#KetikaMenulis: Windy Ariestanty

Standard

Saya pertama kali bertemu dengan Windy Ariestanty pada tahun 2010, ketika GagasMedia mengajak saya untuk menulis di bawah naungannya. Kami berbincang soal ide-ide saya, dan akhirnya tercetus ide untuk menulis naskah yang dua tahun kemudian diterbitkan dengan judul DreamCatcher. Sejak saat itu, berdiskusi dengan Mbak Windy selalu menjadi kegiatan yang saya tunggu-tunggu, karena ia selalu mengajak saya untuk melangkah mundur dan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda–melihat segala sesuatunya dengan lebih “lengkap”. Begitu juga dengan tulisan-tulisannya, yang selalu membawa kita untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Anda telah menerbitkan sejumlah buku dan tulisan lepas. Karya mana yang menjadi favorit Anda sampai saat ini, dan mengapa?

ini pertanyaan yang sangat sulit untuk saya jawab. ibarat orangtua ditodong dengan pertanyaan anak mana yang paling disayanginya. jawaban saya tidak ada. saya menyukai semua proses menulis yang saya alami dalam melahirkan karya saya. setiap buku atau karya yang saya tulis mengajarkan hal yang berbeda-beda, tidak bisa dibandingkan. tema berbeda, kesulitan berbeda, proses pengendapan berbeda, bahkan proses editingnya pun berbeda.

tapi kalau ditanya buku mana yang memakan waktu paling lama saya kerjakan, maka jawabannya adalah memoar ibu robin lim, cnn hero 2011. saya menghabiskan waktu 2 tahun lebih untuk menyelesaikannya. ini kali kedua saya mengerjakan memoar dan tantangan pada buku memoar kedua saya ini, berbeda jauh dengan pada buku pertama yang bisa saya selesaikan dalam 3 bulan saja.

Boleh dibilang, Anda merupakan salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif, ditambah dengan pekerjaan sebagai editor. Kapan biasanya Anda menulis? Apakah Anda lebih senang menulis di pagi atau malam hari?
waktu favorit menulis saya adalah tengah malam dan pagi hari. tengah malam hingga pukul 3-4 pagi, lalu saya tidur, bangun, lari pagi, lalu melanjutkan menulis hingga pukul 8 atau 9 lalu berangkat ke kantor dan beraktivitas lainnya. namun, pada dasarnya saya bisa menulis kapan pun ketika dibutuhkan. bila sedang ‘on fire’, saya bisa menulis dua hari nonstop. berhenti hanya untuk mandi dan makan. lalu tidur sebentar, dan menulis lagi.

ini biasanya terjadi ketika dalam seminggu penuh saya kesulitan menemukan waktu untuk menulis karena kesibukan atau kelelahan atau kemalasan saya. maka pada sabtu-minggu saya akan masuk ke ‘dunia’ saya dan tinggal di sana selama 2 hari penuh. seolah menebus malam-malam sebelumnya yang tak digunakan untuk menulis.

kalau senin-jumat saya punya waktu menulis, maka sabtu-minggu adalah hari libur saya. saya akan bermain dan tak melakukan apa pun yang berkaitan dengan menulis.

Di mana Anda sering menulis?
di mana saja dan dalam kondisi apa saja. saya tak pernah punya tempat khusus untuk menulis. kalau sedang deadline–yang mana deadlinenya saya sendiri yang menentukan–saya bisa menulis di mana saja, tak peduli itu tempat ramai atau sepi.

kalau di tempat yang sangat ramai, saya biasanya menggunakan pelantang telinga (headset), tapi tidak dengan menyalakan musik. hanya untuk membangun jarak saja dan membuat fokus saja. kalau tempat sepi, biasanya tanpa pelantang telinga. kenapa tidak ada lagunya, karena pada dasarnya sambil menulis, telinga saya juga mencerap apa yang terjadi di sekitar. itu untuk melatih sensitivitas dan fokus saja.

bahkan, saya tidak punya meja kerja khusus di rumah ataupun di kantor karena saya lebih banyak berada di luar ruangan. meja kerja di kantor saya bersih tanpa ornamen atau pernak-pernik. hanya ada kalender yang berisi jadwal ini dan itu serta gelas minum. di rumah, saya hanya punya meja pangku untuk laptop. ini untuk memudahkan saya tidak terikat pada satu tempat yang saya anggap menyamankan saya untuk bekerja atau menulis.

Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis? Musik yang seperti apa?
kadang mendengar dan kadang tidak. kalau sedang di rumah, kadang saya mendengar. tapi kalau di tempat umum, pelantang telinga itu tidak mengeluarkan suara apa pun.

musik yang saya dengar sangat random. saya tidak punya musik khusus untuk menulis. saya bisa mendengarkan jazz, rock, grunge, sampai musikalisasi puisi. bahkan bisa sekadar mendengar rekaman suara alam saja.

tapi saya memang punya kecenderungan mendengarkan dan merespons lagu-lagu yang secara lirik kuat.

Bagaimana Anda biasanya menulis?
alat-alat yang saya gunakan antara lain laptop, losel, tablet, buku catatan, dan perekam suara. voice note bisa sangat membantu kalau ada ide muncul tapi nggak sempat nyatet atau nulisnya, tinggal rekam, nanti didengarin lagi dan dituliskan.

selain itu, saya menulis dengan kondisi bersih. bisa sudah mandi atau kalau tidak mandi, saya akan menggosok gigi saya berkali-kali (minimal 3 kali), mengganti pakaian saya, dan menulis. buat saya ini penting.

saya bisa juga terbangun dan langsung mencari laptop saya lalu menulis sampai saya merasa perlu berhenti. ketika berhenti ini, saya akan mandi atau menggosok gigi lebih dari sekali, mengganti baju, lalu lanjut menulis.

dari semua itu yang terpenting adalah menggosok gigi (minimal 3 kali dalam sekali pergi ke kamar mandi). begitu pun kalo lagi stuck, saya hanya perlu ke kamar mandi dan menggosok gigi lalu berdiam sebentar di wc. ;p

berkenaan dengan struktur kepenulisan, buat saya merumuskan premis itu penting. saya akan selalu berangkat dari premis, membuat outline, lalu mulai menulis.

buku yang saya buat tanpa menggunakan outline adalah kala-kali. itu bagian dari eksperimen proses menulis saya.

2 thoughts on “#KetikaMenulis: Windy Ariestanty

  1. Hi everybody, here every one is sharing these experience, therefore it’s pleasant to read this blog, and I used
    to go to see this weblog daily.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *