Ibu, 10 tahun penjara, 10 milyar rupiah

Reading time: 9 – 15 minutes


Meet my heroes :-)

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu persatu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau. Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi.

Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century. Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.

Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya jarang bertemu beliau. Bahkan ketika saya berulangtahun ke 18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali, karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulangtahun tanpa Ibu.  Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.

Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak – agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa. Ibu sempat menjadi broker property, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibupun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional.

Saya lupa kapan… tapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka.

Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang?

Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.

Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.

Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Supir diberhentikan, dan hanya punya satu pembantu di rumah. Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.

I can live with that. I’m willing to work part time, do internships, and work my ass off to publish more and more books if it would help my parents, especially my mother. Although I don’t have my own car and I can’t shop luxurious stuff just like my friends do, I’m happy, and I’m willing to live like that. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan. Saya memilih beasiswa dari BINUS International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les Bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangkan kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi.

Awalnya pun berat bagi Ibu, tapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya – selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah mempercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal.

“Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua, karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan tandatangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens.

Oleh karena itulah, saya optimis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja, karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum.

Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.

Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti.

Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama. Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apapun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.

Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara maupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal.

Gayus – kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya – divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apapun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik?

Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.

“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan.

Saya mau ada Ibu di ulangtahun saya yang keduapuluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya – seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya.

Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisa yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikan seperti ini.

Saya mau Ibu ada di rumah, Indonesia. Tidak di penjara, tidak di tempat lain, tapi di rumah, bersama saya, Papa, Aisya, dan Fara.

Hari Kamis, Ibu akan membacakan pledooi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini.

Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.

Even if I have to let Indonesian Youth Conference go, even if I have to work hard 24/7 to live without having to ask for allowances from my mother… I’m willing to do so.

I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here.

I love you, Mum. I do… :'(


Comments

  1. hai alanda karinda jangqan lah putusasa

  2. alanda. for the 1st i would say sorry about mess that happened to your family.
    Saya sedikit banyak paham tentang masalah yang dialami ibu anda. saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai kasus tersebut dari segi hukum. Ibu anda di Bank Century adalah sebagai PEGAWAI bank tersebut, dan menurut asas hukum perikatan ada yang dinamakan TANGGUNG JAWAB SENTRAL, dimana segala kesalahan yang dilakukan oleh karyawan adalah merupakan tanggungjawab dari perusahaan. Jadi singkat kata dalam kasus Ibu anda yang telah melakukan kewajiban sesuai prosedur perusahaan dan pada akhirnya menjadi seperti sekarang ini adalah tanggung jawab dari perusahaan melalui dewan direksi nya. tidak ada sangkut pautnya dengan Ibu anda.
    Semoga membantu

    Regards,

  3. aria dwi putri says:

    saya mendengar berita kamu di salah satu stasiun TV swasta yang meliput tentang kamu,ibumu dan keluargamu .
    dan dari saat itu juga ,walau saya tidak mengetahui permasalahan “BANK” tersebut tp saya juga yakin kalau ibu mu tidak bersalah .
    saya yakin, ALLAH selalu memberi jalan pada orang yang baik dan mau berusaha.
    ayo semangat ..
    saya yakin IBU-mu pasti bangga sekali memiliki anak sepertimu .
    diatas langit masih ada langit.
    dan saya yakin diatas permasalah yang kamu alami skrg , masih banyak permasalahan yang lebih berat daripadamu diluar sana .
    dan mungkin kamu tidak mengetahuinya .
    tetaplah bersyukur kamu sudah bisa memnahagiakan ibu mu ,tidak seperti saya yang sampai sekarang atau mungkin sampai kapanpun tidak bisa membahagiakan ibu saya .
    tp sampai titik darah penghabisan saya akan menembus dosa saya kepada ALLAH dan kepada IBU saya ..
    suatu hari nanti …

    saya berdo’a .
    semoga kamu ,ibu dan keluargamu kuat untuk semuanya ..
    semoga IBU-mu mendapatan keadilan yang seadil-adilnya .
    semoga para petinggi-petinggi ini sadar akan butuhnya pemakaian HATI NURANI dalam mengarungi kehidupan ini,bukan hanya memakai UANG !!!

    salam persahabatan alanda , SEMANGAT !!

  4. I hope You stoic face of all this,,

  5. jujur we terharu baca kisah lu…. memang hukum di kita lebih memihak orang” berduit….dalam setiap doa yg we panjatin ma yg d atas,.,we doa in moga ibu bisa cepet” bebas..sabar yaaa bos,.,.,hukum tuhan pasti lebih adil,.,.,.

  6. Shinta Purple says:

    dear Alanda…
    tetap berjuang ya untuk Ibu kamu. saya yakin ini adalah ujian untuk kamu dan keluarga kamu dari Allah dan Allah tidak akan menguji hamba-Nya jika Ia tidak yakin dengan kekuatan yang dimiliki hamba-Nya. percaya dan terus berdoa, yakinlah kekuatan doa itu sangat dahsyat.kelak, pasti ada hikmah dibalik semua ini.
    i keep my pray for your mother..

  7. tizz says:

    ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR.
    ALLAH TIDAK PERNAH MENGHUKUM HAMBA-NYA YANG TIDAK BERSALAH.

