya saya bisa memilih di tanggal 11 Juli ini, saya merasa akan menjatuhkan pilihan kepada Faisal-Biem. Selain karena independensinya, juga karena rencana-rencana programnya yang realistis dan ajakannya untuk “berdaya bareng-bareng”. Di semua debat cagub, Bang Faisal tidak menjatuhkan kandidat yang lain, malah beberapa kali memuji inisiatif-inisiatif yang telah diimplementasikan Jokowi di Solo, misalnya. Faisal-Biem mengajak warganya untuk bekerja bersama mereka. Warga dilibatkan dalam proses pembangunan Jakarta, sesuai dengan keahlian masing-masing. Saya ingat, dulu Pandji pernah bilang, ketika kita memiliki rasa memiliki terhadap sesuatu, kita akan berusaha mati-matian untuk menjaganya walaupun mungkin itu bukan tugas kita. Faisal-Biem akan membakar kembali semangat dan rasa itu.

Meskipun begitu, pada saat itu saya masih belum menyuarakan dukungan saya tersebut. Aktivitas saya melalui Indonesian Youth Conference membuat saya merasa berkewajiban untuk menjaga netralitas dalam menyuarakan pendapat di bidang politik. Berkali-kali saya mendengar berbagai komunitas anak muda mengalami hambatan dalam berkembang karena orang lain berasumsi bahwa penggiatnya tergabung atau merupakan simpatisan dari partai politik tertentu. Jadi, setiap kali saya diminta untuk memberikan testimonial di iklan persembahan sebuah parpol atau diminta berbagi di acara underbow sebuah parpol, saya selalu menolak demi menjaga netralitas tersebut agar tidak ada dampak negatif terhadap IYC.

Tapi saya lalu ingat: Faisal-Biem tidak didukung oleh partai politik manapun. Sama seperti IYC, pasangan ini pun mengusung nilai independensi yang serupa. Saya pun sedikit-sedikit mulai membagi tulisan-tulisan Pandji Pragiwaksono tentang Faisal-Biem. Beberapa hari lalu, Mas Pandji juga ‘nitip’ tulisannya di blog ini agar orang bisa tetap membaca tulisannya ketika bandwidth blog Pandji sudah melewati batas. Saya ingin mendukung calon yang independen. Saya sudah pernah melihat keluarga saya menjadi korban dari berbagai kepentingan politik yang bertabrakan satu sama lain, dan saya tidak ingin itu terjadi lagi di masa depan.

Sabtu lalu, sepulang dari menyelenggarakan acara IYC yang ketiga, saya menerima link dari Angga Sasongko berupa video di mana Bang Faisal menyebutkan Indonesian Youth Conference (salah ketik – diketik menjadi “Indonesia Youth Conference”) sebagai salah satu gerakan anak muda yang akan beliau dan Bang Biem bantu pengorganisasiannya (ada di program nomor 5 untuk anak muda, bersanding dengan Jiffest, Pameran Produk Inovasi, dan konser musik). Terus terang, saya dan teman-teman di IYC kaget. Antara senang karena kegiatan kami di-acknowledge oleh beliau, tapi juga heran bahwa IYC bisa sampai ke telinga beliau. Akhirnya, saya menghubungi Angga pada tanggal 8 Juli lalu dan menanyakan apakah IYC bisa bertemu dengan Bang Faisal dan Bang Biem atau tidak. Keesokan harinya, kami pun bertemu dengan Bang Faisal.

Sebagai anak muda, kami datang dengan banyak pertanyaan. Mulai dari seberapa jauh Bang Faisal telah berdiskusi dengan komunitas anak muda, apa saja program-program yang hendak diimplementasikan, bagaimana caranya agar bisa diimplementasikan dengan efektif, dan apa saja hambatan-hambatan yang akan menyertai. Salah satu dari kami menanyakan tentang kemungkinan bagi Bang Faisal untuk “berdaya bareng-bareng” dengan pasangan cagub-cawagub lain seandainya menang, dan apa yang akan beliau lakukan seandainya tidak berhasil memenangkan Pilkada besok. Semua pertanyaan itu dijawab dengan sangat lancar, baik, dan dengan solusi yang realistis – solusi yang kami percaya dapat diimplementasikan tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh warganya.

Yang saya sukai dari rencana-rencana program Faisal-Biem adalah bahwa mereka memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi tidak berlebihan. Mereka tidak mengusung janji-janji palsu untuk sekedar berkampanye sehingga masyarakat jadi berangan-angan. Mereka hanya membuat janji yang bisa ditepati. Program-program Faisal-Biem diunggah ke situsweb YouTube agar bisa “terekam” dan bisa warga “tagih” ketika mereka menjabat. Mereka telah membangun jejaring yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan rencana-rencana tersebut seandainya mereka terpilih. Mereka hendak memanfaatkan dan merevitalisasi infrastruktur yang sudah ada agar bisa digunakan dengan lebih efektif dan efisien. Mulai dari memanfaatkan gelanggang olahraga, museum, dan galeri; bekerjasama dengan PT KAI untuk mengoptimalkan jalur-jalur kereta api yang sudah ada – termasuk dengan menambah frekuensi trip; mengintegrasikan moda-moda transportasi yang sudah ada; dan banyak program yang hendak dilaksanakan bersama dengan Bank DKI. Faisal-Biem tidak punya janji muluk untuk membangun MRT, monorail, railbus, subway, atau apapun itu. Ia tahu bahwa untuk bisa membangun moda transportasi baru, moda transportasi yang sudah ada harus terlebih dulu direvitalisasi agar ada short-term solution. Bukankah melakukan pembangunan sistem baru ketika sistem yang sudah ada belum dibenahi justru akan menimbulkan kemacetan yang lebih parah?

Dana kampanye Faisal-Biem adalah sebesar 4,1 miliar. Bagi kita mungkin ini angka yang besar, tapi angka ini jauh di bawah dana kampanye pasangan lain seperti Hidayat-Didik (21,5 miliar) Alex-Nono (24,6 miliar), Jokowi-Ahok (27,5 miliar) dan Foke-Nara (62,6 miliar). 70 persen dari dana kampanye ini dirogoh dari kocek Faisal-Biem sendiri (termasuk dari menjual rumah). 30 persen dikumpulkan dari dukungan warga. Faisal-Biem tahu bahwa kita tidak perlu menghamburkan uang untuk bisa membuat perubahan positif. Oleh Faisal-Biem, dana sebesar 16 sampai 58 miliar yang dibutuhkan pasangan lain untuk membeli “seragam” kampanye, membagi-bagikan uang kepada warga, memasang TVC di bioskop, memasang billboard “Dirgahayu Kota Jakarta”, dan lain-lain, dapat dialokasikan untuk hal-hal lain yang Jakarta lebih butuhkan dibandingkan spanduk dan poster, misalnya pembangunan sarana yang lebih memadai untuk warga Jakarta di berbagai sektor.

Sepulang dari pertemuan itu, saya punya cita-cita baru. Saya ingin Faisal-Biem menang. Orang lain bilang, “Pilih Faisal-Biem, pasangan cagub-cawagub yang berhutang pada warganya”. Saya tidak memilih beliau karena itu. Saya sendiri yakin, siapapun yang membantu Faisal-Biem, tidak ada yang menganggap bahwa Faisal-Biem berhutang. Saya memilih beliau karena beliau percaya pada kekuatan warga, pada kekuatan masyarakat, pada kekuatan kita semua. Beliau percaya bahwa masyarakat memiliki kekuatan untuk bisa menentang orang-orang yang sebelumnya (merasa/dianggap) “berkuasa” di Jakarta. Jakarta tidak hanya milik orang kaya, tidak juga hanya milik ormas. Jakarta milik kita semua yang tinggal dan/atau beraktivitas di dalamnya. Dan Faisal-Biem, percaya pada kekuatan kita – kita yang selama ini jarang berkesempatan untuk berbicara. Faisal-Biem berada di garis depan karena mereka yakin masih ada warga Jakarta yang cukup waras untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah; bahwa masih ada warga Jakarta yang peduli dan akan membantu serta mendukung mereka membuat Jakarta menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali dibanding Jakarta yang kita punya hari ini. Untuk itu, sebagai warga yang beraktivitas di Jakarta, saya pun percaya kepada Faisal-Biem.

Faisal-Biem bersedia mengemban tanggungjawab demi warganya. Mereka tidak menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan warga. Mereka juga tidak menempatkan kepentingan materil di atas kepentingan warga. Mereka memiliki integritas dan kejujuran yang belum tentu dimiliki kandidat yang lain. Mereka tidak dilaporkan ke KPK atas dugaan kasus korupsi, maupun mengklaim karya orang lain untuk dijadikan bahan kampanye. Faisal-Biem, berdiri di kaki mereka sendiri, dan tetap menjunjung tinggi integritas itu. Mereka tidak mengorbankannya demi memiliki dana kampanye yang lebih banyak. Justru, mereka telah mengorbankan berbagai kepentingan pribadi mereka demi kepentingan umum. Demi masa depan yang lebih cerah untuk Jakarta.

Saya tidak berkesempatan untuk memilih di Pilkada besok. Tapi, sama seperti Faisal-Biem, saya percaya bahwa masih ada warga Jakarta yang akan memilih pemimpin yang berani jujur, berani menentang yang “berkuasa” demi membela yang lemah – demi mengembalikan kota ini ke tangan yang seharusnya memilikinya.

May the one who deserves it wins. The ones who dare to make a change, despite plenty of difficulties and obstacles. Those who keep struggling regardless of overwhelming storms. Those who have faith in us. Money might buy us power, but not integrity. Lies might buy us fame, but not honesty. But, integrity, honesty, modesty, and vision, for sure create great leaders. I would want to be led by those kinds of leaders. Those who, altruistically, are willing to serve the public instead of being served.

#Gimme5, Jakartans!