Reading time: 9 – 15 minutes
Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu persatu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau. Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi.
Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century. Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.
Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya jarang bertemu beliau. Bahkan ketika saya berulangtahun ke 18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali, karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulangtahun tanpa Ibu. Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.
Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak – agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa. Ibu sempat menjadi broker property, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibupun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional.
Saya lupa kapan… tapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka.
…
Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang?
Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.
Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.
Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Supir diberhentikan, dan hanya punya satu pembantu di rumah. Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.
I can live with that. I’m willing to work part time, do internships, and work my ass off to publish more and more books if it would help my parents, especially my mother. Although I don’t have my own car and I can’t shop luxurious stuff just like my friends do, I’m happy, and I’m willing to live like that. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan. Saya memilih beasiswa dari BINUS International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les Bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangkan kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi.
Awalnya pun berat bagi Ibu, tapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya – selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah mempercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.
Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal.
“Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua, karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan tandatangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens.
Oleh karena itulah, saya optimis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja, karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum.
Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.
Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.
Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti.
Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama. Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apapun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.
Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara maupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal.
Gayus – kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya – divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apapun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik?
Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.
“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”
Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan.
Saya mau ada Ibu di ulangtahun saya yang keduapuluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya – seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya.
Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisa yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikan seperti ini.
Saya mau Ibu ada di rumah, Indonesia. Tidak di penjara, tidak di tempat lain, tapi di rumah, bersama saya, Papa, Aisya, dan Fara.
Hari Kamis, Ibu akan membacakan pledooi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini.
Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.
Even if I have to let Indonesian Youth Conference go, even if I have to work hard 24/7 to live without having to ask for allowances from my mother… I’m willing to do so.
I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here.
I love you, Mum. I do… :’(


February 16, 2011 at 10:30 pm
sabar dan ikhlas adalah senjata ampuh buatmu Alanda, saya setuju dgn apa yg kamu ungkapkan diatas, teruslah berjuang, kami teman-temanmu dari Bali senantiasa akan memanjatkan doa buat ibu khususnya yg sedang terbelit masalah dan buat keluarga Alanda semoga diberi ketabahan dalam menjalani cobaan hidup ini, Tuhan Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Segalanya, teruslah mohon kepada NYA agar diberikan jalan yang terang….
February 16, 2011 at 11:24 pm
“Tabahin hati kamu biar sesedih apapun, semoga do’amu menjadi nyata.”
February 17, 2011 at 6:33 am
Assalamualaykum warahmatullah,
ikut mendoakan untuk anda,
bersyukurlah bahwa anda masih diberi kekuatan oleh Sang Pemilik Jiwa dan Ruh Manusia…
Kekuatan untuk tetap berharap, kekuatan untuk meminta dukungan, dan di sisi lain dikaruniai dengan kekuatan untuk tetap melihat secara kritis..
Bersyukurlah anda masih bisa melihat beliau kuat n tersenyum untuk anda …walau dari balik jeruji… karena senyuman seorang ibu yang bangga melihat anaknya adalah berkah… senyuman itu berarti beliau telah ikhlas membukakan pintu surga yang berada di bawah telapak kakinya…. bersyukurlah “Sang Pemilik Jiwa dan Ruh Manusia”, masih memberi dia kesehatan dan kekuatan….untuk melihat anaknya bahagia..
Karena tidak ada hal yang lebih penting untuk seorang ibu daripada kebahagiaan anaknya…
(mama kudoakan engkau “disana” tidur nyenyak dan dilapangkan kuburmu….maaf kalau ini untuk ibu saya….)
Saya tidak mengajak anda untuk hanya bersyukur…. anda harus tetap bergerak karena “diam itu mematikan”….
tapi mulailah upaya ini dengan syukur yang ada di hati, agar anda bisa melihat ini secara jenih… agar anda tidak ikut2an cara “indondeso”….tapi “indonesia” yang dulu anda cintai, bukan indondeso yang sekarang anda benci…
Jangan pernah ragu, apabila logika dan hati anda mengatakan lakukanlah.. maka ucapkan bismillah dan lakukanlah…
hanya doa dan dukungan yang bisa saya kirimkan buat anda….
wassalamualaykumwarahmatullah…
February 17, 2011 at 3:52 pm
semangat ya mbak. mungkin ini cobaan untuk mbak, di balik musibah pasti ada hikmahnya, tetap melakukan yang terbaik, khususnya untuk keluarga , umumnya untuk makhluk hidup lainnya.
terus berkarya , jangan berhenti berharap, buatlah mbak itu sebagai panah untuk adik2 mbak..
semangatt hehehehehe
Lihat blog ya
February 17, 2011 at 8:07 pm
ya tuhan….tabah kan lah keluwarga alanda menerima semua cobaan.saya yakin kebenaran ada di keluwarga alanda….tuhan akan membukakan mana yang benar…dan yangsalah.ya alloh buka kan lah para jaksa hukum.pintu hati nya…wasalam…
February 17, 2011 at 10:15 pm
ITULAH INDONESIA NEGARA YANG KATANYA MENJUNUNG TINGGI SUPERMASI HUKUM TAPI SUPERMASI HUKUM UNTUK ORANG ORANG TERTENTU SAJA KARNA ITU KITA ORANG YANG TIDAK MEMILIKI APA APA INI AKAN JADI BULAN BULANAN OLEH PERMAINAN MAFIA DI INDONESIA INI HANYA SATU JALAN UNTUK MEMBERSIHKAN INI SEMUA YAITU REVOLUSI JANGAN MENYERAH SOBAT KAMI DI DEPAN MU MEMBELA SEMUA KEBENARAN INI
February 17, 2011 at 11:58 pm
Be strong, we pray may God bless you and your mother and family…….
February 18, 2011 at 2:48 am
semangat ya sayank?qmu mungkin lebih muda dari aq…pi aq yakin qmu pasti kuat jalanin ini…aq bisa bilang gini karena aq juga ngalamin hal berat gini…karena cow qu juga menjadi tersangka walo dalam kasus berbeda…hanya kita yang bisa menguatkan mereka…dan 1 hal yang pasti…hukum itu harus dibeli…qmu gag akan bisa menang walaupun ibumu tidak bersalah karena qmu tidak menggunakan uang…aq sudah mengalaminya…aq sudah hancur karenanya
February 18, 2011 at 3:34 am
saya berdoa buat ibunya alanda, smga kuat mnghadapi ujian itu… yakin saja kebenaran akan terungkap n kebenaran pst menang….
February 18, 2011 at 9:28 am
saya memahami yang anda rasakan..
February 18, 2011 at 9:40 am
saya memng tidak menganal dan tidak mengikuti kasus ini…
but. i think what is not possible in Indonesia.??
so kamu harus kuat,Yang ditas selalu memberikan yang terbaik buat seseorang.
ini mmbuktikan bahwa Allah sangat mencintai keluarga ini…
subhanallah…
kalian sangat bruntung…
smoga masalah ini tidak LARut.
dan anda beserta kelurga di beri hasil Akhir yang sangat Luar biasa bagus.
amienn…
semangat
wasslam
February 18, 2011 at 12:31 pm
Alanda Kariza….
Bersabarlah dan tetap berdoa, kami slalu mendukung anda.
maju terus, Tuhan pasti menghukum orang2 yang salah dalam mengambil keputusan tersebut.
Saya tidak mengerti banyak tentang hukum, tapi dengan membaca tulisan anda, siapapun pasti tidak akan terima ibunya akan diperlakukan tidak adil, namun percayalah semuanya pasti akan terbuka.
February 18, 2011 at 12:42 pm
semoga sabar dan tabah menjalani cobaan dari yang maha kuasa.
di mata yang maha kuasa yang benar pasti di tunjukan jalannya
karena Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambanya di balik cobaan pasti ada hikmah yg tersembunyi saya cuma bisa mendoakan kepada keluarga dan ibu mu agar cobaan ini cepat berlalu…
February 18, 2011 at 12:53 pm
kmu polos skali nak, hhuffft..
apapun yg akan jadi hasil akhir nanti, what doesn’t kill you makes you stronger..
February 18, 2011 at 1:12 pm
anak yg berbakti…saluttt..!!!!!
February 18, 2011 at 1:56 pm
hopefully, all problems passed away..
itulah sulitnya. prestasi di indonesia di bumbui oleh politik. yang kaya akan menang yg miskin tertindas. semangat teman. akan ada pengadilan akhirat yang bebeas dari hal sedemikian rupa.
February 18, 2011 at 3:53 pm
jangan berhenti berdoa, karena seiring waktu ada yang MAHA ADIL yang akan bicara dan bagi orang-orang yang di dzolimi akan diselamatkan oleh ALLOH SWT. ceritamu, saya alami sendiri sebagai orang yang di dzolimi. semoga ALLOH SWT melindungi umat-Nya yang bertaqwa, aamiin……
February 19, 2011 at 8:49 am
sabar yah,,,,,kami pasti sllu mendukungmu & mendoakanmu,, ingat! kebenaran itu pasti akan berakhir dengan kemenangan.
February 19, 2011 at 9:04 am
kami atas nama rakyat Indonesia, dengan ini kami akan terus mendukung dan membela saudara kami Arga Tirta Kirana di karenakan kami merasa ada kejanggalan atas kasus yang menimpanya. kami akan terus mendukung saudara kami Arga Tirta Kirana sampai saudara kami Arga Tirta Kirana mendapatkan hak-haknya.
February 22, 2011 at 10:29 am
Sai Ram…Semoga Ibu dibebaskan…
February 22, 2011 at 1:14 pm
yang sabar, sikapi dengan segala kesabaran,,, saya salut dengan anda…. nanti pasti anda temukan titik terang,, semangat jalani hidup,,,
February 23, 2011 at 6:38 pm
Sabar & tabah ya…….
February 24, 2011 at 2:41 pm
gilaaa nyentuh banget tulisan’y ampe nangis aq baca’y berjuang terus yaa alanda insyaallah kebenaran di atas segala’y
February 24, 2011 at 4:33 pm
yang sabar ya kak,,
semua pasti ada jalan keluarnya…
kita berdoa saja supaya ibu cepat bebas..
Amiinnn…..
February 28, 2011 at 7:36 am
Kasihan juga ya ente…
tapi tetap semangat saya doakan juga dari blog saya
February 28, 2011 at 8:41 am
Yang tabah y alanda. Tuhan maha adil dan senantiasa memberikan yg terbaik bagi umatny. Sy bantu doa. SEMANGAT! ^^
March 1, 2011 at 9:15 am
someday, you’ll be as taft as your mom… :)
March 2, 2011 at 8:13 pm
Alanda. Masih ada Allah SWT yang “jauh” lebih tau segalanya. Karena memang Allah Maha Tau. Percayalah bahwa masih sangat banyak orang yang berdoa untuk kebenaran dan keadilan untuk Ibu Anda. Insya Allah.
Amin.
March 3, 2011 at 11:19 pm
hidup adalah ujian
March 5, 2011 at 3:24 pm
sabar sabar sabar………..
March 13, 2011 at 6:53 pm
benar benar mengharukan. satu kata : Hukum Harus ditegakkan untuk para Koruptor !!!!
March 15, 2011 at 1:40 pm
all have time to be better :)
March 15, 2011 at 2:58 pm
Mdah-mudahan Alanda Kariza dan keluarga di beri ketabahan dan mendapatkan keadilan yang sebenarnya…
March 15, 2011 at 4:02 pm
You got friend who read Indonesian in Taiwan. Very touching real life. I wish all you goal can be reached. Pls try to go for FH school. I might able to help a little bit in scholarship if necessary.
Cheers
San mei
March 19, 2011 at 2:35 pm
dear alanda…
yang sabar ya…
ujian itu datangnya dari Allah..
dan akan kembali kepada Allah…
sabar dan bertawaqqal..
ini adalah ujian hidup bagi setiap hamba yg Allah tunjuk untuk dinaikan derajatnya..
Percayallah bahwa..
Semua pasti akan berakhir.. dan kebenaran akan selalu lahir dalam Kemenangan..
Bissmillah…
karena Kamu tidak sendiri..
Aku merupakan bagian dari ribuan orang yg mendukung dan mensupport kamu..
tetap semangat ya..
March 21, 2011 at 1:48 am
Ya Allah, buatlah yang benar menjadi benar. Tunjukkanlah kebenaran.
March 22, 2011 at 6:31 pm
Don’t lose your optimism. Be positive.
Saya tahu saya tidak mungkin mengatakan ‘I know how you feel’. Kind of cliche, don’t you think?
Saya bangga Indonesia memiliki pemuda seperti kamu.
I will pray for your mom. Things will be all right hopefully. InshaAllah.
March 24, 2011 at 10:05 am
Dear Alanda,
Saya atas nama keluarga tidak ada yang dapat saya lakukan selain merasa sangat prihatin dengan kasus yang menimpa ibu anda. Saya hanya bisa berdoa semoga kasus ibu anda cepat selesai dan ibu anda bebas dari segala tuntutan karena saya yakin bahwa ibu anda tidak bersalah dalam kasus yang membelit beliau sekarang ini.
Salam,
Sony
March 24, 2011 at 1:54 pm
I really feel sorry for what happened to your mother. I hope you and your family to have the courage and patience to go through everything. Keep up your good work and keep being an inspiration to others.
April 1, 2011 at 4:59 am
sabarya kariza….
April 1, 2011 at 2:12 pm
saya turut bersimpati……… atas musibah yang menimpah anda…….. percaya lah tuhan akan mengangkat derajat orang orang yang di zholimi. dan doa doa orang yang di zholomi sangant mustajab banyak banyak berdoalahh kepada tuhan……
April 4, 2011 at 9:25 pm
Mohon izin, beberapa tulisannya untuk dimuat di Majalah Cakra (cermin Peradaban) Bandung.
April 7, 2011 at 11:41 am
jd ikut sedih…ku jd bingung mna kawan dan lawan..mna orang yg baek dan mna yg tidak…jd makin bias aj…
April 9, 2011 at 7:57 am
What a terrible what happened on you…keep strong n patient
April 9, 2011 at 7:58 am
inilah kehidupan dunia..
April 12, 2011 at 11:29 am
The life stories of the writer are inspired me enough.I’m so proud of the stronger of the writer. She struggles hard to find justice in this country,to get happiness in her own life, especially for her family . Many efforts done to release her parents from the misery. She did positive activities to prove that her mother is not fault.She also so cares with other relatives such as her sisters.
I expect that the justice will come to her mother immediately.May his mother is not exactly fault in this case,Money Corruption.May the writer can get the good solution of the serious problem has been being had by her. Finally,As the Responser, I just Respect to the Clean n Good Government,Right Judicial;can differ clearly what’s the wrong and Right one.
April 14, 2011 at 3:34 pm
dont worry…Allah ngg tidur…yang benar pasti ada jalan keluarnya…percayalah..keep stroonger..ok
everything gonna be alraight…with the great expectation…:)
April 22, 2011 at 12:02 am
produk hukum di Indonesia memang sepertinya hanya mengenal satu kata…just du it…semoga anda tetap tegar menjalani semuanya..dan semoga ibu anda terbebas dari semua tuduhan
April 27, 2011 at 10:18 am
anggap itu semua cobaan,walaupun berat terasa…hadapi dngan senyuman…hidup emang kejam…tp lalui lah dgn rasa bersyukur…
:)
Uang,politik,hukum dan kekuasaan selalu jd topik utama di negara kita … Semua nya kotor…
April 27, 2011 at 10:38 am
Saya memang sangat prihatin dengan keadaan hukum di indonesia yang berlaku seperti hukum “RIMBA”..Mereka yang kaya bisa melakukan “apa saja”, sedangkan kita orang yang hanya hidup pas-pasan hanya dipandang sebelah mata hukum..”Kapan akan datang pahlawan keadilan yang tak memandang harta,tahta dan jabatan” yang akan membuka mata hukum yang ada di indonesia..
Apakah hukum di negara ini hanya berlaku bagi kita “RAKYAT KECIL” yang hanya di jadikan “KAMBING HITAM” Dan mereka yang kaya akan harta bisa bermain dengan hukum, berakhir dengan kebebasan ataupun hukuman yang ringan???? Huufffttt..(Aneh hukum di negara ini)??
Semangat selalu buat ALANDA dan FAMILY rakyat indonesia selau mendukung kalian…Thanks..