Alanda Kariza

Eliminating the Limits

Laskar Pelangi

| 4 Comments

Reading time: 3 – 4 minutes

Laskar Pelangi, diangkat dari novel best-seller karya Andrea Hirata, akhirnya dirilis pada tanggal 25 September 2008. Film ini memiliki pesona yang sama seperti film-film Miles Films sebelumnya, Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta?. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah penonton yang membludak seperti yang terjadi pada rilis kedua film tersebut. Saya sampai tidak berhasil nonton di hari pertama karena kehabisan tiket, dan akhirnya menonton di hari kedua.

Riri Riza, yang duduk di bangku sutradara, berhasil merangkum satu buku ke dalam bentuk film. Saya rasa, pengemar novel Laskar Pelangi tidak akan kecewa ketika menonton filmnya. Sebab, Riri mencantumkan seluruh bagian penting (dan detil) dari novel. Dari pertemuan Lintang dengan buaya, pertemuan-pertemuan Ikal dengan (tangan) A Ling. Keindahan Belitong pun disuguhkan dengan sinematografi yang baik. Belum lagi screenplay by Salman Aristo yang sanggup membuat kita tersenyum, tertawa, dan menangis bersama sepuluh anggota Laskar Pelangi.

Untuk masalah akting, tentu saja kita tidak akan meragukan kualitas aktor dan aktris kawakan yang mendukung film ini. Cut Mini dan Ikranegara bermain dengan luar biasa. Kita sudah mengenal akting Cut Mini lewat film-filmnya terdahulu. Saya belum pernah menonton film Ikranegara, tetapi pernah melihat penampilannya membacakan puisi, yang memang luar biasa. Begitu pula dengan pemain-pemain lainnya yang juga sudah senior seperti Rieke Diah Pitaloka, Mathias Muchus, Jajang C. Noer, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Ario Bayu, Slamet Rahardjo, Rifnu T. Wikana, Robby Tumewu dan Alex Komang. Akting newcomers asli Belitong pun patut diacungi jempol. Pemeran Ikal (Zulfanny), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Verrys Yamarno) yang on spotlight berakting baik, dan membuktikan bahwa mereka pantas bermain dalam film ini.

Soundtrack film digarap dengan baik oleh musisi-musisi muda yang sedang naik daun. Dari Nidji (Laskar Pelangi), Sherina Munaf (Ku Bahagia), Gita Gutawa (Tak Perlu Keliling Dunia), Meng ‘Float’ (Waltz Musim Pelangi), Ipang (Sahabat Kecil), Garasi (Sahabat), Gugun and The Bluesbug (Mengejar Harapan), dan Netral (Lintang).

Namun, Laskar Pelangi pun tidak luput dari beberapa kekurangan. Saya sangat menyayangkan ketika menyadari bahwa hanya cerita Ikal, Lintang dan Mahar dari kesepuluh anggota Laskar Pelangi yang ditampilkan. Mungkin ini yang namanya fokus cerita, tetapi sebenarnya saya menunggu-nunggu cerita tentang Kucai, Sahara, Trapani, dan lainnya, meski sedikit. Apalagi Trapani, yang akhir kisahnya tragis, dan saya tunggu-tunggu untuk ditampilkan di film, sudah siap dengan airmata. Di akhir film, Ikal pun hanya bertemu dengan Lintang, tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Padahal, Laskar Pelangi bukanlah cerita tentang Ikal maupun Lintang, tetapi bagaimana semua teman Ikal mengubah hidupnya sampai-sampai Ia berhasil menerima beasiswa ke Sorbonne. Sangat disayangkan. Saya sedikit kecewa sebenarnya, hehehe.

Mengantri panjang di depan loket tiket? Believe me, worth it! Stop reading this, please go to the nearest cinema, people.


4 Comments

  1. gue dpt di hari pertama cuma duduk paling depan
    kurang puas nih, mau nonton lagi!

  2. mungkin karakter lain, akan tampil di sequelnya, hehe, atau sinetronnya

    Maybe…

  3. hufff, sayang masih belum nonton, kaga ada waktunya dih nih

    Ayooooo nontoooon!

  4. Gmn cih cr DOWNLOAD novel LASKAR PELANGI q lg pgn bgt bc novelny.

    Beli aja di toko-toko buku. Support industri kreatif Indonesia ya :-)

Leave a Reply

Required fields are marked *.

*