The Skies Are Almost Asleep

Reading time: < 1 minute

This is an ode,
to my dear, nocturnal being
whose nature attracts me in
to all of his restless nights
of opened eyes
of enchanting tunes, of exchanged words
of fate,
and to where it has brought us

An ode
to my dear, thinker being
whose nature attracts me in
to all of his wandering wonders
of limitless possibilities
of terrifying bits, of corresponding feelings.

Of lust,
of love.

This is an ode to you,
my dear, nocturnal being
whom I could only see at nights
when the skies are still quite awake to see us
but too sleepy to tell what they see to anyone else.

Hamburg, May 4, 2015


Logan

Reading time: < 1 minute

sengaja
aku simpan satu rasa dalam hati
kau tanya untuk apa?
sudah tentu biar kaucuri
kau, aku, dalam gelap gulita
dalam dunia yang punya kita sendiri
seperti biasa kau bercerita
aku tersenyum tanda mengerti

sengaja
aku diam daritadi
supaya kau sekarang juga berkata
supaya kau sekarang juga mencuri

for a dude who’s addicted to toys, his PSP and Marvel comics <3


Life Elements

Reading time: < 1 minute

bahwa ternyata aku dan kamu
tidak seperti air dan tanah yang selalu tercampur
tetapi seperti angin dan air yang takkan bisa bersatu
namun selalu berjalan beriringan, sampai kapanpun

sekarang katakanlah padaku
yang manakah yang lebih kau puja?
apakah bintang yang bertaburan di atas sana
ataukah aku yang bersimpuh di atas pasir

Bali, I forgot the date and time
but it was sunny
and I was all by myself


C’est La Vie

Reading time: 1 – 2 minutes

C’est la vie, Naren bilang semalam. Aku tidak tahu artinya. Ia berkata, that’s life. Aku tidak mengerti maksudnya.
Aku benci menjadi gadis yang lemah, karena tidak seharusnya begitu. Sungguh, aku telah menghapus garis di antara menjadi baik, dan menjadi lemah. Menurutku, apa yang kulakukan ini baik. Menurut orang lain, aku lemah.

Aku berjalan di bawah malam. Berjalan bersama angin dan bersama dingin. Terus mencoba bertanya pada Tuhan, apa yang salah dariku? Mengapa orang justru menyalahkan ketika aku sudah melakukan sesuatu yang benar? Mengapa orang lain betah menjadi orang-orang munafik? Mengapa kita semua dilahirkan untuk menjadi hipokrit? Mengapa malam ini begitu sepi? Padahal aku sungguh butuh keramaian.

Ada kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang selalu kuingat,

“Di mana-mana aku selalu dengar: yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar, benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

Ah, sekarang aku teringat lagi akan kalimat itu. Mungkin aku memang harus memperjuangkan apa yang menurutku benar sendirian.

C’est la vie, aku bilang malam ini. Sebab, aku sudah mulai belajar untuk mengerti maksudnya.