Alanda Kariza

Eliminating the Limits

C’est La Vie

| 0 comments

Reading time: 1 – 2 minutes

C’est la vie, Naren bilang semalam. Aku tidak tahu artinya. Ia berkata, that’s life. Aku tidak mengerti maksudnya.
Aku benci menjadi gadis yang lemah, karena tidak seharusnya begitu. Sungguh, aku telah menghapus garis di antara menjadi baik, dan menjadi lemah. Menurutku, apa yang kulakukan ini baik. Menurut orang lain, aku lemah.

Aku berjalan di bawah malam. Berjalan bersama angin dan bersama dingin. Terus mencoba bertanya pada Tuhan, apa yang salah dariku? Mengapa orang justru menyalahkan ketika aku sudah melakukan sesuatu yang benar? Mengapa orang lain betah menjadi orang-orang munafik? Mengapa kita semua dilahirkan untuk menjadi hipokrit? Mengapa malam ini begitu sepi? Padahal aku sungguh butuh keramaian.

Ada kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang selalu kuingat,

“Di mana-mana aku selalu dengar: yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar, benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

Ah, sekarang aku teringat lagi akan kalimat itu. Mungkin aku memang harus memperjuangkan apa yang menurutku benar sendirian.

C’est la vie, aku bilang malam ini. Sebab, aku sudah mulai belajar untuk mengerti maksudnya.


Leave a Reply

Required fields are marked *.

*