  8. nugroho says:

    itulai indonesia,yang katanya negri hukum, tapi gak bisa menegakkan hukum,

  9. Hukum berjalan tertatih-tatih di belakang fakta. Dan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu sepertinya hanya wacana. Semoga segala kebaikan segera dan selalu di berikan oleh Allah SWT pada keluarga anda.

  10. begitu miris hati saya melihat dan membayangkan kehidupan nona,sebagai mahasiswa sospol,saya selalu menonton berita,namun pagi itu saya melihat di chanel trans tentang kehidupan nona yang mencoba mencari keadilan hukum yg menimpa ibu nona,saya salut dgn perjuangan nona,ingat nona,setiap hukum pasti ada kelemahanya…apalagi hukum kita adalah bekas warisan hindia-belanda,mungkin dengan mempelajari kelemahan hukum di indonesia nona bisa mengajukan banding dan menemukan titik terang untuk membebaskan ibu nona,semoga berhasil..AMIN

  11. yang tabah ya….semuanya pasti ada jalan keluar yang terbaik, dan nurut saya ibu kamu tidak bersalah..beliau hanya dipermainkan oleh orang-orang atas saja…serahkan saja pada yang berwenang mengusut kasus ini hingga jelas duduk perkaranya. dan jangan patah arang..Indonesia tidak salah,karena bumi Indonesia hanyalah saksi bisu saja, dia tidak bisa berkata-kata, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia pasti menangis saat ini karena banyak ketidak adilan yang terjadi dan itu semua terbentang dihadapannya, yang salah adalah oknum-oknumnya, manusia-manusianya yang berhati busuk, jadi marilah ikut berjuang demi menegakkan keadilan melalui segala kemampuan kamu.

  12. amazing story…everything have itz own way.

  13. arga tio says:

    tetap tabah dan semangat… saya mungkin 1 dari sekian banyak orang yang meyakini yang benar pastilah menang walau tidak di dunia….

  14. kagum…… hanya satu kata yang bisa saya ucapkan untuk seorang anak muda yang bernama alanda kariza… saya sampai penasaran mencari tahu siapakah anak muda ini.. sampai saya memfollow twitternya.. teruskan perjuanganmu de… berkarya adalah jalan untuk menebas kebobrokan.. salut

  15. Saya ikut prihatin membaca ini, sudah lama saya tahu Alanda menulis blog dan membuat tulisan ini tapi baru saat ini saya berani mencoba untuk membacanya. Bukan hal yang mudah untuk menghadapi ini, ini pasti berat sekali buat Alanda, sebagai anak perempuan terbesar di rumah dan usia masih muda, tapi percayalah bahwa Tuhan tidak akan memberi masalah atau cobaan melebihi kemampuan kita.

    Saya bantu doa selalu utk penyelesaian masalah ini, tetaplah belajar nak, tetap semangat ya, tetap membuat ayah ibu bangga pada dirimu dimanapun mereka berada saat ini, saya yakin ibu tetap berdoa untuk Alanda dan adik2 juga untuk ayah dan keluarga.

    Salam kenal dari saya selalu.

  16. really…you’ve had great story in your life. Tidak ada jalan lain setelah jatuh selain naik. Best wishes for you:) I envy you and I am crying..

  17. Samuel says:

    tetap semangat yaa alanda.
    saya turut prihatin dengan keadaan mu .
    sudahlah,kalo namanya hukum di indonesia bukan yang benar di bela.
    tetapi yang banyak uang dialah yang menang.
    kita doakan saja spy indonesia bangkit dari keterpurukannya.

    yang penting buat kamu, tetap berkarya dan tetap berprestasi.
    Semangat yaah..!

  18. fadillah rose says:

    itulah indonesia,yg dinamakan supremasi hukum,tdk akan pernah terwujud dengan tabiat dan sifat-sifat mafia peradilan yg sprt itu,pledoi ataupun sebuah perjuangan keras kadang tdk ada pengaruh apa-apa,semoga saja semuanya berjalan lancar,century adlh permainan politik,”mereka” lebih butuh duit drpd kita,anggap sj mereka ini miskin segalanya

  19. Aidil says:

    semuanya kita serahkan henya kepada Allah kak….

  20. don’t give up. Tuhan tidak akan memberikan pencobaan diluar kemampuan kita.
    I pray for your mom, I appreciate your mother as mine

  21. hidup yang penuh dengan lika-liku sebagai cobaan ini :”)

  22. salam, memang tidak nyaman ketika kita begitu ingin membahagiakan Ibu dan kita tidak mampu melakukannya, saya merasakan betapa tidak enaknya itu..

  23. Tuhan tidak akan memberikan pencobaan diluar kemampuan kita

  24. These pieces really set a standard in the inrutsdy.

Trackbacks

  1. […] sumber gambar koran Tribune dan blog Alanda Kariza […]

  2. […] dia) yang mana dia mengRT sebuah tweet dari @AlandaKariza yang isi nya link postingan blog dia ‘Ibu, 10 tahun penjara 10 milyar’ karena penasaran jadi saya […]

  3. […] http://alandakariza.com/ibu/ Tags: alanda, bank century, Sosial Kebangsaan […]

  4. […] adalah tulisan Alanda Kariza, mengenai nasib sial ibunya karena tertimpa kasus Bank Century […]

Speak Your Mind

*