I’d like to review a book. But in Indonesian
I was reading on Sitta Karina’s mailing-list, the members wrote her reviews so I’d like to do so. Sitta Karina is a famous teen literature author, she gave blurbs about my book (you know :P) on 2005 and we still keep in touch until right now.
She asked me to give some comments for her newest book, Satu Hari Berani. You can read my name on the paperback, hehe.
I had just finished her (another) newest book, Seluas Langit Biru, which is published by my former publisher, Terrant Books. Here goes..
Seluas Langit Biru (SLB) menceritakan tentang Bianca Hanafiah, yang dijodohkan oleh Nenek dengan Sultan Syahrizki, seorang pengusaha muda. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses merger MataCakra pimpinan Sultan dengan Hanafiah Group. Terlebih lagi, Sultan adalah laki-laki yang tampan dan bermasa depan cerah, yang sayangnya terlalu serius dan kaku untuk bisa membuat Bianca jatuh cinta. Meski tomboy, Bianca ingin sekali memiliki kisah cinta yang indah, bukan perkawinan karena perjodohan semata.
Seperti cerita-cerita lain yang Sitta tulis, SLB pun diceritakan dari dua sudut pandang, di mana selalu ada sisi baik dan buruk dari segala hal. Hal ini adalah ciri khas Sitta, selain memiliki tokoh-tokoh dari berbagai macam karakter, kultur, strata sosial dan status ekonomi. Mengingat SLB adalah salah satu dari rangkaian saga Keluarga Hanafiah, Sitta tetap menonjolkan fakta bahwa di balik kehidupan sosialita yang serba mewah dan glamor, selalu ada maslaah, kepalsuan, intrik, dan tentunya: kesederhanaan. Di cerita-cerita sebelumnya, misalnya Lukisan Hujan, tentu saja ada Diaz dan Sisy yang sama-sama menikmati jadi “orang biasa saja”. Pesan dari Bintang mengangkat figur Niki, yang sebenarnya cukup kaya–mengingat kakaknya bersekolah di Australia dan Ia bisa kuliah di universitas borju, tapi diceritakan bahwa Niki adalah pribadi yang sangat, sangat sederhana dan begitu menghargai jerih payah seseorang untuk memperoleh kehidupan yang layak. SLB menggambarkan Bianca dan Aozora, dua sosok yang sama-sama tajir-setengah-mati, ternyata benci menjadi sosialita dan ingin memperoleh segala hal dengan keringat mereka sendiri, dengan susah payah.
Di novel ini juga, kita dapat melihat sisi protektif Reno lebih dalam, yang di cerita-cerita sebelumnya kurang diperlihatkan; Nenek Helena yang (diceritakan di sini) sedikit kecewa karena Inez justru memilih Niki (sementara di novel-novel sebelumnya, Nenek Helena diceritakan sebagai pribadi bijak dan ’sempurna’); dan banyak hal lain (yang kalau ditulis di sini justru seperti spoiler).
Selain itu, chemistry antara Bianca dan Sora dibangun dengan sangat baik sehingga hampir menyamai chemistry yang tercipta antara Diaz-Sisy. Cara yang ditempuh Sitta pun sama, menulis sejujur-jujurnya, bagaimana Bianca dan Sora melewati hari-hari mereka (bertengkar, bertengkar, bertengkar…) sampai akhirnya satu tidak lengkap tanpa ada yang lain.
Sayangnya, “durasi” cerita kurang panjang, yang membuahkan kekurangan lainnya. Seperti fakta bahwa banyak hal yang missed (tidak biasa-biasanya Sitta seperti ini), seperti alasan mengapa Bianca harus menikahi Sultan. Demi keluarga. Namun, tidak dijelaskan secara spesifik. Apakah Hanafiah Group diambang kehancuran sampai-sampai harus merger? Apakah Sultan tidak bisa diajak negosiasi dengan perusahaan sekaliber Hanafiah Group? Nenek kecewa karena Inez menikahi orang yang biasa saja. Tapi, pendapat ini tidak muncul dari mulut siapapun, melainkan buah pikiran Bianca saja. Sisi baik Sultan juga kurang digali, Ia berdiri di halaman-halaman buku sebagai figur workaholic, kaku dan menyebalkan. Penyelesaian dengan Sultan juga hanya begitu saja, padahal sifatnya krusial. Mungkin perpisahan juga menjadi pilihannya, sayangnya seharusnya Bianca dan Sultan sedikit-banyak berdiskusi tentang masalah ini dengan kepala dingin, tidak dengan Bianca langsung “pindah lagi” ke Sora.
Deadline, oh, deadline
But after all, it is a good book though, I enjoy reading it. It got a third-place in my heart after Lukisan Hujan and Pesan dari Bintang. Saya hanya menyayangkan cerita ini terlalu cepat, padahal sebenarnya banyak hal yang bisa digali lebih dalam, sehingga seharusnya bisa sesukses LH dan PDB. Still many thumbs up for mon ami, Sitta Karina Rachmidihardja. Semoga bayi lahir dengan selamat dan ibunya juga ya
Recent Comments