REVIEW: Pasoetri Weddings

Standard

Pada awalnya, kami tidak berencana untuk menggunakan jasa wedding organiser. Kami hanya berencana untuk mengundang 150 undangan (300 orang) untuk resepsi pernikahan kami. Adit, yang memiliki cukup banyak pengalaman dalam menyelenggarakan berbagai macam acara, berpendapat bahwa mungkin kami bisa meminta bantuan teman-teman kami saja untuk membantu kami menyelenggarakan acara ini, karena acaranya pun tidak terlalu besar. Orangtua saya juga berpandangan sama. Menurut mereka, “Jaman dulu itu tidak ada, lho, yang namanya wedding organiser. Semua diurus oleh keluarga. Jadi, harusnya kalian juga bisa buat acara tanpa menggunakan jasa WO.”

Namun, saya masih “penasaran” dengan jasa WO ini. Saya punya begitu banyak kekhawatiran dalam perencanaan acara pernikahan, salah satunya adalah fakta bahwa Adit tidak berada di sisi saya selama persiapan acara pernikahan. Kami tidak ingin merepotkan keluarga, tetapi juga tidak yakin bisa “merepotkan” teman-teman yang sudah kami tunjuk untuk menjadi groomsmen dan bridesmaids.

Akhirnya, saya menghubungi dua WO yang pernah saya baca namanya berseliweran di situs-situs seperti The Bride Dept. Saya bertemu dengan kedua WO tersebut, dan karena sejumlah alasan (yang nantinya saya akan jabarkan di bawah), saya memilih untuk menggunakan jasa Pasoetri Weddings untuk membantu saya dan Adit di hari pernikahan kami, atas persetujuan Adit tentunya.

Ternyata, keputusan untuk menggunakan jasa wedding organiser merupakan salah satu keputusan terbaik yang kami buat dalam penyelenggaraan pernikahan ini.

Sebelum Hari H

Setelah berkomunikasi via email, saya bertemu dengan perwakilan dari Pasoetri Weddings, yakni Omar dan Uti (yang ternyata adalah pasutri beneran!). Sejak awal, saya merasa sudah memiliki chemistry yang cocok dengan mereka berdua. Kendati mereka sudah pernah menangani sejumlah acara pernikahan, saya merasa mereka sama sekali tidak judgmental dengan konsep pernikahan saya dan Adit, maupun hal-hal lain yang menjadi cita-cita kami.

Sebelum Adit kembali ke Jakarta dari Melbourne di awal November, saya baru bertemu satu kali dengan Pasoetri. Ketika Adit sudah berada di Jakarta, kami pun menjadwalkan meeting dengan Pasoetri lagi, namun meeting sudah di-lead oleh Adit. Kami membagi tugas seperti itu: Saya “bertugas” melakukan riset, menghubungi, dan memilih vendor serta menangani urusan administratif lainnya, sementara Adit melakukan finalisasi dengan para vendor dan memimpin jalannya rapat bersama mereka. Dari mulai pertemuan pertama, saya dan Adit merasa bahwa chemistry kami dengan Pasoetri menjadi semakin dan semakin kuat. Kami pun merasa percaya diri dengan kerjasama ini.

Kami mengambil paket “Wedding Day” yang disediakan oleh Pasoetri, yang adalah paket untuk wedding organising di Hari H saja (tidak termasuk wedding planning). Untuk paket ini, Pasoetri berkomitmen untuk mulai membantu dengan persiapan pernikahan sejak H-90.

Untuk kasus kami, kami bertemu dengan Pasoetri sekitar empat sampai lima kali, untuk membahas konsep umum, membahas dan memfinalisasi rundown acara, serta menyelenggarakan technical meeting dengan semua vendor. Konsep pernikahan kami bisa dibilang sedikit ‘berbeda’ dari pernikahan di Indonesia yang ‘biasanya’, dengan venue yang relatif jarang disewa untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Adit memiliki orientasi terhadap detil yang tinggi, sementara saya kurang bisa mengambil keputusan dan menghadapi banyak masukan dari keluarga besar. Pasoetri was able to keep up with those — which is great!

IMG_6845

Di Hari H

Ada banyak hal yang membuat kami senang sekali dengan kinerja dan pelayanan dari Pasoetri, sampai-sampai saya bingung harus memulai dari mana.

