#KetikaMenulis: Salman Aristo

Saya pertama kali mengenal Mas Aris, panggilan akrab Salman Aristo, ketika terlibat pada pembuatan film Queen Bee di tahun 2009. Saya pun segera mencari tahu apa saja karya-karya beliau, dan sejak berkenalan, saya selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan film yang Mas Aris garap. Sebenarnya, tidak banyak film Indonesia yang berhasil memiliki kesan di hati setelah saya menontonnya. Namun, film-film besutan Mas Aris, baik sebagai produser, sutradara, maupun tentunya penulis, seperti Catatan Akhir Sekolah, Garuda Di Dadaku, Hari Untuk Amanda, dan tentunya Jakarta Hati, selalu menjadi film yang berkesan pagi saya. Dan mungkin juga bagi kamu.

Saat ini, Salman Aristo sedang menulis skenario biopic Mohammad Hatta.

Kamu juga bisa belajar secara langsung dengan Salman Aristo tentang bagaimana cara menulis skenario film dengan mendaftarkan diri di workshop Skenario Dasar (Film) yang diselenggarakan oleh PlotPoint.

Dari begitu banyak film yang telah Mas Aris buat dan skenarionya Mas Aris tulis, mana film yang menjadi favorit?

Sebenarnya, masing-masing skenario punya efeknya sendiri buat gue. Jadi, rasanya semuanya penting. Tapi, mungkin Laskar Pelangi memberikan impact yang luar biasa di luar film, karena film itu mengingatkan gue betapa cerita memang punya kekuatan luar biasa. Berikutnya Hari Untuk Amanda, Garuda Di Dadaku, dan Catatan Akhir Sekolah. Asyik menulisnya dan hasilnya juga tembus ekspektasi gue.

Bagaimana Mas Aris biasa menulis? Apakah ada waktu dan tempat yang lebih disukai untuk menyelesaikan sebuah tulisan?

DSC_0420

Gue melatih diri gue untuk bisa menulis kapan dan dimana saja karena gue mengawali karier menulis sembari disambi kerja yang lain. Selain itu, karena gue pernah divonis hiperaktif, gue justru senang dengan tempat ramai. Tempat ramai ‘memaksa’ gue untuk bisa fokus. Kalau sepi, konsentrasi gue malah sering kemana-mana. Gue harus ditemani sesuatu. Bisa musik, gitar atau lainnya. Nah, karena terbiasa nulis di mana saja, gue nyaris nggak punya meja. Senang pindah-pindah. Tiap tempat bisa ngasih impulse kreatif ke gue. Intinya, gue perlu kedinamisan.

Apa saja alat yang Mas Aris gunakan untuk menulis?

Laptop. Moleskine. iPad mini.

Apakah Mas Aris biasa mendengarkan musik ketika menulis?

Seringnya begitu. Gue anak 90-an. Mentingin lirik. Seneng yang folky atau balada tapi ‘kenceng’ secara isi. REM, U2, Pearl Jam. Iwan Fals dan turunannya.

Bagaimana “hari menulis” Mas Aris biasanya berjalan?

Biasanya tergantung deadline project. Gue ngukur dari situ. Butuh berapa hari. Dan gue menulis di sela segala kegiatan yang lain. Tapi paling penting gue mengenali cara gue menghabiskan 24 jam gue. Gue atur menulis dengan deadline sebagai patokan. Tapi meski nggak matok waktu, paling sering itu pagi ke siang atau malam gue menulis.

Ketika menyelesaikan sebuah skenario atau tulisan, apa saja tahapan atau proses yang biasanya Mas Aris lalui?

Gue selalu percaya bahwa penulis itu harus menguasai tehnik atau formula yang dia percaya. Nah, gue punya itu. Dengan sedisiplin mungkin gue melakukan tiap tingkapnya. Bikin premis dulu. Alur. Sequence, dll.

Gue juga mengimani writing is rewriting. Jadi proses dan tahapan amat penting buat gue.


#KetikaMenulis adalah serial tulisan yang berisi wawancara dengan penulis-penulis terkemuka di Indonesia, mengupas bagaimana mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah tulisan, termasuk kebiasaan-kebiasaan para penulis ketika menulis. #KetikaMenulis diterbitkan setiap hari Kamis di alandakariza.com.  Ada nama penulis kamu kagumi dan inginnya bisa kita wawancarai? Cantumkan di kolom Komentar di bawah ya.

6 thoughts on “#KetikaMenulis: Salman Aristo

  1. Adisya says:

    Wawancara Sitta Karina dong, mbak. Aku penasaran banget gimana klan Hanafiah bisa terbentuk jd tokoh2 novelnya, yg satu sm lain saling berkaitan. Thanks!

  2. Iluk Reskiyana says:

    Marissa Anita, Kak. I would like to know about Her ketika Dia menulis dalam Blog nya.
    Thankyou

  3. dela says:

    Mau request Sitta Karina, tapi udah ada yang duluan, hehe..

    S Mara GD. Generasi jadul sih, tapi udah ngga terhitung lho serial detektif polisi Kosasih Gozali yang dia terbitkan sampai saat ini. I really enjoy them. :)

  4. Sofy Nito says:

    Bernard Batubara dan Ayu Utami, saya rasa itu duet yang maut kak. Mereka berdua luar biasa. Saya penggemar setia blog kakak dan buku-buka Kak Alanda. Sukses terus kakak, jangan pernah berhenti berkarya ya! Boleh banget mampir ke blog saya ya kak. Thank you :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *