Dewi Lestari-1

#KetikaMenulis: Dee Lestari

Dewi Lestari, atau yang lebih populer dengan nama pena Dee di buku-buku karyanya, merupakan salah satu penulis Indonesia yang karyanya paling ditunggu-tunggu.  Karyanya yang bisa dibilang paling populer (dan masih belum usai hingga kini) adalah serial Supernova yang terdiri dari beberapa buku: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) — buku pertamanya yang diterbitkan, tahun 2001; Akar; Petir; dan yang akan terbit tanggal 17 Oktober ini: Gelombang. Selain itu, Dee juga menerbitkan novel Perahu Kertas, antologi tulisan Filosofi Kopi, Madre, dan Rectoverso.

Perahu Kertas dan Rectoverso sudah difilmkan, sementara film Supernova: KPBJ akan tayang bulan Desember 2014 mendatang. Filosofi Kopi juga akan diadaptasi menjadi sebuah film, dan sedang berada pada fase preproduksi saat tulisan ini dipublikasikan. Dee pernah menceritakan pengalamannya menyelesaikan novel Perahu Kertas dalam waktu 55 hari di sebuah blog. 

Dewi Lestari-profile

Dari semua tulisan yang telah Anda terbitkan, apakah Anda memiliki karya favorit?
Setiap karya memberikan yang pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda. Jujur, saya tidak punya karya favorit karena masing-masing buku rasanya tidak bisa dibandingkan. Saya rasa, itu menjadi privilese pembaca.

Biasanya, kapan Anda menyisihkan waktu untuk menulis?
Sebetulnya tergantung situasi dan kondisi. Saat ini, karena saya mengurus anak, suami, rumah, dan pekerjaan lainnya di luar menulis, saya sengaja menyisihkan waktu subuh-subuh sebelum orang-orang di rumah terbangun. Bagi saya, syarat utama menulis, terlepas pagi atau malam, adalah keheningan dan tidak diganggu. Jadi, sebetulnya kapan pun saya punya kualitas waktu yang seperti itu, saya manfaatkan untuk menulis.

Kalau begitu, di mana Anda sering menulis? Apakah Anda memiliki tempat khusus untuk menyelesaikan tulisan Anda?
Saya lebih senang di tempat sepi karena distraksinya rendah. Tapi, kalau terpaksa, di tempat ramai juga bisa-bisa saja. Yang penting, tidak diajak ngobrol dan tidak diinterupsi. Karena kalau sudah masuk dan mengalir di dalam proses kreatif, biasanya saya sudah tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Bagaimana Anda biasanya menulis?
Saya selalu menulis di laptop dan tidak di kertas. Saya membuat catatan di kertas kalau hanya untuk menampung ide sementara. Sebenarnya, saya punya meja kerja, tapi jauh lebih sering menulis di meja makan. Ini meja kerja saya:

Dewi Lestari-1

Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis?
Sekarang ini nggak lagi pakai musik. Dulu sempat suka, tapi memang tidak pernah jadi syarat utama. Pakai atau tidak oke-oke saja, asal musiknya instrumental, karena kalau berlirik bisa mendistraksi. Perkecualian hanya kalau saya menulis adegan yang memang membutuhkan semacam “soundtrack” dan saya sudah tahu lagu yang pas untuk itu yang mana. Tapi, kasus seperti itu jarang terjadi.

Bagaimana “hari menulis” Anda seringnya berjalan?
Bangun jam 4 pagi untuk menulis sampai jam 7 pagi, menyiapkan anak sekolah, dilanjutkan dengan power nap sekitar 15-30 menit. Sehabis itu, biasanya saya mengerjakan pekerjaan lain di luar menulis, termasuk membaca dan riset. Kalau ada waktu kosong di sisa hari, biasanya saya manfaatkan lagi untuk menulis. Tapi, seringkali saya sudah wrap-up pagi-pagi, untuk diteruskan lagi esok harinya.

Bisakah Anda menceritakan bagaimana proses yang biasanya Anda lalui ketika menerbitkan sebuah karya – mulai dari membuat kerangka tulisan sampai akhirnya tulisan tersebut diterbitkan?
Proses untuk menulis dan menerbitkan novel dan kumpulan cerita pendek bisa berbeda.