  1. Pasoetri begitu memperhatikan setiap detil, sebuah hal yang tentunya harus dimiliki oleh wedding organiser dan wedding planner. Mereka juga mengerti budaya Indonesia dan hubungannya terhadap penyelenggaraan pernikahan, seperti pentingnya menghormati dan melayani tamu-tamu yang sepuh, tension yang muncul dari keluarga besar selama persiapan, dan lain-lain sebagainya.
  2. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, kami memiliki chemistry yang kuat sekali. Hal ini didukung dengan fakta bahwa Omar dan Uti seangkatan dengan Adit, sehingga ada banyak hal yang bisa kami obrolkan, dan meski sebelumnya tidak berteman, mereka berada di lingkungan yang tidak jauh berbeda. Pasoetri bisa dengan mudah mengerti apa yang saya dan Adit inginkan, suatu hal yang sangat berguna dalam penyelenggaraan Hari H. Di Hari H, tentunya kami ‘tidak bisa’ mengambil keputusan karena sedang ‘sibuk’ menikah, sehingga Omar, Uti, Reni, dan timnya harus mewakili kami dalam pengambilan keputusan. Ternyata, keputusan-keputusan yang mereka ambil adalah keputusan yang tentunya juga akan kami ambil jika kami bisa mengambilnya sendiri.
  3. All out! Sebelum acara resepsi dilangsungkan, hujan turun dengan derasnya. Mereka turun tangan secara langsung untuk membantu memayungi kami dan sejumlah tamu. Kika, perwakilan Pasoetri yang diminta untuk mendampingi saya, tidak henti-henti membantu saya memegang buket bunga, mengambilkan foto, menyediakan tisu ketika wajah Adit sudah banjir keringat, dan lain-lain. Ia bahkan pernah datang ke Indonesian Youth Conference! Kami jadi punya banyak bahan obrolan. Tidak lama setelah acara selesai, pendamping Adit juga langsung mengirimkan banyak foto di acara kami yang diambil menggunakan kamera miliknya, via WhatsApp. Ada banyak hal kecil yang kami, teman-teman, dan keluarga ingat. Hal kecil yang sangat berarti dan, menurut saya, bisa menjadi refleksi dari kualitas pelayanan mereka: tim Pasoetri bahkan mengingatkan groomsmen untuk tidak lupa membawa parfum, dan mengingatkan saya untuk istirahat yang cukup. The little things that matter. :)
  4. Sebagian dari tim Pasoetri sudah menikah. Bagi saya, ini penting, karena mereka memiliki rasa empati yang besar — bagaimanapun juga, mereka telah melewati hal yang akan saya lewati ketika itu. Saya pernah bertemu dengan WO yang walaupun bisa menyelenggarakan acara dengan baik, tapi judgmental dengan acara pernikahan yang saya impikan (misalnya: Kenapa acaranya seperti itu? Nanti kan kurang sakral? Kalau bajunya seperti ini, kurang cantik lho! dll.), atau tidak bisa menenangkan calon pengantin yang sedang panik dan stres sebelum pernikahan. Dengan Pasoetri, mereka justru bisa benar-benar menenangkan kami dan meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar.

Secara keseluruhan, kami merasa senang dengan servis dari Pasoetri Weddings dan tentunya akan merekomendasikan jasa Pasoetri untuk digunakan oleh calon pengantin lainnya. :)

Sekali lagi, terima kasih, Omar, Uti, Reni, dan seluruh tim Pasoetri karena telah membantu kami menyelenggarakan acara pernikahan yang kami cita-citakan!

PASOETRI WEDDINGS
Instagram: @pasoetriweddings
Uti: 081310984134
Reni: 082120985161

Engagement of #AditAlanda

Standard

To sum 2014 in one word, I would choose the word commitments. A word that to some people might sound scary, but could be exciting for the rest. For me, it was not a walk in the park, but it made me learn many things about growing up and adulthood.

The beginning of the year was marked by the establishment of a home business with my best friends, Amame Ice Cream Therapy. It was not a smooth year for us, I can guarantee, but all of us got to learn so many things in the span of 12 months  (especially about making ice creams :D).

At work, I began the year by being assigned into a role that I very much was very interested in. Today, a year later, I am still in the same role, being grateful that I have rolled out brand activations that brought exciting results.

In terms of love life, 2014 gave us a roller coaster ride. It was a rather stable journey for me career-wise, but for my partner, it was the year for him to chase his dreams. It turned out that chasing dreams could come in a package full not only of passion, but also meltdowns and heartbreaks. (By the end of the year, he finally got to achieve his dream, though).

Little that I know that one week after my book Travel Young was launched, he was going to propose.

It was a Saturday, December 27. Because our relationship anniversary falls on the 27th of April, on the date of 27 every month, we always spare our time to hang out, may it be to go to the movies, enjoy some street food, or go DVD-shopping. That day, we went to get our hair cut, then he took me to my favourite restaurant in Darmawangsa.

We talked about so many things over dinner. When our plates were finished, he held my hand, gave a “review” about our relationship in the past one and a half year… The things he liked, and the things he hope us would never have to go through again. At the end of his, sort of speech, he suddenly popped the question.

I was surprised because I had not guessed it would have happened this fast, especially knowing the fact that one week later he was going to fly to Melbourne to pursue his Masters degree for two years. But there he was, asking me if I want to marry him or not, having prepared everything for us to have an engagement ceremony before he leaves.

And, predictably, I said yes. :)

We drove home afterwards and he brought himself to meet my parents and ask them about his intention on asking my hand in marriage, as well as his family’s plan to come on the following Tuesday to formally propose to my family. I was not sure if it would be possible for us to organise an engagement ceremony in such a short notice, nor my parents! However, that did not stop us from pursuing the plan.

Upon hearing the news, my extended family and friends were very surprised, but at the same time excited, knowing that my partner has proposed.  They were really keen on helping out.

DSCF7641 copy

We made it happen.

Our engagement ceremony was held on Tuesday, 30 December, quite modestly. My aunts lent me their kebaya (which magically fits), kain, and accessories. I went to a salon in my neighbourhood to do my hair, and my best friend put my make up on. Because it was going to be an intimate reception, no catering vendor agreed to serve the food of my choice for only 50 pax. So we ordered Soto Kudus Kauman for dinner, and the guests loved it!

It was nothing like what you see on wedding websites – or perhaps Pinterest! – but for me it still felt really special, which made myself sure that the commitment my partner and I made mattered much more than any kind of ceremony.

DSCF7675 copy DSCF7678 copy

I’m grateful that we could make it happen this far, and I’m very excited about what’s coming our way, for me and Adit. Wish us luck.

I hope all of us would have a wonderful 2015! :)