Masih ada sisa satu semester sebelum menghadapi the damned Ujian Nasional. Beberapa bulan belakangan, setelah the best summer ever di Bali, saya dan teman-teman sering sekali mendiskusikan masalah kuliah. What would we do for a living? Which major and uni would we choose for college? Sebagian besar teman saya masih bingung dan belum memilih. Bahkan, dua sahabat terdekat saya tidak mau lagi membicarakan masalah kuliah.
Menjadi senior, menjadi anak berusia 17 tahun–menurut saya–adalah menjadi dewasa. Menjadi dewasa adalah mengetahui yang mana yang baik dan salah, yang mana yang harus ditempuh. Menjadi dewasa adalah belajar mengambil keputusan, mengambil resiko, menjadi seseorang yang hidup.
I am not going to write self-help paragraphs or something. I hate self-help books. When I go to bookstores and see such things, I always want to say, “Hey, I can help myself. This is my life. Your words DO NOTHING, and your words DO NOT HELP.“
Dulu, saya adalah orang yang mementingkan perasaan orang lain. Apa yang orangtua saya mau, apa yang pacar saya mau, apa yang teman-teman saya mau. Apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka bilang. Dulu, saya adalah orang yang memikirkan terlalu banyak hal kecuali perasaan saya sendiri. Saya pernah berpikir, it’s okay to get hurt as long as my beloved ones are happy. For once in my life, saya merasa saya harus melakukan apa yang saya mau lakukan!
Going to college is the perfect time to make a choice, take honest decisions, so we’ll live well. Hal yang paling penting dalam memutuskan sesuatu, saya rasa, bukanlah mengambil the best decision, tetapi the most honest decision. Keputusan yang paling baik belum tentu yang paling jujur. Jurusan di kuliah nanti adalah sesuatu yang sangat penting bagi masa depan kita. It’s like choosing something you want to do for the rest of your life and that’s big!
Dua tahun lalu, saya terobsesi untuk kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di ITB atau UPH. Sedikit sekali orang yang mendukung saya ketika itu. Mereka bilang, saya sebaiknya memilih jurusan yang lebih serius seperti Kedokteran, Hukum, Teknik, dsb. Saya benci kata-kata tersebut. Mereka bilang, desain bisa lewat kursus! Apa sih beda menjadi copywriter dan akuntan? Apa bedanya menjadi sutradara iklan dan dokter? Profesi apapun adalah profesi yang baik and must be taken seriously. Saat itu, saya menyerah. Mereka minta saya jadi dokter, saya nurut. Saya berhenti menggambar, berhenti bermain dengan Photoshop, berhenti berharap akan ikut bimbingan belajar Villa Merah supaya bisa kuliah di Bandung. Saya tidak lagi membuka catatan saya yang berisi rincian program studi DKV di FSRD ITB.
One day, I discussed this with my (coolest uncle). He said, “Kamu mau jadi dokter dan ambil kursus desain? Berarti kamu akan menjalani dua-duanya setengah-setengah. What is your passion? Art? I have faith in you. You got the potential. You have everything you need. Writing skills, creativity… I will train you. You can be the best director in Indonesia.”
Itulah titik bangkit saya. Saat itu, saya mulai memikirkan apa yang saya inginkan, saya cita-citakan, saya sukai. Apa yang saya mau! Saya rasa, semua orang bisa sukses apabila mereka menjalani apa yang mereka mau. Pernah dengar quotation, “Choose the job you love and you will never need to work for the rest of your life.“?
Saya selalu bangga kepada teman-teman saya yang mengejar impian-impian mereka, meskipun mereka harus mengorbankan keinginan orang lain (orangtua, misalnya). Walaupun mereka harus melawan arus.
-
Anangga berhenti kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta untuk menjadi koki. Sekarang, ia sudah selesai menjalani
Professional Cooking Course di
Chezlely Culinary School, sudah mendapat beberapa
job offers, yang ditolak karena masih mau ambil sekolah
pastry.
-
Econ tidak menyelesaikan SMA karena berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA).
-
Naren tidak ikut ujian akhir semester untuk bertanding baseball di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008.
I have made my decisions. So what are yours? Remember the best quote from the movie Dead Poets Society?
Carpe, carpe diem. Seize the day, boys. Make your lives extraordinary.
Recent Comments