Untuk kumpulan cerpen, sifatnya insidental dan sporadis. Antologi saya biasanya kumpulan karya dalam rentang waktu 5 tahunan. Setelah saya rasa “tabungan” karyanya cukup, saya kompilasi, edit ulang berkali-kali, lalu saya kirim ke penerbit. Untuk cerpen, saya juga tidak membuat pemetaan cerita, biasanya spontan.

Sebaliknya, kalau untuk novel, proses risetnya panjang dan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Proses menulisnya sendiri berkisar antara 2-9 bulan. Sebelum menulis, saya biasanya membuat pemetaan cerita terlebih dahulu. Peta itu saya gunakan sebagai panduan yang sifatnya terbuka, artinya masih bisa saya revisi dan tambahkan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Setelah proses menulis draf pertama selesai, saya print, dan biasanya manuskrip tersebut saya “fermentasi” — didiamkan dan tidak dibaca-baca lagi — antara 2 minggu sampai 1 bulan. Setelah itu, baru proses penyuntingan dimulai. Setiap selesai penyuntingan, saya fermentasi lagi sebelum ke proses penyuntingan berikut. Siklus itu bisa berulang 3-4 kali, tergantung waktu yang saya miliki. Hasil akhir itu yang kemudian menjadi draf final.

Draf final dikirim ke penerbit dan disunting oleh editor. Mereka akan mempelajari, bertanya, memberi masukan, diskusi, dan seterusnya, sampai jadilah naskah akhir yang akan dikerjakan setting-nya. Setelah setting selesai, saya melakukan pengecekan final. Kalau semua sudah oke, maka proses cetak dimulai. Dari percetakan, buku akan didistribusi ke seluruh toko buku di Indonesia, dan waktu yang dibutuhkan untuk distribusi kira-kira dua minggu lamanya.


#KetikaMenulis adalah serial tulisan yang berisi wawancara dengan penulis-penulis terkemuka di Indonesia, mengupas bagaimana mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah tulisan, termasuk kebiasaan-kebiasaan para penulis ketika menulis. #KetikaMenulis diterbitkan setiap hari Kamis di alandakariza.com.  Ada nama penulis kamu kagumi dan inginnya bisa kita wawancarai? Cantumkan di kolom Komentar di bawah ya.

14 thoughts on “#KetikaMenulis: Dee Lestari

  1. Wahab Kamal says:

    Udah lama pengen tau #KetikaMenulis nya dee lestari, akhirnya nemu di website ini :)
    saya mau tau dong #KetikaMenulis nya Tere Liye, Terima kasih :)

  2. rani says:

    setuju sama yg di atas, #KetikaMenulis Tere Liye patut diintip :) Selain itu, ada Sitta Karina dan Ika Natassa seru juga kayaknya!

  3. Jane Reggievia says:

    Selalu seneng baca proses menulis para penulis kece :D
    One thing I know kalau proses “melahirkan” sebuah buku gak pernah mudah. Berikutnya Ika Natassa ya (:

  4. Destiara Anggita says:

    Hai kak , terima kasih atas postingannya
    wah seru banget ternyata proses kreatifnya :)
    berikutnya Haqi Achmad ya..

  5. Alanda Kariza says:

    Hai semuanya, terima kasih ya atas masukannya. Aku tampung dan coba realisasikan ya. Tungguin penulis favorit kamu diwawancarai di #KetikaMenulis setiap hari Kamis jam 18:00. :D

  6. Indah says:

    Dear kak Alanda, masih bisa ikut ngasih usulan penulis juga kan? Hehe

    Sebenernya mau usul banyak, tapi beberapa udah disebut. Jadi aku mau usulin Tante Alberthiene E ya Kak.. terutama ttg proses dia dalam membuat satu karya biografi..hehe

    Makasih sebelumnya Kak, sukses terus ;)

  7. Niwa says:

    Ntah kenapa bagi gw bahasa Dee terlalu sulit dipahami >__< Cuma berhasil baca2 yang simpel kayak Filosopi Kopi hehehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *