Ya, #AkhirnyaMilihJokowi!

Standard

Sejak awal, saya tahu bahwa saya tidak ingin bangsa ini dipimpin oleh pasangan Prabowo-Hatta dan orang-orang yang berada di belakang mereka. Namun, pada awalnya, saya juga belum yakin benar bahwa saya akan memilih Jokowi-JK. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memantapkan hati, hari ini saya berani bersuara bahwa saya #AkhirnyaMilihJokowi.

Ada banyak cara bagi kita untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Semua hal yang ingin kita ketahui bisa dengan mudah kita peroleh, baik melalui media seperti televisi, misalnya, maupun informasi seruas ibu jari yang kita baca dari layar kecil ponsel.

Saya pun berusaha untuk melakukan hal itu. Berdiskusi dengan orangtua, pacar, dan teman-teman dekat. Ada yang punya pandangan dan pengetahuan yang sama dengan saya, ada juga yang berbeda. Lambat laun, saya mengerti bahwa informasi yang dapat kita gali mengenai sepasang capres-cawapres beserta pihak-pihak yang mendukungnya tidak akan pernah habis. Beberapa di antaranya bahkan tidak dapat kita verifikasi kebenarannya. Belum lagi untuk hal-hal yang hanya dapat kita peroleh dari media – yang sayangnya, kadang bisa memihak dan mendukung kepentingan kelompok tertentu.

Ada begitu banyak informasi yang menumpuk di kepala saya. Begitu banyak opini dari orang-orang di sekitar. Begitu banyak rumor mengenai kandidat ini, kandidat itu. Begitu banyak kampanye baik yang sifatnya konvensional maupun modern. Begitu banyak tagar di media sosial, walaupun kandidat yang didukung sebenarnya hanya dua itu saja (termasuk yang saya gunakan di tulisan ini… #AkhirnyaMilihJokowi :p).

Tapi akhirnya, saya sadar bahwa memilih capres dan cawapres bisa jadi tidak melulu soal berapa banyaknya informasi yang kita peroleh. Terkadang, kita sudah mengetahui banyak hal tentang seseorang, tapi masih juga tidak cukup. ‘Fakta’ yang kita dengar, bisa jadi tidak bisa kita pastikan kebenarannya. Partai yang mengusung sepasang capres-cawapres, bisa jadi memiliki masalah internal sendiri, maupun kader-kader partai yang tidak jarang bermasalah. Informasi yang disampaikan kepada kita melalui media bisa jadi sudah dibelokkan sedemikian rupa agar artinya jadi berbeda.

Oleh karenanya, di pemilihan presiden kali ini, saya dengan naif berusaha untuk memilih individunya saja – dua individu untuk memimpin negara ini. Sedikit banyak berharap bahwa kepercayaan ini dapat mereka gunakan sebaik-baiknya untuk membuat Indonesia lebih baik dan lebih hebat, apapun yang partainya maupun koalisinya seru-serukan di belakang. Dua pribadi yang saya harapkan bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih aman, nyaman dan menyenangkan untuk ditinggali.

Memilih individu bisa menjadi suatu hal yang sifatnya sangat subyektif. Semakin hari, saya semakin yakin bahwa pada akhirnya, kita akan memilih pasangan capres dan cawapres yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang kita usung. Capres dan Cawapres yang dekat dengan kita, dekat dengan norma-norma yang kita percayai. Itulah mengapa saya memutuskan untuk memilih Jokowi.

Saya bertemu capres pilihan saya, Jokowi, untuk pertama kalinya di tahun 2011. Kami sama-sama menjadi pembicara di acara Indonesian Young Changemakers Summit yang digelar di Bandung. Kala itu, saya mengagumi pencapaian dan pengalaman beliau dalam membangun Kota Solo. Di panggung, dengan slides PowerPoint yang desainnya sederhana, Jokowi memaparkan cara-cara yang beliau gunakan untuk membuat Solo menjadi kota yang kita kenal saat ini.

Tanpa saya sangka-sangka, tiga tahun kemudian, sudah banyak hal yang berubah. Perubahan yang terjadi pada diri saya tidak signifikan: hanya berubah dari menjadi seorang mahasiswa, hingga menjadi pekerja kantoran seperti sekarang ini. Tapi, bagi Jokowi, tiga tahun ini bermakna besar – bahkan mungkin menjadi salah satu masa yang gemilang bagi beliau. Beliau sempat dipercaya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan sekarang dicalonkan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Suatu perubahan yang sangat signifikan, dan membuat saya jadi percaya banyak hal. Inilah alasan utama saya memilih Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019.

Selama lima tahun ke belakang, saya selalu punya kepercayaan bahwa siapapun kita, jika kita melakukan hal-hal yang kita suka lakukan, selama sifatnya positif, kita bisa memberikan kontribusi yang positif pula terhadap Bangsa Indonesia. Awalnya, saya pikir, paham ini mungkin tidak bisa kita aplikasikan ke dalam dunia pemerintahan dan politik, yang kadang penuh hambatan tak kasat mata seperti sistem politik maupun birokrasi.

Jokowi, dengan apa yang berhasil beliau raih, mengingatkan saya pada kepercayaan saya tersebut. Melihat Jokowi dan jutaan orang yang mendukungnya, saya jadi semakin percaya, bahwa siapapun kita, apapun latar belakang yang kita miliki, kita punya kesempatan yang sama besarnya untuk memiliki kontribusi positif terhadap Indonesia.

Bagi saya, Jokowi adalah simbol Impian Indonesia. Siapa yang pernah mengira bahwa seseorang yang memulai kariernya dengan mendirikan usaha mebel bisa dicalonkan (dan didukung) oleh begitu banyak orang untuk menjadi Presiden Republik Indonesia? Membaca profil Jokowi, mendengar Jokowi berbicara, selalu membuat saya merasa bahwa dia biasa-biasa saja. Tapi, justru karena dia yang “biasa-biasa saja” itu bisa mencapai begitu banyak hal dan dipercaya oleh begitu banyak orang, saya jadi punya harapan bahwa mungkin kita – yang selama ini hanya bisa mendukung Jokowi – mungkin saja memiliki kesempatan serupa suatu hari nanti.

Memilih dan memastikan kemenangan Jokowi, bagi saya, berarti menumbuhkan harapan. Kita, tidak peduli asalnya dari mana dan pendidikannya apa, punya kesempatan untuk memimpin Indonesia dengan cara kita sendiri. Seperti Jokowi.

Berapa banyak dari kita yang dulu percaya bahwa untuk jadi Presiden Indonesia, harus punya uang banyak karena berkampanye itu mahal? Berapa banyak dari kita yang dulu percaya bahwa untuk jadi Presiden Indonesia, mungkin harus punya sanak saudara yang pernah berkuasa, atau justru harus datang dari kalangan militer?

Memilih dan memastikan kemenangan Jokowi, bagi saya, berarti menumbuhkan harapan. Bahwa, siapapun punya kesempatan untuk memimpin bangsa ini. Tidak harus sekolah di luar negeri bertahun-tahun. Tidak harus punya uang banyak maupun harta yang melimpah. Tidak harus mendirikan partai sendiri. Tidak harus bergabung di militer dan jadi jenderal. Tidak harus punya kerabat atau keluarga yang sudah terlebih dulu memiliki posisi kunci di dunia politik.

Jokowi mencontohkan bahwa untuk bisa dipercayai untuk memimpin Indonesia, terkadang yang harus kita punyai hanyalah kemauan untuk bekerja keras, dan keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Beliau membuat saya percaya bahwa dua modal itu bisa jadi lebih dari cukup.

Jokowi menumbuhkan harapan itu: bahwa anak muda bisa punya kesempatan untuk memimpin Indonesia, sama seperti kesempatan yang ia punya saat ini.

Semoga kita semua yang berada di belakangnya mampu untuk memastikan ia punya kesempatan untuk memberi kita kesempatan yang sama di masa depan.

Salam 2 Jari. :)

Terima kasih, Adit, atas diskusi-diskusinya yang membuat pikiran dan pengetahuan saya soal politik jadi kaya.
 
Disclaimer: Saya tidak tergabung dalam tim sukses maupun relawan Jokowi-JK. Tulisan (dan tweet-tweet saya melalui akun @AlandaKariza) murni merupakan ekspresi pribadi saya dan tidak merefleksikan/mewakilkan pandangan tempat saya bekerja maupun organisasi di mana saya bernaung.
 

2 thoughts on “Ya, #AkhirnyaMilihJokowi!

  1. Tulisannya bagus mbak, saya suka gaya penulisannya, mengalir dan enak dibaca, ditunggu tulisannya yang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *